Minggu, 02 November 2014

Ketika Tuhan Disingkirkan

Harun Yahya dalam bukunya The Disasters Darwinism Brought to Humanity (Al-Attique Publesher Inc.) menggambarkan berbagai bencana kemanusiaan yang ditimbulkan oleh Darwinisme, di antaranya berupa rasisme dan kolonialisme. Ketika ilmu dijauhkan dari tuntunan wahyu; ketika ilmu diabdikan untuk memenuhi hawa nafsu; maka bencana kemanusian tak mungkin terhindarkan.

Peradaban Barat, menurut sejarawan Marvin Perry, ialah sebuah peradaban besar sekaligus sebuah drama yang tragis(a tragic drama). Peradaban ini penuh kontradiksi. Satu sisi ia memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan bagi kemudahan dan penyediaan fasilitas hidup.  Namun pada sisi lain peradaban ini juga memberikan kontribusi besar terhadap kerusakan alam semestra (Marvin Perry, Western Civilization a Brief History, 1997)

Di zaman modern ini pula manusia telah membelanjakan secara gila-gilaan alat-alat pembunuh masal. Sekadar contoh, Jeremy Issacs dan Taylor Downing, dalam bukunya, Cold War, memaparkan antara 1945-1996, sekitar 8 triliun USD ($ 8.000.000.000.000) biaya dikeluarkan untuk persenjataan di seluruh dunia. Puncaknya, persediaan nuklir mencapai 18 mega ton. Padahal seluruh bom yang diledakkan  pada perang dunia II ‘hanya’ 6 megaton.

Dunia kedokteran modern mengenal paraktik vivisection (secara harfiah berarti memotong hidup-hidup) yaitu cara menyiksa hewan hidup sebagai dorongan bisnis untuk menguji obat-obatan agar dapat mengurangi daftar panjang segala jenis penyakit manusia (Pietro Croce, Vivisection or Science: An Investigation into Testing Drugs and Safeguarding Health, 1999). Praktik ini selain tidak beretika keilmuan juga “tidak berperikemanusiaan” juga menyisakan pertanyaan intrinsik tentang asumsi atas tingkat kesamaan uji laboratorium hewan dan manusia yang mengesahkan eksplorasi hasil klinis dari satu ke lainnya.

Dalam dunia pertanian modern, penggunaan bahan-bahan kimia seperti pestisida, herbisida, pupuk nitrogen sintesis dan lainnya telah meracuni bumi, membunuh kehidupan margasatwa bahkan meracuni hasil panen dan mengganggu kesehatan para petani. Pertanian yang sebelumnya dikenal dengan sebutan agrikultur (kultur: suatu cara hidup saling menghargai, timbal balik komunal, dan kooperatif, bukan kompetitif) kini berkembang dengan istilah agribisnis, sebuah sistem yang memaksakan tirani korporat untuk memaksimalkan keuntungan dan menekan biaya, menjadikan petani/penduduk lokal yang dahulu punya harga diri dan mandiri lalu berubah menjadi buruh upahan di tanah mereka sendiri (Adi Setia, Three Meanings of Islamization Science Toward Operasionalizing Islamization of Knowledge, 2007)

Ketika wahyu disingkirkan maka akal dituhankan. Rasionalisme menjadi pedoman. Gagasan rasionalisasi dapat ditelusuri dari seorang bernama Rene Descartes (w. 1650). Ia digelari sebagai bapak filsafat modern. Dia lah orangnya yang memformulsikan sebuah prinsip: cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada). Descartes tidak saja mengukur suatu kebenaran dengan rasio tapi juga mengakui eksistensi seseorang hanya bagi mereka yang menggunakan rasio sebagai asas tingkah lakunya.

Pendapat  Descartes bahwa sumber ilmu adalah rasio dan panca indera diikuti oleh para filosof lain seperti Thomas Hobbes, Benedict Spinoza, John Locke, JJ Rousseau, David Hume, Immanuel Kant, Hegel, Bertrand Russel, Emilio Betti, Gadamer, Jurgen Habermas, dan lain-lain. Selanjutnya pendapat ini melahirkan pembaratan (westernisasi) yang menekankan dasar ilmu pengetahuan adalah rasio dan panca indera.

Pendapat ini makin membuat peran akal menguat sehingga menafikan peran wahyu dan melahirkan ide-ide atheis. Immanuel Kant menyatakan bahwa segala hal yang berbau metafisika tidak mungkin mencapai kebenaran karena tidak disandarkan kepada panca indera. Menurut Kant di dalam metafisika tidak terdapat pernyataan-pernyataan sintetik-a priori seperti yang ada dalam matematika, fisika dan ilmu-ilmu yang berasar fakta empiris (Justus Harnack, Kant’s Theory of  Knowledge , 1968, hal 142-145).

Ide Kant ini berpengaruh pada filosof lain, di antaranya Hegel yang melahirkan filsafat dialektika, tesis-antitesis. Intinya, pengetahuan itu selalu berproses. Tahap yang sudah dicapai, disangkal atau didebat untuk melahirkan tahap baru. Sebuah tesis dibuat antitesisnya untuk melahirkan sintesis. Jika yang menyangkal (antitesis) kalah kuat dengan yang disangkal (tesis) maka tesis tersebut tetap dipertahankan dan menjadi sintesis. Ide ini kemudian melahirkan paham atheisme yang diusung oleh Ludwig Feurbach (1804-1872) dan Karl Marx (w. 1883) Marx berpendapat bahwa agama adalah candu. Agama adalah faktor sekunder, faktor primernya adalah ekonomi (Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, 2001, hal 71-76).

Selain Karl Marx, ilmuwan barat yang berpengaruh luas dalam dunia ilmu pengetahuan adalah Charles Robert Darwin (w. 1882). Ia menulis sebuah buku yang berjudul The Origin of Species yang menyatakan bahwa Tuhan tidak berperan dalam penciptaan. Makhluk hidup dapat hidup dan bertahan karena faktor adaptasi pada lingkungan. Menurutnya, Tuhan tidak menciptakan makhluk hidup. Semua spesies yang berbeda sebenarnya berasal dari satu nenek moyang yang sama. Spesies menjadi berbeda antara satu dengan yang lain disebabkan karena kondisi-kondisi alam (natural condition) (Charles Darwin, The Origin of Species, 1985, hal 437).

Lalu berbagai disiplin ilmu lain yang atheistik juga bermunculan. Bidang psikologi digemakan oleh Sigmund Freud dengan teori psikoanalisanya. Lucunya, psikologi modern, justru menjauhkan ilmu itu dari objek kajian utamanya, yaitu “jiwa” manusia itu sendiri. Dalam bidang sosiologi, positivisme August Comte berhasil menggusur peran agama. Di bidang politik,, Machiavelli mneggulirkan politik tanpa moral. Bahwa politik adalah sekedar mekanisme untuk merebut atau mempertahankan kekuasaan. Di lapangan filsafat ada Friedrich Nietzche (1884-1990) dengan semboyannya “God is dead”.

Dalam bukunya, A History of God (1993), Karen Armstrong menulis sebuah bab berjudul “Does God have a Future ?”

Di Barat, gugatan terhadap eksistensi dan peran Tuhan dalam kehidupan, terus dikumandangkan. Jean-Paul Sartre (1905-1980) bertahan dengan pendapatnya, “even if God existed, it was still necessary to reject him, since the idea of God negates our freedom”.


Jadi, ide tentang Tuhan dianggap mengganggu manusia. Maka, para pemuja kebebasan berkomitmen: singkirkan Tuhan, agar kebebasan kita tak terganggu; agar kita sepuas-puasnya melampiaskan hawa nafsu. Padahal, Al-Qur’an justru menjelaskan: “ingatlah dengan mengingat Allah hati menjadi tenang!” (QS 13:28).

Arti Berfikir Logis dan Argumentatif


By, Hamid Fahmy Zarkasyi

Pendahuluan
Dalam tradisi intelektual Islam manusia didefinisikan sebagai hewan yang berfikir (hayawan natiq). Berfikir logis dan argumentatif merupakan prasyarat dalam pencarian ilmu pengetahuan. Artinya dalam mencari ilmu pengetahuan sesorang harus mengikuti aturan berpikir atau hukum-hukum berpikir yang terangkum dalam ilmu yang disebut logika (mantiq) atau qiyas.

 Secara etimologis logika berasal dari kata logos yang mempunyai dua arti 1) pemikiran 2) kata-kata. Jadi logika adalah ilmu yang mengkaji pemikiran. Karena pemikiran selalu diekspresikan dalam kata-kata, maka logika juga berkaitan dengan “kata sebagai ekspresi dari pemikiran”.

 Sementara itu qiyas berarti ukuran. Jika dikaitkan dengan pemikiran maka qiyas berarti ukuran kebenaran berpikir.

Namun, secara definitif logika berarti “ilmu tentang hukum yang menentukan validitas berpikir”. Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana hukum berpikir yang valid, akan dijelaskan definisi logika tersebut.

Logika sebagai Ilmu Normatif
Ilmu atau sains adalah pengetahuan; tapi perlu dipahami bahwa semua sains adalah pengetahuan, dan semua pengetahuan tidak berarti sains. Seseorang bisa tahu nama-nama berbagai anggota tubuh manusia, tapi pengetahuannya itu tidak mesti ilmiyah (saintifik). Anda mungkin tahu tentang tumbuh-tumbuhan dan benda-benda di angkasa, tapi pengetahuan anda mungkin tidak saintifik.

Sains, oleh karena itu tidak semata-mata pengetahuan, tapi pengetahuan yang sistematis, akurat dan lengkap tentang sesuatu subyek. Pengetahuan yang tidak sistematis tidak dapat disebut sains, seperti juga batu-bata yang terhampar dan tidak tersusun tidak dapat disebut bangunan. Jadi sains atau ilmu adalah pengetahuan tentang suatu subyek yang bersifat metodologis, eksak dan lengkap.

Dalam kaitannya dengan metodologi, Ilmu dibagi sedikitnya menjadi dua  1) ilmu Alam (natural sciences) dan 2) ilmu normatif (normative sciences).

Yang pertama membahas tentang sesuatu sebagaimana adanya (things as they are), sedangkan yang kedua membahas tentang bagaimana seharusnya sesuatu itu (things they should be). Logika termasuk ke dalam kategori yang kedua, yaitu ilmu atau sains normatif, karena ia mengkaji pemikiran, tidak sebagaimana adanya, tapi bagaimana seharusnya.
Selain logika, terdapat ilmu normatif lainnya seperti estetika dan etika. Dalam hal ini Islam sebagai din dan pandangan hidup memiliki asas bagi berkembangnya ilmu alam, ilmu normatif, estetika dan etika.

Kaidah berfikir dan validitasnya
Karena logika merupakan ilmu normatif, maka ia memiliki kaidah berpikir yang bersifat normatif, artinya logika meletakkan kaidah-kaidah atau standar bagaimana seharusnya kita berpikir. Ia tidak menjelaskan tentang bagaimana kita berpikir (karena ini menjadi topik pembahasan ilmu psikologi), tapi bagaimana seharusnya kita berpikir. Kaidah-kaidah berpikir menyerupai kaidah etika dan estetika karena semuanya bersifat normatif.
Kaidah-kaidah berfikir dalam logika dimaksudkan untuk menentukan apakah suatu pemikiran itu disebut valid atau tidak, artinya benar atau tidak menurut kaidah logika. Valid atau benar menurut kaidah logika terdapat dua makna:

Pertama  tidak kontradiktif (self-contradictory) atau bebas dari sifat kontradiktif. Ini dalam logika disebut validitas formal (formal validity). Seperti misalnya mengatakan segitiga berbentuk empat persegi panjang. Segi empat berbentuk bulat. Contoh berpikir yang kontradiktif adalah sbb:

Manusia adalah makhluk yang akan mati
Mahasiswa adalah manusia
Maka mahasiswa tidak akan mati

Argumentasi di atas salah karena kesimpulannya bertentangan (kontradiktif) dengan pernyataan (premis) sebelumnya. Seharusnya kesimpulannya maka mahasiswa akan mati.
Kedua,  sesuai dengan realitas yang sebenarnya (agree with actual reality). Ini disebut validitas material (material validity).  Seperti misalnya:

Manusia adalah meja
Buku adalah manusia
Maka manusia adalah meja

Argumentasi di atas tidak kontradiktif, karena kesimpulannya merupakan hasil dari dua pernyataan (premis) sebelumnya, tapi argumen ini tidak valid. Mengapa? Karena apa yang dinyatakan dalam argumentasi tersebut tidak sesuai dengan realitas yang sebenarnya.
Dari kedua macam validitas di atas maka logika dibagi menjadi dua macam 1) Logika Deduktif 2) Logika Induktif. Logika Deduktif hanya melihat validitas formal suatu pemikiran atau argumentasi, maka dari itu seringkali disebut dengan Logika Formal (formal logic). Logika Induktif menekankan pada validitas material suatu pemikiran, maka dari itu disebut juga sebagai Logika Material.

Dalam logika deduktif masalah yang diangkat adalah apakah suatu pemikiran konsisten? Sedangkan dalam Logika Induktif pertanyaan yang dimunculkan adalah apakah suatu pemikiran itu konsisten dengan realitas yang ada? Yang pertama melihat bentuk (form) pemikirannya, sedangkan yang kedua meninjau substansi pemikirannya. Maka dari itu agar suatu argumentasi dihukumi sebagai valid maka ia harus memiliki validitas formal dan juga material, artinya tidak kontradiktif dan harus konsisten dengan realitas aktual.
Maka dari itu jika kita mendengar suatu pernyataan atau argumentasi, kita harus menguji argumentasi tersebut dari dua sisi, pertama apakah argumentasi itu secara logis tidak kontradiktif dan kedua apakah argumentasi itu secara substantif sesuai dengan realitas.

Elemen Pemikiran

Jika kita cermati secara seksama, maka suatu pemikiran terdiri dari dari 3 elemen penting, yaitu 1) konsep (concept, tasawwur), 2) penyimpulan (judgment, tasdiq), dan 3) penalaran (reasoning, nazar).

1)    Konsep (concept) artinya ide yang umum. Ketika kita menyatakan bahwa “manusia akan mati”, kita berbicara tentang konsep “manusia” dan konsep “mati” secara umum, bukan manusia tertentu atau kematian tertentu. Seperti juga kalau kita menyebut kata “pesantren”, “sekolah”, “adil”, “aqidah dsb. Jadi, perkataan manusia, negara, pesantren, pendidikan, universitas, buku, kuda, dsb, adalah konsep-konsep sejauh mereka itu merujuk kepada makna suatu obyek secara umum. Konsep ini dalam ilmu logika disebut terma (term)

2)    Penyimpulan (judgment) adalah kombinasi dari dua konsep. Ketika kita membandingkan atau menggabungkan dua konsep, sehingga kemudian menunjukkan makna baru, maka kita telah memperoleh apa yang disebut penyimpulan. Seperti misalnya “pesantren itu bukan sekolah”, adalah penyimpulan dari perbandingan konsep “pesantren” dengan konsep “sekolah”, atau “manusia adalah makhluk sosial” adalah penyimpulan dari kombinasi konsep manusia dan konsep makhluk sosial. Jadi penyimpulan (judgment) terdiri dari dua konsep dan dalam logika penympulan disebut proposisi atau premis.

3)  Penalaran (reasoning) adalah suatu proses deduksi yang ditarik dari dua penyimpulan atau lebih. Jika kita mengatakan “Semua orang Jawa adalah orang Indonesia, maka tidak ada orang Jawa yang bukan orang Indonesia”, maka kita telah melakukan penalaran (reasoning). Karena hanya terdiri dari dua proposisi maka ini disebut deduksi langsung (immediate inference). Akan tetapi jika penalaran itu kita lakukan dengan meletakkan dua proposisi, maka disebut deduksi tidak langsung ( a mediate inference atau syllogism). 

Seperti misalnya
Manusia akan hewan berfikir
Mahasiwa adalah manusia
Maka, mahasiswa adalah hewan berfikir

Jadi dalam penalaran kita menggabungkan satu atau lebih proposisi atau premis dengan proposisi yang lain untuk mencapai kesimpulan (conclusion). Ini dalam logika disebut dengan argumentasi.

Dari uraian diatas jelaslah bahwa yang disebut pemikiran itu berasal dari konsep yang digabungkan dengan konsep-konsep lain sehingga membentuk proposisi dan dari gabungan proposisi itulah kita memperoleh pengetahuan baru.

Menguji suatu argumentasi
Jika kita menemukan suatu pemikiran maka yang pertama-tama kita uji adalah konsepnya. Apakah konsep dalam suatu argumentasi itu jelas dan dapat kita terima atau masih menjadi masalah yang diperdebatkan. Jika pun konsep itu jelas yang tidak lagi diperdebatkan, kita harus juga menguji apakah dalam perspektif lain (secara sosiologis, secara politis, secara Islam dsb) konsep itu dapat diterima.

Jika konsep-konsep yang kita temukan itu tidak ada masalah, maka selanjutnya kita harus mengujinya apakah gabungan konsep dengan konsep yang lain dalam argumentasi itu dapat diterima dan tidak menimbulkan kerancuan. Konsep Islam, misalnya sudah jelas, tapi ketika digabungkan dengan konsep liberal dan menjadi “Islam liberal”, maka terjadi kerancuan. Sebab Islam berarti berserah diri, sementara liberal artinya bebas, maknanya kontradiktif. Seperti juga gabungan konsep kafir dan saleh, menjadi “seorang kafir yang saleh”, juga “kolonialis yang humanis”, “perampok yang  moralis” dsb.

Jika gabungan konsep-konsep suatu argumentasi tidak perlu dipermasalahkan, maka kita perlu mengujinya apakah kesimpulannya sesuai dengan premis-premis yang diberikan sebelumnya. Disini pengetahuan kita tentang logika formal sangat diperlukan.

Kesimpulan

Dari uraian singkat diatas, maka jelaslah bahwa befikir logis artinya berfikir sesuai dengan kaidah-laidah ilmu logika. Dan berfikir argumentatif adalah berfikir dengan menggunakan argumentasi yang valid seperti yang diatur dalam ilmu logika tersebut


Sabtu, 01 November 2014

Musuh Agama-Agama

Oleh, Dr. Adian Husaini (Peneliti INSIST)

Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan, semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti itu, jalan panjang menuju Yang Mahabenar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam satu keluarga besar yang sama: yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.

            Begitulah salah satu pernyataan tegas seorang pendukung paham Pluralisme Agama di Indonesia, seperti ia tulis dalam artikel di satu koran nasional. Pandangan semacam ini kemudian menyebar ke berbagai penjuru. Klaim kebenaran agama bagi pemeluk masing-masing, dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Seolah-olah, kerukunan umat beragama harus dibangun di atas landasan teologi pluralis yang melarang setiap pemeluk agama meyakini kebenaran agamanya masing-masing.

Maka, betapa tesengatnya pendukung Pluralisme Agama di Indonesia, ketika pada tahun 2005, MUI mengeluarkan fatwa yang mengharamkan paham Pluralisme Agama dan menyatakan sesat sejumlah aliran keagamaan. Karena itu, bisa dipahami, jika dalam berbagai seminar dan kesempatan, MUI menjadi bahan caci-maki. Banyak yang kelabakan. Bahkan ada yang kalap. Sebuah Jurnal yang diterbitkan di sebuah kampus Islam di Semarang pada edisi 28 Th XIII/2005, memuat laporan utama berjudul Majelis Ulama Indonesia Bukan Wakil Tuhan. Dalam jurnal ini, misalnya, diturunkan wawancara dengan seorang aktivis HAM dengan judul MUI bisa Dijerat KUHP Provokator. Ia membuat usulan untuk MUI: Jebloskan penjara saja dengan jeratan pasal 55 provokator, jelas hukumannya sampai 5 tahun.

Amerika Serikat juga sangat getal mengucurkan dana untuk penyebaran paham Pluralisme, sehingga banyak yang menyambut dengan gegap gempita. Dalam situsnya, (http://www.usembassyjakarta.org/…/indonesia_Laporan_deplu-A…), ditulis: Kedutaan mengirimkan sejumlah pemimpin dari 80 pesantren ke Amerika Serikat untuk mengikuti suatu program tiga-minggu tentang pluralisme agama, pendidikan kewarganegaraan dan pembangunan pendidikan.

Pluralisme Agama sebagaimana yang banyak ditulis oleh para penganut dan penyebarnya -- memang bukan sekedar konsep toleransi, saling menghormati antar pemeluk agama, tanpa mengganggu konsep-konsep khas dalam teologi masing-masing agama. Menafsirkan QS al-Baqarah:62, sebuah disertasi doktor Ilmu Tafsir di UIN Jakarta menulis: Jika diperhatikan secara seksama, jelas bahwa dalam ayat itu tak ada ungkapan agar orang Yahudi, Nashrani, dan orang-orang Shabiah beriman kepada Nabi Muhammad. Dengan mengikuti pernyataan eksplisit ayat tersebut, maka orang-orang beriman yang tetap dengan keimanannya, orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabiah yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan amal saleh sekalipun tak beriman kepada Nabi Muhammad, maka mereka akan memperoleh balasan dari Allah. Pernyataan agar orang-orang Yahudi, Nashrani, dan Shabiah beriman kepada Nabi Muhammad adalah pernyataan para mufasir dan bukan ungkapan al-Quran.

Pandangan dan penafsiran semacam ini tentu saja sangat keliru dan sama sekali tidak berangkat dari posisi teologis Islam. Ribuan mufassir al-Quran yang mutabarah sejak dahulu kala tidak ada yang memahami ayat al-Quran tersebut seperti itu. Sebab, dengan logika sederhana pun kita bisa memahami, bahwa untuk dapat "beriman kepada Allah" dengan benar dan beramal saleh dengan benar, seseorang pasti harus beriman kepada Rasul Allah saw. Sebab, hanya melalui Rasul-Nya, kita dapat mengenal Allah dengan benar; dapat mengenal nama dan sifat-sifat-Nya. Ini konsepsi teologis Islam.

Kaum Pluralis kadangkala memandang aspek keimanan ini sebagai hal yang kecil. Kata mereka, yang penting adalah nilai kemanusiaan. Manusia harus saling mengasihi, tanpa melihat agamanya apa; tanpa melihat jenis imannya. Tentu saja pandangan ini juga sangat keliru. Sebab, dalam kehidupan manusia pun, aspek pengakuan juga sangat penting. Anak menuntut pengakuan dari orang tuanya. Sebelum bekerja, Presiden juga perlu pengakuan dari rakyat bahwa dia adalah Presiden. Anak yang tidak mau mengakui orang tuanya disebut anak durhaka. Maka, pengakuan (syahadah) itulah yang diminta oleh Allah kepada umat manusia. Yakni, agar manusia mengakui bahwa Dia adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah; dan bahwa Muhammad saw adalah utusan-Nya yang terakhir. Apa beratnya manusia untuk mau membuat pengakuan semacam ini?

Ada yang bilang, bahwa soal iman kepada kenabian Muhammad saw itu adalah soal kecil saja; masalah yang tidak penting; jadi tidak usah dibesar-besarkan; yang penting adalah kehidupan yang harmonis dan hormat-menghormati antar sesama manusia. Coba tanyakan kepada kaum yang mengaku Pluralis itu, jika iman kepada Nabi Muhammad saw adalah soal kecil, mengapa banyak yang keberatan untuk mengakui bahwa Muhammad saw adalah seorang Nabi. Mengapa? Jika itu dianggap masalah kecil, mengapa hanya untuk soal yang kecil saja, mereka tidak mau iman? Jadi jelas, bagi kaum Muslim, ini bukan soal kecil.

Bukan hanya kaum Muslim yang memandang Pluralisme Agama sebagai ancaman serius. Tahun 2000, Vatikan juga mengeluarkan Dekrit Dominus Iesus yang menolak paham Pluralisme Agama. Dokumen ini dikeluarkan menyusul kehebohan di kalangan petinggi Katolik akibat keluarnya buku Toward a Christian Theology of Religious Pluralism karya Prof. Jacques Dupuis SJ, dosen di Gregorian University Roma. Dalam bukunya, Dupuis menyatakan, bahwa kebenaran penuh (fullnes of thruth) tidak akan terlahir sampai datangnya kiamat atau kedatangan Yesus Kedua. Jadi, katanya, semua agama terus berjalan sebagaimana Kristen menuju kebenaran penuh tersebut. Semua agama disatukan dalam kerendahan hati karena kekurangan bersama dalam meraih kebenaran penuh tersebut.

Buku Toward a Christian theology of Religious Pluralism pada intinya menyatakan, bahwa Yesus bukan satu-satunya jalan keselamatan. Penganut agama lain juga akan mengalami keselamatan, tanpa melalui Yesus. Karena ajarannya itulah, pada Oktober 1988 ia mendapat notifikasi dari Kongregasi untuk Ajaran Iman. Ia dinyatakan tidak bisa dipandang sebagai seorang teolog Katolik. Surat itu ditandatangani oleh Kardinal Ratzinger, yang kini menjadi Paus Benediktus XVI.

Jadi, Vatikan pun tidak bisa menerima pandangan semacam ini, yang menerima kebenaran semua agama. Vatikan bersikap tegas. Tentu saja, orang-orang liberal dalam Katolik juga protes dengan sikap itu. Sama halnya kaum liberal di kalangan Muslim, juga marah-marah terhadap fatwa MUI soal Pluralisme Agama. Untuk menegaskan kebenaran agama Katolik, pada 28 Januari 2000, Paus Yohanes Paulus II membuat pernyataan: The Revelation of Jesus Christ is definitive and complete. (Ajaran Jesus Kristus adalah sudah tetap dan komplit).

Setiap pemeluk agama pasti memiliki posisi teologis yang berbeda-beda. 

Perbedaan itu harus dihormati. Kaum Pluralis Agama memang tidak jelas posisi teologisnya. Ia bukan Islam, bukan Kristen, bukan Hindu, atau Budha. Benar kata Dr. Stevri Lumintang, posisi teologisnya memang abu-abu. Karena itulah, Dr. Stevri mencatat, dalam bukunya, Teologia Abu-abu, Pluralisme Agama, bahwa: ...Theologia abu-abu (Pluralisme) yang kehadirannya seperti serigala berbulu domba, seolah-olah menawarkan teologi yang sempurna, karena itu teologi tersebut mempersalahkan semua rumusan Teologi Tradisional yang selama ini dianut dan sudah berakar dalam gereja. Namun sesungguhnya Pluralisme sedang menawarkan agama baru... (***)

Lawrence Kohlberg, Penggagas Pendidikan Karakter Yang Mati Bunuh Diri

            “Lihat negara Barat, kotanya Indah, masyarakatnya disiplin, transportasi berjalan lancar, beda dengan negara-negara muslim. Jadi mana yang lebih Islami, Barat atau kita?”

            Ucapan diatas dikatakan salah seorang guru kepada muridnya beberapa waktu lalu. Berdiri di depan kelas, ia secara bersemangat membandingkan pola kehidupan masyarakat Barat dan Timur (baca: Islam) yang terlihat begitu kontras. Untuk menguatkan apa yang dilihatnya, sang guru pun memutar slide foto pasca pengembaraanya ke Amerika, lalu bertanya kepada para muridnya, “Bersih mana dengan Jakarta?”

            Nama Lawrence Kohlberg mulai melambung di tengah-tengah masyarakat setelah gagasan Pendidikan Karakter meledak di pasaran edukasi. Dalam konsep itu, Kohlberg menekankan rasa kejujuran, tanggungjawab, dan kepercayaan diri bagi siswa untuk mengatasi masalah.

            Pendidikan Karakter pun mengundang decak kagum kalangan guru, pendidik, dan orangtua. Mereka melihat inilah format edukasi yang dicari-cari. Namun masalahnya Pendidikan Karakter memang tidak mengenal Tuhan. Apa yang ada di pendidikan Karakter belum tentu satu kata dengan agama. Meski keduanya sama-sama menekankan kebaikan. Dalam pendidikan karakter anak berbuat jujur atas dasar humanisme, beda dengan Islam yang memang kita tergerak karena perintah Allah. Maka itu kebaikan dalam pendidikan Karakter tidak ada hubungannya dengan agama, seperti kebersihan yang dicontohkan guru tadi.

            Namun sapa nyana itikad Kohlberg untuk mengajarkan moralitas kepada masyarakat, justru dikhianati oleh dirinya sendiri. Kisahnya sebagai agen zionisme rupanya tidak cukup untuk melihat sisi amoral dari tokoh Yahudi ini. Tidak hanya menyetujui penjajahan Yahudi ke Tanah Palestina, namun akhir hidup Kohlberg sangat mengenaskan. Ia mati bunuh diri karena tidak mampu mengatasi depresi yang telah melilitnya belasan tahun. Ya orang itu, orang yang mengajarkan moral kepada anak-anak kita dan dipuja oleh guru-guru kita.

Kisah Kematian Kohlberg
            Kenyataan naas yang mendera Kohlberg ini berawal dari kerja akademisnya awal tahun 70-an. Pasca pulang dari Israel, Teoritikus Tahapan Perkembangan Moral ini mengunjungi Punta Gorda, Belize, sebuah Negara di bagian Amerika Tengah. Disana Kohlberg menghabiskan waktu 10 hari untuk melakukan riset. Ini berlangsung pada akhir bulan desember 1971 dan awal Januari 1972.

Selama penelitiannya itu, Kohlberg tidak sadar telah terinfeksi sebuah parasit bernama Giardia Lamblia. Parasit ini terkenal sebagai salah satu parasit ganas yang menyerang 200 juta penduduk bumi di seluruh dunia. Meski kecil, Giardia Lamblia ini dapat memicu demam tinggi pada tubuh manusia.

            Menurut Garz Detlef dalam bukunya, Lawrence Kohlberg: An Introduction, penyakit mengerikan Kohlberg berhasil didiagnosa dokter pada Mei tahun 1973. Profesor Pendidikan di Harvard University itu kemudian harus menerima suatu kondisi, dimana rasa sakit, ketidakberdayaan, hingga pada tahap depresi melanda kehidupannya selama 16 tahun sebagai efek dari Virus yang ditancapkan sang parasit. Untuk meredakan penyakitnya, Kohlberg pun kemudian dirawat pada sebuah rumah sakit di Cape Pod, Massachusetts.          

            Perawatan intensif Rumah Sakit rupanya tidak membawa Kohlberg pada kesembuhan. Kondisi yang tak jua kunjung membaik, membuat kondisi kesehatan Kohlberg menurun, baik secara fisik maupun mental. Inisiator pendidikan karakter ini pun diliputi rasa putus asa. Entah, apa yang diajarkannya selama ini tidak tercermin dalam perilakunya. Kohlberg sama sekali tidak fight dan mencoba bertahan. Sebaliknya pikiran Kohlberg justru terbersit untuk mengakhiri hidupnya. Ya bunuh diri, sebuah moralitas rendah yang justru selama ini ia lawan dengan semangat pendidikan karakternya.

            Pada 19 Januari 1987, ia meminta cuti satu hari dari Rumah Sakit Massachusetts tempat ia dirawat. Tanp diketahui pihak RS, Kohlberg lalu pergi dengan mobilnya ke pantai. Konon Kohlberg sudah resah.

            Mulai saat itu, kabar kaburnya Kohlberg mencuat di media massa. Banyak orang mencarinya namun tidak berhasil. Namun siapa sangka, ditengah pencariannya, Kohlberg justru mengunjungi Boston Harbor. Di samudera Atantik itu ia mengakhiri hidupnya secara tragis: menyeburkan diri ke dalam samudera laut hingga membuatnya tewas secara mengenaskan.

            Sampai ia meninggal, polisi pun belum jua menemukan jasad Kohlberg. Dalam laporan The New York Times, polisi hanya menemukan mobil Kohlberg terparkir di perumahan Jalan Winthrop pada tanggal 21 Januari.

            Jasad Kohlberg baru betul-betul ditemukan pada April 1987. Tepat pukul jam 12:30 siang, seorang polisi negara bagian patroli menemukan jenazah Kohlberg sekitar 1.000 meter di selatan di mana ia diyakini telah menyeburkan diri ke dalam air. Hasil pemeriksa medis negara mengatakan bahwa otopsi menunjukkan tenggelam adalah penyebab kematian Kohlberg.


            Inikah azab Allah yang diberikan kepada Kohlberg, aktivis Yahudi yang membantu bangsanya untuk menjajah Palestina? Tokoh yang banyak berbicara moral dan karakter versi humanisme itu, tapi malah membunuh dirinya sendiri. Lalu buat apa kita ikuti? Allahua'lam.

repost from ust muhammad pizaro novelan tauhidi

Jumat, 31 Oktober 2014

Jati diri Islam Indonesia yang direduksi oleh Orientalis

     Tidak bisa dipungkiri, Sejarah adalah salah satu sebuah jalan perbaikan ketika ingin membangun kembali peradaban, sejarah yang benar tanpa kebohongan merupakan pelajaran amat berharga bagi insan yang hidup tidak pada zamannya, tidak hanya itu, sejarah menjadi bukti paling mendasar mengungkap kebenaran secara runtut dan pasti, namun ketika sejarah dibelokan dan dimanipulasi maka, skenario jalan hidup manusia bisa berubah tergantung oleh “kepentingan” siapa sejarah itu diperuntukan. Saat ini, benar-benar menjadi rahasia umum, bahwa sejarah bangsa indonesia telah terbelokan dan sengaja didistorsi untuk sebuah kepentingan dan agenda besar, hal yang menjadi topik menarik adalah pengkaburan Islam dalam perannya sebagai jati diri bangsa indonesia.

            Begitu banyak sekali upaya dan cara-cara picik musuh umat Islam, dalam mengaburkakan nilai-nilai Islam dinusantara, terutama dalam pengkaburan sejarah dan memanipulasinya dengan cara mendustai alur cerita sejarah sebenarnya, melalui lembaga pendidikan dengan kurikulum nya, menjadi cara jitu dalam mereduksi sejarah sebenarnya. Dan memang terbukti melewati buku-buku sejarah dari pelajaran sekolah, anak-anak indonesia menjadi gagal dalam memahami sejarah indonesia secara benar, nampak sekali dalam pemahaman tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia atas peran para ulama-ulama Islam, serta dari peran ulama Islam lah dakwah Islam tersebar keseluruh penjuru Nusantara dan nilai-nilai Islam menjadi Identitas bangsa Indonesia, salah satunya dengan cara akulturasi budaya, yang sebelumnya hindu-budha bercokol dipulau jawa.

Namun kenyataan ini berhasil dikaburkan oleh para musuh Islam, tentu mereka yang tidak menginginkan Islam menyebar dalam benak masyarakat Indonesia, terutama menggunakan mereka para orientalis barat sebagai sosok yang memiliki peran sangat penting, tokoh-tokoh orientalis inilah yang berhasil membelokan sejarah bangsa Indonesia menjadi sebuah episode yang kabur dan tidak runtut secara benar, bahkan cerita dipalsukan, dengan cara memojokan Islam itu sendiri, melalui karya-karya orientalis ini.

            Bahkan dalam pandangan Thomas Stamford Rafless, seorang orientalis dari perancis mengatakan bahwa Islam yang disebarluaskan pada masa Walisongo dianggap sebagai ajaran asing. Sekalipun ia mengakui bahwa saat ia bertugas di kepulauan Melayu dan Jawa, Islam merupakan agama yang dianut mayoritas rakyat di kawasan ini, namun Raffles tidak melihatnya sebagai fenomena kultural yang harus digali. Ia justru semakin yakin dengan pengaruh mistik Hindu-Budha pada penguasa-penguasa Muslim.

Ia menafsirkan berbagai praktik kultural yang dilakukan oleh penguasa-penguasa Muslim sama seperti penguasa-penguasa Hindu sebelumnya. Penggambaran kekuasaan raja-raja Islam yang penuh mistik seperti keris bertuah, benda-benda pusaka, dan semisalnya melekat sepanjang tulisannya di The History of Java. Penggambarannya ini mengukuhkan kesan tidak berpengaruhnya ajaran-ajaran Islam yang ia sebut sebagai Mohamedanism ini kepada perilaku kultural masyarakat dan penguasa-penguasa Muslim.

            Tidak jauh berbeda dengan Snouck Hurgronje, orientalis yang memiliki pengaruh sangat kuat dan tokoh yang diperhitungkan dari belanda berpendapat, sistem Islam telah menjadi sangat kaku dan tidak mampu lagi menyesuaikan diri dengan abad baru. Snouck melakukan langkah-langkah untuk membebaskan kaum Muslimin dari agama mereka. Menurutnya, hanya melalui organisasi pendidikan yang berskala luas atas dasar yang universal dan netral secara agamis, pemerintah kolonial dapat ‘membebaskan’ atau melepaskan Muslimin dari agama mereka. “Pengasuhan dan pendidikan adalah cara untuk mencapai tujuan tersebut. Bahkan, di negeri-negeri berbudaya Islam yang jauh lebih tua dibanding kepulauan Nusantara, kita menyaksikan mereka bekerja dengan efektif untuk membebaskan umat Muhammad dari kebiasaan lama yang telah lama membelenggunya.

            Ungkapan atas penelitian para orientalis dari barat jelas memang salah kaprah, nampak bahwa agenda terselubung menjadi tujuan mereka, yaitu Memojokan dan menjelekan Islam itu sendiri, melalui sejarah. Namun fakta yang tak bisa dibantah adalah peninggalan dan bukti sejarah atas karya-karya ulama terdahulu menjadi salah satu bukti, bahwa nilai Islam tiada yang salah, serta Islam justru mampu menyatukan wilayah Nusantara menjadi satu kesatuan yang kuat dan kokoh, melalui kerajaan-kerajaan Islam yang diberdirikan oleh walisanga di Nusantara.

Mengutip ungkapan cendekiawan muslim SMN AL-Attas Islam datang ke kepulauan Melayu-Indonesia membawa semangat religius yang amat intelektual dan rasionalistis, sehingga mudah masuk ke dalam pikiran rakyat. Ini menyebabkan kebangkitan rasionalisme dan intelektualisme yang tidak dinyatakan dalam masa-masa pra-Islam. Timbulnya rasionalisme dan intelektualisme ini dapat dipandang sebagai semangat yang kuat yang menggerakkan proses revolusi dalam pandangan dunia Melayu- Indonesia, dan mengelakkannya dari dunia mitologi yang rontok. Semangat rasionalisme dan intelektualisme ini bukan saja di kalangan istana dan keraton, bahkan juga merebak di kalangan rakyat jelata. Banyak risalah tentang falsafah dan metafisika khusus ditulis bagi keperluan umum.

            Nyatanya dapat disimpulkan bahwa, dengan Islam lah Nusantara menjadi satu, dengan nilai-nilai Islam pula terbukti masyarakat Indonesia menjadi semakin beradab, seperti ciri khas Islam datang ke Nusantara untuk sebuah semangat religiusitas dan intelektual seperti yang diungkap Al-attas, jadi tiada diragukan bahwa jati diri bangsa Indonesia adalah Islam, karena saat berdirinya negara ini adalah sebab sokongan terbesar para pejuang Islam atas dasar Jihad fisabilillah.


Walahua’lam..

Sabtu, 18 Oktober 2014

Masyarakat "Barat" Tak Layak Dicontoh

Jika dilihat secara jeli, tak dapat dimunafikan secara material negara-negara barat adalah negara yang luar biasa. Memiliki kemajuan dalam berbagai hal seperti teknologi informasi juga dalam segi perekonomian. Namun disatu sisi tidak pula bisa dipungkiri sebagian besar mereka mengidap penyakit kronis secara psikologis, moral yang sedemikian parah rusaknya, dari mulai pergaulan bebas, seks yang begitu liar sampai pada tindak kriminalitas yang semakin tinggi menjulang. Kekerasan dalam rumah tangga, alkohol narkoba, depresi hingga strees tingkat tinggi dialami oleh mayoritas masyarakatnya. Tentu saja penyakit akut ini telah dialami sejak lama bahkan hingga saat ini semakin menggebu ...

Tidak layak negeri-negeri Muslim mengagumi apalagi meniru masyarakatnya.

            Bisa dikatakan masyarakat kapitalis barat sedang menderita sakit kronis. Kenapa? Masyarakat barat kapitalis, sekuler, juga liberal mayoritas masyarakatnya benar-benar sedang tenggelam dalam lautan masalah sosial dan moral. Hal ini bisa disebabkan oleh nilai dan sistem hukum. “Negara2 kasus eksploitasi dan kekerasan seksual terhadap perempuan. Di AS satu orang wanita diperkosa setiap 2 menit, dipukuli setiap 15 detik, dan 13 wanita dibunuh oleh mitra mereka setiap harinya. Di inggris satu orang wanita diperkosa atau penghadapi upaya pemerkosaan setiap 10 menit. Diseluruh eropa satu dari empat wanita menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Negara-negara barat juga tengah menderita perilaku hilangnya rasa hormat, perilaku anti sosial dan kurang nya tanggung jawab terhadap orang lain” (Dr. Nazreen nawaz, central media perwakilan, Hizbut Tahrir).

            Mungkin Begitu frontal hal ini ketika disambungkan dengan kesalahan pada sistem, namun itulah fakta yang bisa dilhiat oleh mata yang cerdas dan jeli dalam menilai realitas. Tidak bisa dimunafikan akibat implementasi dari sistem liberal kapitalis yang diusung oleh barat. Maka benar-benar memporak-porandakan keadaan negara dari yang semestinya. Sistem ini yang jelas memihak pada kesenangan maksimum individu dari masyarakat sebagai tujuan utama. Maka wajar ketika diskriminasi menjadi sesuatu yang “biasa” terjadi.  Sistem yang diterapkan menggunakan standar baik dan buruknya disesuaikan dengan keinginan manusia itu sendiri. Didalam sistem ini kepentingan ekonomi adalah menjadi pijakan dasar sebagai pemuasan individu sebagai konsekuensinya maka terkikis nya rasa tanggung jawab terhadap orang lain, sibuk dengan diri sendiri hingga hal ini menimbulkan pola pikir yang begitu berbahaya “lakukan apapun, kepada siapapun, untuk tujuan apapun”.

Menjadi kan diri sebagai individu yang “materalistik dan konsumeristik” hingga hal ini mencapai puncak tertinggi nya yaitu kejahatan kepada masyarakat hingga akibat nya pengabaian terhadap anak2, orang tua lanjut usia sampai pada hak-hak tetangga yang merupakan bagian dari masyarakat. Disamping itu materi dan uang sebagai acuan dasar untuk menilai segala hal menjadikan para perempuan dengan mudah nya dieksploitasi dan direndahkan martabatnya. Sampai tak memiliki kemuliaan sebagai wanita. Tubuh nya menjadi ajang hiburan, tontonan dalam industri kecantikan dan seks. Hal ini lah yang menyebabkan turunnya nilai dalam masyarakat atas dasar konstribusi kekerasan terhadap perempuan.

Bagaimana barat memecahkan masalah seperti ini?

            Dalam memandang masalah ini negara-negara barat gagal dalam memahami dan mengetahui akar permasalahan yang mendasar, yang menjadi sebab dari bobroknya masyarakat yang semakin hari semakin merajalela. Selama negara-negara barat masih menggunakan sistem sekularisasi, maka begitu mustahilnya kasus-kasus diatas mampu terselesaikan hingga bersih. Jurang dalam yang menghancurkan masyarakat mereka, adalah hasil dari ideologi yang mereka besarkan sendiri, dalam penyelesainnya selalu saja pragmatis dan tambal sulam terhadap masalah. Solusi parsial yang membentuk masalah baru dalam kehidupan selanjutnya, sebagai contoh ketika aksi kejahatan merajalela maka hanya memberi kamera CCTV dijalan dan di segala sudut, agar pelakunya tertangkap, bahkan ketika dihukum, hukumannya pun tak setimpal. sama hal nya seperti mengajarkan pendidikan seks bahkan memasukan dalam kurikulum sebagai solusi maraknya pergaulan dan seks bebas yang terjadi dalam dunia remaja. Hal seperti inilah yang diberikan oleh liberal kapitalis.

Peran dan konstribusi muslim di barat dalam menanggapi masalah ini.

            Tidak sedikit masyarakat muslim dibarat yang berusaha dengan ghiroh nya untuk mampu memberikan konstribusi perubahan terhadap masyarakat yang sekuler, muslim yang terlibat dalam diskusi dengan masyarakat ditingkat grass root, dikampus, atau bahkan didalam suatu lembaga yang mengkaji secara serius dalam perubahan untuk meningkatkan kesadaran akan kegagalan dalam cara hidup yang sekuler. Para muslim disana pun sampai pada tahap memberikan argumentatif cerdas, menawarkan solusi yang akan menyeluruh tersistemik, sistem terbaik yang ada di seluruh penjuru dunia. Ketika ideologi islam menjadi model untuk mampu menyelesaikan masalah kenegaraan seperti politik, hukum, perekonomian, serta masalah sosial lainnya. Dengan menanamkan nilai-nilai keislaman dan berjuang untuk menghapus pemahaman-pemahaman yang diluar kaidah islam yang sebenarnya pun masih ada dalam kalangan muslim dibarat. Sekalipun hal tersebut mampu membatu beberapa orang namun, perlu ekstra kerja keras agar mampu  melawan arus kebangkrutan sosial yang sudah tersistem.

Bagaimana Islam menjadi solusi?

            Islam adalah sesempurna nya agama, yang memiliki segala solusi untuk permasalahan ummat. Didalam Islam tujuan hidup adalah menggapai Ridho Allah, bukan terbatas kepada kepuasan individu dalam mencapai materi. Maka dari itulah standar untuk segala perbuatan manusia bukan azaz manfaat, atau bahkan kepentingan pribadi. Melainkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat, dengan halal haram yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Dengan inilah yang nantinya akan membentuk prinsip pertanggung jawaban dihadapan Allah kelak, karena Allah lah yang memiliki otoritas tertinggi bagi hamba Nya.

            Dengan jelas Islam menolak kebebasan, karena pada hakikatnya manusia harus terikat pada aturan. Bukan pada kebebasan yang merajalela hingga pada akhirnya menghancurkan manusia itu sendiri. Islam mendorong manusia agar taat pada syariat untuk kebaikan. Dengan menghindari kebebasan seperti narkoba, seks bebas, penindasan, diskriminasi, dan lain sebagainya, sangat jauh berbeda dengan nilai-nilai ukum sekuler yang penuh dengan kecacatan, pemberian solusi tambal sulam yang tak jelas, bahkan ideologi sekular pun memahami hakikat individu dengan kebebasan. Islam secara jelas memaparkan hakikat diri manusia, sehingga manusia memiliki tujuan hidup jelas dan mulia. Dengan standar yang telah ditentukan oleh syariat. Manusia mampu memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupannya.

            Akhirnya dari sistem islam inilah lahir manifestasi keimanan manusia secara global. Manusia mampu menjalani hidupnya dengan damai dan tenang karena atas dasar keimanan mereka. Dari pengetahuan manusia mampu memecahkan persoalan hidup dengan cara yang lebih baik.

            Ketika islam dijadikan sebuah tatanan atau sistem dalam suatu negara maka terpenuhilah segala kebutuhan manusia, dari mulai pengaplikasian keimanan mereka secara kaffah sampai pada penjagaan aqidah, karena hal ini terbantu oleh kekuasaan sang khalifah. Islam akan semakin menjadi rahmatan lilalamin, menjadi peradaban gemilang yang memuliakan manusia, dengan aman, beradab, harmonis serta sehat.

*Tulisan tahun 2012 lalu, sewaktu masih ikut aktif mengkaji di Hizbut Tahrir dengan teman-teman, memang sii masih agak blunder dan penuh dengan judment,,, yaa namanya juga belajar hehehe ^_^

Jumat, 17 Oktober 2014

Sistem Informasi Psikologi

Psikologi       
 
            Pada masa dewasa ini, perkembangan ilmu psikologi semakin luas dan melebarkan diri. Titik fokus muncul nya ilmu psikologi pada masa dulu rupanya telah mengalami pergesaran pembahasan, psikologi yang dulu berfokus pada ilmu jiwa, telah merembak pembahasannya hingga masalah perilaku manusia dengan hubungannya pada lingkungan hingga pada kondisi sosial manusia tersebut, bahkan sampai saat ini Ilmu psikologi menjadi ilmu yang berdiri sendiri namun masih ada hubungannya dan tetap berkolerasi dengan disiplin ilmu lain, seperti filsafat, antropologi, sosial, politik, dan budaya serta ilmu lain yang dibahas secara aspek psikologis tema tersebut.

            Ilmu psikologi memang bagian dari ilmu pengetahuan, untuk pada masa sekarang ilmu psikologi telah melalui banyak perjalanan panjang, bahkan sebelum bapak Wundt, tokoh psikologi yang mendirikan laboratorium nya pada tahun 1879, di Jerman. yang disebut sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu. Hingga pandangan tentang manusia dapat ditelusuri hingga zaman yunani kuno. Sejak zaman Aristoteles pun disiplin ilmu psikologi sudah mulai dikenal sebagai ilmu jiwa, yaitu ilmu untuk kekuatan hidup (Leven Beginsel). Aristoteles memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang mempelajari gejala – gejala kehidupan. Jiwa adalah unsur kehidupan (Anima), karena itu tiap – tiap makhluk hidup mempunyai jiwa. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa (Barat) dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di benua Amerika.

Sistem Informasi

            Jika kita ingin menjabarkan tentang sistem informasi, maka perlu diketahui sistem adalah elemen-elemen yang saling berhubungan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, sedangkan Informasi adalah sekumpulan data yang diolah untuk mendapatkan hasil bagi pengguna. Maka dapat disimpulkan sistem informasi merupakan sekumpulan elemen untuk mengolah data yang berguna bagi pengguna untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

            Secara teori, penerapan sebuah Sistem Informasi memang tidak harus menggunakan komputer dalam kegiatannya. Tetapi pada prakteknya tidak mungkin sistem informasi yang sangat kompleks itu dapat berjalan dengan baik jika tanpa adanya komputer. Sistem Informasi yang akurat dan efektif, dalam kenyataannya selalu berhubungan dengan istilah “computer-based” atau pengolahan informasi yang berbasis pada komputer.

Bagaimana Sistem Informasi berhubungan dengan Ilmu Psikologi?

            Ketika suatu sistem terintegrasi dengan baik dan mampu menyediakan banyak manfaat bagi pengguna, terutama untuk mendukung sistem operasi manusia, managemen dalam organisasi, dan sebagainya,dalam tatanan kehidupan nyata, sistem informasi menjadi erat kaitannya dengan psikologi pada saat penggunaan pemanfaatnya sebagai contoh, penggunaan tes psikologi secara virtual, dan berbagai macam alat tes psikologi yang menggunakan teknik komputerisasi. Seperti hal nya tes psikologi papikostik, yang menggunakan teknik komputerisasi, hal ini jelas secara langsung mempengaruhi ilmu psikologi itu sendiri yang memiliki kaitan erat dengan sistem informasi.

            Selain itu contoh lainnya adalah makin banyak nya perusahaan-perusahaan yang menggunakan software tentang alat tes agar terjadi efisiensi waktu dalam penyeleksian calon tenaga kerja, adapula contoh lainnya mungkin dengan sistem konseling online yang sekarang ini banyak beredar dan banyak hadir di situs jejaring sosial. Hal-hal diatas merupakan sebagian contoh penggunaan sistem informasi dalam bidang psikologi saat ini. Dimana, ilmu psikologi juga berkembang berkat adanya perkembangan yang sangat pesat dari ilmu komputer itu sendiri.


            Tidak dipungkiri, memang secara disiplin ilmu yang berdiri sendiri antara sistem informasi dan psikologi memiliki kajian objek dan aspek yang berbeda, akan tetapi dalam beberapa hal teknologi informasi itu, mampu membantu disipin ilmu psikologi sebagai penunjang dalam upaya pengembangan ilmu psikologi itu sendiri, hal inilah mengindikasikan ada kaitan erat antara Sistem informasi dengan ilmu psikologi.

*Tulisan ini dibuat sebagai TUGAS mata Kuliah SoftSkill Sistem Informasi Psikologi