Jumat, 24 Maret 2017

Lagi-Lagi Soal Bahagia

Hidup tentang menerima? Iya betul sekali salah satunya. Kita akan melalui banyak hal disini, berpasrah juga salah keduanya,  Iya betul sekali, namun tak sedikit yang tergelincir dalam riunya dunia bahwa ia merasa memiliki segalanya, ada juga yang merasa gamang bahwa ia sejatinya tak memiliki apapun, atau adapula yang berada ditengah-tengah, seimbang dalam melakoni, seimbang dalam merasai.

Bahwa kisah hidup kita istimewa, iya betul. Tiap kita menjalani scenario masing-masing, menjadi peran utama, kadang menjadi peran pembantu dalam kisah hidup orang lain. Akan tetapi yang lebih berharga dari semuanya, seberapa pintar kita menerjemahkan semua kumpulan hikmah hidup yang sudah kita lalui.

Kadang berat, kadang ringan, kadang biasa saja. Begitu rasanya, sesekali diatas sesekali dibawah, kadang bergelombang kadang tenang, alur cerita masing-masing hidup berbeda bukan. Dan tiap kisah selalu istimewa dari manapersepsi dan dengan kacamata apa melihatnya.

Bahagia, bagaimana bentuknya? Lucu ketika harus mencari-cari jawaban atas ini untuk yang sulit sekali menerima, bahagia untuk sebagian orang menjadi tujuan dalam proses hidupnya, bahagia juga menjadi satu konsep yang sulit diterjemahkan untuk orang yang tidak terbiasa merdeka dari derita, bagaimana untuk sampai puncak sejahteranya jiwa Atau psychological well being?

psychological well-being adalah suatu kondisi seseorang yang bukan hanya bebas dari tekanan atau masalah-masalah mental saja, tetapi lebih dari itu yaitu kondisi seseorang yang mempunyai kemampuan menerima diri sendiri maupun kehidupannya di masa lalu (self-acceptance),


Satu fase awal yang harus dilalui adalah penerimaan diri, dimana tidak semua orang bisa melalui ini dengan tempo yang singkat dan sesaat, bahkan kadang memerlukan waktu seumur hidup, karena dalam proses hidupnya menghadapi masalah yang berulang dan belum selesai dengan dirinya. 

Aspek ini didefinisikan sebagai  karakteristik utama dari kesehatan mental dan juga merupakan karakteristik utama dari seseorang yang mencapai aktualisasi diri yang berfungsi secara optimal dan dewasa. 

Jiwa yang sejahtera juga harus mampu melakukan pengembangan atau pertumbuhan diri (personal growth), secara psikologis seseorang harus berkembang, mengembangkan potensi-potensinya, untuk tumbuh dan maju. 

Pemanfaatkan secara optimal seluruh bakat dan kapasitas yang dimiliki oleh seseorang merupakan hal yang penting dalam psychological well-being. Ia yang terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru berarti  akan terus berkembang bukan hanya mencari suatu titik yang diam di mana semua masalah terselesaikan. 

Dan jalan masih sangat panjang. 

Lanjutkanlah.

Senin, 20 Maret 2017

Cobalah Nyaman dengan "Konformitasmu"

Manusia, lagi-lagi nenelisiknya dari kacamata behavioristik memunculkan hal baru yang menarik untuk semakin dicari tahu atau semakin jeli mengamatinya, bahwa manusia ini memang sangat unik dan memiliki segala kompleksitasnya sebagai seorang individu, maupun jenis mahluk social yang tidak akan terputus hubungannya dalam lingkungan bermasyarakat. Tidak semua seseorang bisa melakukan konformitas dengan baik terhadap lingkungan yang baru, tidak sedikit pula yang memang sudah cekatan dan sangat cair dan mengalir ketika di terjunkan dalam satu kelompok tertentu, hal ini didasarkan pada karakter individu, kebiasaan atapun sifat dasar seseorang tersebut.

Beberapa alasan seseorang melakukan konformitas adalah Keinginan untuk disukai Sebagai akibat internalisasi dan proses belajar, sebagai contoh dimasa kecil kita banyak melakukan konformitas untuk mendapatkan persetujuan dari banyak orang, mengapa persetujuan diperlukan? Karena agar mendapat pujian, Oleh karena pada dasarnya banyak orang senang akan pujian maka banyak orang berusaha untuk konform dengan keadaan, dan ini menjadi satu hal yang lumrah, karena memang manusia memiliki naluri ini gharizah Baqa’ dimana ia memang membutuhkan pengakuan, penghargaan dan segala suatu yang positif tentang dirinya. Disisi lain, seorang manusia juga memiliki rasa takut akan penolakan. Konformitas penting dilakukan agar individu mendapatkan penerimaan dari kelompok atau lingkungan tertentu. Jika individu memiliki pandangan dan perilaku yang berbeda maka dirinya akan dianggap bukan termasuk dari anggota kelompok dan lingkungan tersebut.

Namun ada juga seseorang yang memiliki alasan tersendiri untuk mengabaikan lingkungan, tidak perlu melakukan konformitas karena berada pada zona nyamannya sendiri, merasa bahwa diri mampu, kuat dan banyak melakukan deffence pada dirinya sendiri atau Deindividuasi. Deindividuasi terjadi ketika kita ingin dibedakan dari orang lain, ia merasa special dengan diri nya sendiri, ia akan menolak konform karena tidak ingin dianggap sama dengan yang lain, dengan kesendiriannya ia sudah cukup merasa istimewa. Sebab lain juga bisa karena ingin menjadi orang yang bebas, ia menolak untuk konform karena dirinya memang tidak ingin untuk konform. Menurutnya, tidak ada hal yang bisa memaksa dirinya untuk mengikuti norma ataupun gaya sosial yang ada.

Dengan banyak karakternya, seseorang memang bisa bersikap sesuka hatinya, boleh saja merasa tidak membutuhkan orang lain, akan tetapi harus disadari bahwa manusia juga bagian dari satu kelompok, satu entitas yang terikat dengan yang lain, ingin atau menolak merasa telah merdeka, kadang ada sisi dimana tidak perlu menegarkan diri bahwa memang ia memerlukan konformitas, meskipun sekedar ia berbasa-basi. maka cobalah membuka diri dengan lebih baik lagi, buatlah nyaman dengan cara "konformitas" mu :) 

#celotehan diri mengamati sekitar ^^

Minggu, 19 Maret 2017

Islamisasi Ilmu Psikologi: Antara Memilah dan Memilih

Oleh Rizka Fitri Nugraheni

SEPERTI diketahui, ilmu pengetahuan kontemporer saat ini didominasi oleh Barat. Kata “Barat” yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah pemikiran, bukan bangsa. Ciri-ciri pemikiran Barat salah satunya adalah mengabaikan aspek metafisik (ghaib), seperti wahyu, Tuhan, atau malaikat. Dominasi pemikiran tersebut dapat terlihat dari banyaknya buku-buku dari Barat yang digunakan sebagai acuan dalam perkuliahan. Bagaimanapun juga pemikiran Barat memiliki sisi positif yang bermanfaat bagi ummat manusia. Contoh yang dapat ditemukan di bidang psikologi adalah metode pengukuran dalam psikometri, konsep empati, konsep pola asuh dalam mendidik anak, konsep kognisi seperti memori, berbagai teori motivasi, dan masih banyak lainnya. Semua itu bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagi Muslim.

Majunya psikologi kontemporer yang kebanyakan membahas tingkah laku memang memberi sumbangan bagi Muslim, namun ada satu hal yang tidak tercakup di dalamnya, yaitu konsep jiwa. Psikologi Barat cenderung hanya membahas tingkah laku baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat secara langsung (seperti aktivitas mental). Tidak  bermaksud menafikkan aspek tingkah laku karena itu penting dalam kehidupan manusia (Amber Haque), yang disayangkan adalah tidak adanya aspek jiwa dalam pembahasan Psikologi Kontemporer, sementara dalam Islam jiwa mempengaruhi tingkah laku manusia.

Kita semua sebagai Muslim patut bersyukur karena Islam memiliki konsep jiwa pada manusia, jiwa yang tentu dapat mempengaruhi tingkah laku.

Imam Al-Ghazali dalam buku “Keajaiban Hati” menyatakan bahwa jiwa manusia memiliki empat komponen, yaitu ruh, qalb, nafs, dan ‘aql. Semua itu disebutkan dalam Al-Qur’an dan masing-masing memiliki fungsi tersendiri namun saling berhubungan. Salah satu contoh adalah qalb yang dapat berfungsi sebagai “raja” bagi “kerajaan” jiwa manusia, mampu menangkap pengetahuan tentang Allah, hal-hal spiritual, termasuk baik-buruknya sesuatu. ‘Aql dapat berfungsi sebagai “penasihat” dan menundukkan hawa nafsu. Keduanya berperan dalam konsep ‘iradah (kehendak), yang prosesnya sebagai berikut: seseorang dengan akalnya dapat menangkap dan melihat akibat dari suatu masalah lalu mengetahui jalan terbaiknya. Muncul kemauan, lalu bertindak ke arah kebaikan

Konsep ‘iradah tersebut jika diperhatikan mirip dengan konsep motivasi yang juga masih dibahas dalam psikologi kontemporer. Terdapat kebaikan sebagai tujuan, tindakan sebagai aktivitas, kemauan sebagai dorongan dan semua itu merupakan proses. Seperti yang disampaikan oleh Schunk et al. (2010), yang menyatakan bahwa motivasi adalah proses di mana aktivitas yang mengarah pada tujuan, memiliki dorongan dan bertahan lama. Dari contoh hubungan konsep-konsep tersebut, dapat diketahui bahwa Psikologi dalam Islam sudah ada dari dulu dan psikologi kontemporer dapat disandingkan dengan Islam. Tentu juga bermanfaat bagi Muslim, ketika ilmuwan Muslim dapat memilah, memilih, dan menggunakan ilmu kontemporer secara bijak.
Benar-benar indah jika ilmuwan Muslim dapat memilah dan memilih dengan bijak, namun apa yang terjadi sekarang? Ilmuwan Muslim menjiplak pemikiran dan produk psikologi Barat, dengan menggunakan paradigma Barat dalam memandang berbagai fenomena. Tidak heran jika banyak yang berpendapat bahwa agama, keyakinan, atau hal-hal ghaib yang berlaku dalam Islam tidak berlaku dalam aktivitas keilmuan psikologi. Tidak heran juga ketika banyak ilmuwan psikologi yang tidak menggunakan Islam sebagai worldview dalam meneliti, konseling, ketika belajar, dan menyikapi berbagai teori. Tidak melibatkan Allah dalam motivasi, berorientasi pada kemauan klien ketika konseling, menerima begitu saja kesimpulan penelitian yang bertentangan dengan Islam. Ada sebagian dari ilmuwan Muslim yang tersesat, menjadi agnostik atau ateis. Itu yang menjadi masalah bagi kita sebagai Muslim. Hal itu menunjukkan sebagian ilmu pengetahuan yang beredar sekarang ini menjauhkan manusia dari Allah, padahal dalam pandangan Islam ilmu justru membuat manusia mendekatkan diri pada Allah.

Fenomena itu cukup memprihatinkan dan perlu menjadi perhatian bagi Muslim, sehingga perlu ada upaya Islamisasi ilmu. Gagasan Islamisasi ilmu kontemporer salah satunya dicetuskan oleh Prof. Al-Attas. Menurut Prof S.M.N. Al-Attas, Islamisasi merupakan usaha menjadikan pemikiran Muslim terbebas dari hal-hal yang bertentangan dengan Islam, sehingga banyak di antara Muslim yang memiliki Islamic worldview. Segala hal pun dipandang dari sudut pandang Islam oleh Muslim, bukan sudut pandang yang justru bertentangan dengan Islam. Pemikiran Muslim yang sudah memiliki Islamic worldview akan menghasilkan ilmu yang dapat mendekatkan diri pada Allah, bukan yang bertentangan dengan Islam.

Perlunya Islamisasi ilmu juga berlaku di bidang psikologi karena tidak semua Psikologi Kontemporer dapat diterima dan diaplikasikan pada Muslim. Prof. Malik Badri (sebagai pelopor Islamisasi ilmu) dalam artikelnya  menekankan perlunya adaptasi terhadap Psikologi Barat, karena tanpa adaptasi Psikologi Barat dapat merugikan atau tidak berguna bagi Muslim. Perlu diingat juga bahwa Psikologi Barat tidak membahas unsur jiwa, yang dalam Islam justru sangat diperhatikan. Kekurangan pada Psikologi Barat tetap disikapi dengan bijak. Adaptasi dilakukan hanya pada psikologi yang bertentangan Islam, sedangkan hasil pemikiran yang tidak bertentangan, sekalipun itu dari Barat dapat dimanfaatkan oleh Muslim. Prof. Malik Badri menggunakan terapi dengan cara Islami dan berhasil membantu banyak kliennya sembuh. Beliau dalam buku “Dilema Psikolog Muslim”, menceritakan pengalaman membantu menyembuhkan klien dengan menggunakan Cognitive Behavioral Therapy yang dipadukan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa ilmuwan Muslim dapat menggunakan tes inteligensi, teknik pembuatan alat ukur psikologis, metode penelitian eksperimental, konseling dengan empati, dan hal-hal lain yang tidak bertentangan dengan Islam.  Semua itu dapat digunakan tentu dengan sikap yang bijak.

Ilmuwan psikologi yang memiliki pemikiran Islami meyakini Allah sebagai Rabb, Islam sebagai ad-Din, dan manusia juga sebagai makhluk spiritual yang memiliki jiwa. Dia dalam tiap aktivitas keilmuan psikologi akan ingat bahwa yang diperhatikan bukan sebatas tingkah laku yang terlihat atau terukur. Ada unsur lain di luar itu turut mempengaruhi tingkah laku, yaitu jiwa. Pemikiran seperti itu akan berdampak baik bagi Islamisasi Psikologi. Psikolog Muslim akan menjaga kondisi jiwanya agar selalu bersih dari penyakit hati, sehingga dapat membantu para klien sembuh dari gangguan dengan terapi yang melibatkan aspek jiwa dan mangadopsi metode dari Barat yang tidak bertentangan dengan Islam. Peneliti Muslim akan kritis dalam menyikapi kesimpulan penelitian yang dibaca. Ketika bertentangan dengan Islam, akan dilakukan adaptasi, salah satunya dengan cara menggunakan Islamic worldview dalam menginterpretasikan hasil penelitian. Akan ada usaha memilah mana yang baik dan buruk untuk Muslim, kemudian memilih yang baik, demi keselamatan ummat Islam.

Keselamatan ummat Islam dari hal-hal yang merugikan menjadi fokus dalam Islamisasi ilmu. Tidak bermasuk ekslusif, karena Islam merupakan rahmatalil ‘alamin, namun tidak memaksakan orang-orang selain penganut Islam untuk mengikuti ajarannya. Itu juga berlaku pada psikologi yang perlu diadaptasi, agar pada akhirnya ilmu psikologi yang beredar pantas untuk Muslim.

Adaptasi sebagian ilmu psikologi, sebagai salah satu cara Islamisasi ilmu, dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Cara dapat berbeda, asal esensinya sama. Penggunaan label “Psikologi Islam” atau “Psikologi Islami” semestinya tidak perlu dijadikan masalah, apalagi diperdebatkan. Islam saja memiliki madzab-madzab yang penganutnya tersebar di seluruh dunia, namun semuanya tetap Islam. Sekarang bukan saatnya mempermasalahkan perbedaan cara, namun mempermasalahkan ilmu psikologi yang harus diadaptasi. Masih ada tugas yang lebih penting dan harus dikerjakan oleh ilmuwan Muslim di bidang psikologi: mencerdaskan pelajar Muslim yang belum paham mengenai permasalahan ilmu, agar banyak yg dapat memilah dan memilih, sehingga tercipta produk-produk  psikologi yang dapat dimanfaatkan oleh ummat Islam.
Itu memang tugas yang berat untuk Islamisasi Psikologi. Dibutuhkan  waktu yang panjang dan usaha yang keras. Islamisasi ilmu Psikologi tidak akan lengkap tanpa kesucian hati dan keyakinan terhadap Islam itu sendiri. Semoga kita termasuk orang-orang yang terlibat dalam Islamisasi ilmu Psikologi baik secara langsung maupun tidak langsung, sampai akhirnya Psikologi yang kita terima merupakan ilmu yang dapat mendekatkan diri pada Allah. Dengan begitu, ummat Islam dapat memperoleh keselamatan dunia dan akhirat. Wallahu’alam.*

Penulis Penggiat Komunitas Penggenggam Hujan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Daftar Pustaka
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. (1991). Islam dan Sekularisme. Bandung: Institut Pemikiran Islam dan Pembangunan Insan.
Badri, Malik. Dilema Psikolog Muslim.
Badri, Malik. The Islamization of Psychology Its “why”, its “what”, its “how” and its “who”. Artikel dapat diunduh di http://i-epistemology.net/psychology/60-the-islamization-of-psychology-i….
Imam Al-Ghozali. Keajaiban Hati. Penerbit Khatulistiwa.

Schunk, D. H., Pintrich, P. R., Meece, J. L. (2010). Motivation in Education: Theory, Research, and Applications. New Jersey: Pearson Prentice Hall.

Kamis, 13 Oktober 2016

Perempuan Yang Tak Boleh Dilupakan Sejarah : Ratu Kalinyamat (Ratna Kencana) Srikandi Dari Pulau Jawa.

Sejarah memiliki arti yang begitu berharga dalam kehidupan, sejarah bisa menjadi guru tidak hanya itu sejarah juga merupakan cermin dan perwujudan keberhasilan suatu peradaban, seperti hal nya ketika kita menelisik kembali sejarah kejayaan Islam, pun saat kita melihat sejarah atas kemunduran ummat Islam pada masa sekarang ini. Allah swt dalam Al-qur’an telah memberikan banyak sekali penjelasan tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa penting yang disampaikan melalui Rasullah saw, tidak hanya sekedar memberikan informasi kisah teladan dan peringatan, namun juga memberikan kontribusi informasi disertai fakta yang tidak diragukan lagi kebenarannya, agar ummat Islam mengambil ibrah dan hikmah pada tiap episode kehidupan manusia yang mulia terdahulu.

Sejarah dalam Islam tidak hanya memainkan fungsinya sebagai pengajaran, melainkan ada sisi lain seperti nasehat (mau’idzah), peringatan (nakala), petunjuk (hudan), rincian (tafshil), menetapkan (tsabit), juga peneguhan (tsadiq). Olehnya begitu sangat pentingnya bagi kita ummat Islam untuk kembali mempelajari sejarah, memahami tiap detail rincian nya, agar ummat tak lagi dibutakan bahwa kita pernah menyongsong kegemilangan dan kejayaan yang sepatutnya memang menjadi hak-hak ummat Islam sebagai “khairu ummah”.

Konstantinopel, merupakan kota yang ditaklukan oleh panglima dan pasukan terbaik pada 1453, Muhammad al-fatih menjadi peran utama dan “artis” populer di masa itu, seorang panglima dan pemimpin yang membuktikan akan ucapan Baginda Rasulullah saw manusia pujaan seluruh alam, “suatu saat konstantinopel akan takluk ditangan pemimpin (Islam) ditangan nya, dialah sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pasukan” maka peristiwa takluknya konstantinopel pada 29 mei 1453 menjadi sejarah yang amat berharga bagi kaum muslimin, bahkan hingga saat ini dan yang akan datang.

Kalinyamat, nama lain seorang Retna kencana dari Jepara. Retna kencana adalah sang Ratu penguasa lautan dalam masa kepemimpinannya, salah satu perempuan yang dimiliki oleh Islam sebagai pejuang dien Allah. Menegakan Islam dengan mengerahkan seluruh jiwa dan hidupnya, perjuangan yang luar biasa telah ia tempuh sebagai bakti taat pada Allah juga Rasul nya, salah satu Ratu yang dimiliki oleh wilayah Nusantara ini.

Jepara merupakan bagian dari kerajaan Demak saat itu, bahkan jepara berhasil menjadi daerah yang amat disegani ketika berada dalam naungan kepemimpinan Retna kencana. Seorang Ratu yang berkuasa selama 30 tahun masa pemerintahannya, berhasil menyandang gelar “Rainha de Jepara, Senhora paderosa erica” penulis portugis Diego de Couto menjuluki demikian yang berarti “Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan berkuasa” ia berhasil membawa Jepara kepada tingkat kejayaan nya.

Ratu Kalinyamat merupakan putri dari Pangeran Trenggana, yang merupakan cucu Raden Patah. Sang ratu tumbuh pada masa konflik antara ayah nya dengan saudara nya yaitu pangeran sekar, dimana antara ayah Retna kencana yaitu Pangeran trenggana berebut kekuasaan dengan Pangeran sekar, sengketa ini bermula ketika diantara kedua saudara ini memperjuangkan siapa yang paling berhak memenangkan singgasana kerajaan dan siapa yang berhak bertahta. Pangeran Trenggana merupakan putra Raden patah dari istri pertama (Putri Sunan Ampel), sedangkan pangeran sekar adalah putra raden patah dari istri ke-tiga (Putri bupati Jipang-Blora).

Pada puncak perselisihan perebutan kekuasaan ini berujung tragis dengan terbunuhnya Pangeran sekar, oleh Pangeran Prawata (putra pangeran Trenggana), karena pangeran Sekar dianggap sebagai penghalang utama dalam pewarisan tahta pangeran Trenggana. Konflik internal dalam keluarga besar ini semakin merumit dan berkepanjangann. Putra Raden Sekar yaitu Arya Penangsang bertekad untuk menuntut balas atas kematian ayahnya dan dengan orang suruhannya berhasil membunuh Pangeran Prawoto beserta keluarganya. Setelah kematian Raden Prawoto, suami dari ratna kencana yaitu Raden Hdiri naik tahta. Namun masa kepemimpinan Raden Hadiri tidak sampai satu tahun menjabat sebgai sunan Demak, karena ia juga dibunuh oleh Arya Penangsang. Sepeninggal suaminya, Ratna Kencana naik tahta ia menyusun strategi untuk melawan Arya Penangsang, akhirnya konflik tak terelakan dan Arya Penangsang gugur dalam pertempuran kemudian Ratna Kencana Resmi menjadi Ratu jepara dan mendapat gelar Ratu Kalinyama. Penobatannya ditandai dengan sengkalan tahun (candra sengkala) Trus Karya Tataning Bumi, yang diperhitungkan tepat pada 10 April 1549.

Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara begitu banyak perkembangan pesat dan menjadi kota pelabuhan terbesar dipantai utara jawa dan memiliki armada laut yang besar dan kuat pada abad ke -16. Meskipun pada hakikatnya Jepara merupakan bagian dari kesultanan Demak, secara de-facto Jepara memiliki kekuasaan dan kewibawaan yang lebih tinggi. Pada saat itu kesultanan Demak dipimpin oleh Pangeran Pangiri putra bungsu Pangeran Trenggana. Akan tetapi Jepara memberikan pengaruh yang lebih besar ketimbang Demak saat itu,disebabkan Jepara sangat kuat dalam perekonomian dan militernya.

Pelabuhan Jepara menjadi tempat transaksi perdagangan berskala internasional, Ratu Kalinyamat memungut cukai pada tiap kapal yang bertransaksi dipelabuhan Jepara, dari hasil itu perekonomian Jepara menjadi semakin berkembang dan menjadi kota yang makmur, kaya raya. Sehingga mampu membangun armada laut yang sangat kuat untuk melindungi kerajaannya yang bercorak maritim.

Jepara merupakan kerajaan maritim yang bercorak Islam, sehingga begitu disegani oleh kerajaan Islam lainnya, Jepara sudah sangat tersohor dipelosok Nusantara sehingga banyak kerajaan-kerajaan yang meminta bantuak kepada kerajaan Jepara untuk melindungi negrinya. Ratu kalinyamat sangat berpengaruh di pulau jawa, sehingga bisa menjalin kerjasama diplomatik dengan kerajaan maritim lainnya seperti kerajaan Johor, Aceh, Banten, Cirebon, dan Demak.

Ratu kalinyamat berhasil membawa nama Jepara dalam kancah dunia internasional dengan mengirimkan dua kali ekpedisi ke selat malaka saat perang melawan Portugis, meski dalam dua kali ekspedisi itu telah gagal dalam menjalankan misinya, namun hal itu telah membuktikan bahwa Ratu Kalinyamat adalah perempuan pertama yang berkuasa dan orang-orang portugis mengakui kebesarannya dan perjuangannya.

Sungguh Ratu Kalinyamat adalah perempuan tangguh nan berani, dan keberaniannya jarang ditemui pada perempuan jawa ningrat lainnya. Keberanian dan perjuangannya telah diakui baik oleh kawan maupun lawannya. Perempuan pejuang yang namanya akan selalu abadi dalam sejarah peradaban Islam Nusantara, perempuan yang memiliki kehormatan dan mulia dimata seluruh rakyatnya. Semoga tak berhenti hanya disini, semoga Nusantara tetap dapat melahirkan Ratna Kencana lainnya, dari bumi pertiwi yang tidak hanya membela bangsa dan negara namun yang lebih dari itu adalah pembelaan Aqidah nya dalam pembuktiaan keimanaan dan kemuliaan Dien nya.

Ratu Kalinyamat, wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di samping makam suaminya, yang terletak di desa mantingan, kecamatan Tahunan, 5 km kearah selatan dari pusat kota Jepara.



Sumber bacaan : Permpuan Pejuang-Widi astuti –konstanta publishing house-2013

Rabu, 09 Maret 2016

Ibu

Aku tidak tahu, kalimat syukur seperti apalagi yang harus aku panjatkan untuk hadiah terbesarku dalam kehidupanku saat ini, dirimu ibuku.. kau segalanya bahkan kau menjadi nafas dalam tiap gerakku, penyemangat hidup karena surga ku ada ditelapak mu,

Ya Allah, begitu baiknya Engkau menganugerahi aku ibu seperti ini, betapa mulianya Engkau memberikan sosok malaikat berwujud manusia yang anggun dan cantik nya ia..

Bu, bolehkah aku bertanya, hatimu terbuat dari apa? Mengapa begitu kuat dan tegarnya, kadang takdir sering tak berphak padamu, takdir jahat sekali tak pernah mengerti kondisi hatimu yang sedang luka dan terbelah, takdir tetap saja datang padamu, membawa banyak kesedihan dan bencana yang gemuruhnya merontokan jantung mu, perasaan mu yang tergilas, air matamu yang habis terkuras...

Bu, hatimu terbuat dari apa? Hingga kau menjadi sekuat ini? Kadang aku cemburu padamu, tiap ujian yang datang, kau melalui nya dengan sendirian, mereka yang dekat dengan mu justru orang-orang yang paling sering melukaimu,

Bu hatimu terbuat dari apa? Aku bahkan ketar –ketir saat harus memposisikan diri menjadi sepertimu, aku menjadi manusia paling cengeng saat ku tahu ada yang menusuk hatimu, saat ada yang menggoreskan dan membuat air matamu mengalir karena kesedihan, aku adalah orang pertama yang selalalu menahan amarah dan menyembunyikan sesakan air mata dibawah bantal, karena aku tak ingin tunjukan air mataku dihadapan mu.

Bu, betapa tersakitinya aku saat mereka menanamkan jeruji berkarat yang membuat hatimu iritasi, lukanya tak sembuh dalam hitungan hari bahkan menahun, hatimu menjadi infeksi dan berdarah-darah.

Bu, aku ingin sampaikan bahwa hatiku juga terluka parah, aku seperti patah hati, aku juga tersakiti saat engkau terdzalimi..

Lagi-lagi aku harus bertanya berulang kali, bu hatimu terbuat dari apa? Mengapa begitu mudahnya engkau menerima segalanya, mudah memberi maaf pada mereka sang tersangka, mudahnya engkau bersabar, meski hatimu telah hancur tertatar...

Bu, aku terdiam seribu bahasa, aku tidak bisa utarakan rasa hatiku, begitu kagumnya aku padamu, aku selalu berusaha menyeka luka ku, menyembuyikan lelehan air mata darimu, sebisa ku aku selalu nampak sumringah dihadapan mu, ternyata kau pun lebih pandai dariku, menyoal sembunyikan rasa sakit hati, kau selalu didepan untuk menyelisihi.

Bu, sekali lagi .. aku bertanya padamu, hatimu terbuat dari apa? Aku ingin meneladani, tapi aku sendiri masih tergpoh bahkan tak mampu berdiri sendiri, aku selalu berdoa untukmu, moga Allah menghadiahi mu surga terbaik Nya, surga terindah Nya, surga yang paling cantik tiada duanya..

Tiap hari aku mendoa tanpa sepengetahuan mu, bahwa tiap hari aku juga menangis mengadu, mengiba penuh kasihan, segala rasa ingin ku pada Nya aku kembalikan..

Ibuku yang paling aku cintai melebihi jiwa dan ragaku, mungkin bosan juga kau mendengar gombalanku, bahkan tiap hari aku katakan aku mencintaimu, aku berharap aku menjadi penguatmu, meski aku bukan obat yang akan menjadi penyembuh semua lara dan luka mu..


Bu, aku mencintaimu selalu.. selalu.. dan selalu begitu...

*selamat hari ibu tiap hari, tiap detik, tiap waktu :)

Rabu, 02 Maret 2016

Ukhuwah Yang Terdistorsi Ego

Aku tidak mengerti dengan mereka, atau mereka yang tidak mengerti aku? Aku belajar memahami namun seolah ada benteng dan tembok besar dihadapanku ketika aku ingin menilik lebih jauh sebabnya, aku tidak tahu mengapa aku bingung.. semoga ini hanya kesalahpahaman sementara agar dihatiku tak ada dengki maki lebih dalam lagi..

Ukhuwah adalah ikatan, ia tak sekedar pengerat tali persaudaraan atas dasar iman.. ia tak hanya simbolis yang dirinya mengaku Islam didalam satu lingkup tempat berteduh seperti dibawah pohon besar yang lebat daunnya, namun banyak pula buahnya.

Aku ingin berkaca lagi, ukhuwah macam apa ini, ketika interaksi menjadi terasa pahit melilit lidah seakan terasa serak dikerongkongan, iyakah hanya sebatas saapan gombal yang tiada nilai dan ruh ikatan akidah didalamnya?

Aku harus bermuhasabah lagi, ini tentang rasa saling mengasihi kepada saudara seiman, ketika mengingatkan dengan cara yang baik, bukan malah membuat hatinya makin tercabik-cabik. Pun ini tentang bagaimana bersikap dan berakhlak kepada saudara, tentunya nama mereka harus ada ditiap lipatan doa-doa kita, bukan sebaliknya mengumpat dan maki cela keluar dari mulut busuk kita.

“Mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran”, begitulah ayat Allah yang indah lagi menentramkan jiwa, kalimat – Nya seharusnya menjadi penggugah cinta dalam jiwa, kesadaran penuh atas diri kepada yang lain, bukan sekedar kata yang main-main.

Kita telah lama bersengketa, tidak sekedar urusan dunia, tetapi juga tentang surga dan neraka, saling menuding dan tindih merasa benar masing-masing, sampai-sampai saudara seiman menjadi pihak terasing, kita menjadi berlepas dan berkelompok, yang satu dengan yang lainnya saling memojok, bertikai lantas hancur seperti debu, lupa pada musuh sebenarnya yang harus kita serbu.

Ya Rabbi, nelangsanya kami.. bahkan Al-qur’an kami lalaikan, tak menjadikannya sebagai pedoman mengikatkan persaudaraan, ukhuwah kami retak terbelah, lebih tinggi ego atas nama harakah...

Ohh ya Rabbi, betapa kasihan kami ini, sibuk mencari aib saudara sendiri, aib dalam diri lupa kami koreksi, sibuk memerintah agar yang lain begini dan begitu, lupa pada diri yang juga ikut tertipu. Mereka yang tak suka dengan kami tertawa bahagia karena kami saling cacah, sedangkan mereka bersorak dengan wajah penuh sumringah.

Kekuatan menjadi hilang perlahan, ikatan tumbang satu demi satu tak terelakan, ilmu makin sempit, rasa ukhuwah makin kecil terapit, cita-cita yang semula menjadi tujuan bersama, akhirnya bertebaran menjadi banyak cara dan jalan dalam mencapainya, nyatanya pun tak sampai-sampai kemana sebenarnya arahnya.


Ini bukan tentang “aku” saja, ini tentang “kau” juga, bahkan “dia” yang seharusnya menjadi “kita”, bisakah kita bergandengan lagi? Dalam tiap suasana membersamai? Bisakah kita saling mendukung? Dalam tiapa cuaca panas atau mendung. Bisakah kita tetap dalam satu ikatan? Meski jalan dan cara kita saling berhadapan, tapi itu tak jadikan kita saling bertentangan?


Bisakah? 


Bisakah? 

Ilmu dan Peradaban

“Ilmu itu merupakan tempat persemaian tiap kemuliaan, olehnya taburkanlah kemuliaan itu dan engkau harus amat berhati-hati jikapun tempat persemaian itu tak melahirkan suatu kebanggaan ...”
“Dan ketahuilah, bahwa ilmu tak akan didapat dari seseorang yang cita-cita hidupnya hanya tertuju pada makanan dan pakaian...”
Imam Syafi’i

Imam sya’fii menceritakan, bahwa beliau sudah menghafal al-qur’an saat berusia 7 tahun, dan menghafal kitab al-muttawatha karya imam malik pada umur 10 tahun, keinginan imam syafii dalam ilmu agama sangatlah masyhur dan mendapat pengakuan yang luas, pada saat usia beliau 18 tahun beliau sudah diminta oleh para ulama agar bisa memberikan sumbangsih fatwa. Yang berarti sebagai pengakuan atas statusnya sebagai seorang mujtahid, bahkan imam Ahmad bin hambal menyatakan bahwa Imam ay-syafii adalah orang yang sangat memahami al-qur’an dan sunnah Rasulullah, beliau tidak pernah merasa jenuh untuk mencari dan mengumpulkan hadist. Hingga Imam ahmad berujar “ tiada seorang pun yang memegang pena dan tinta kecuali dia berfigur kepada imam as-syafii”

Seperti hal nya sang Imam Syafii lah seharusnya kita bercermin, mencuatkah ghirah pada ilmu dan kecintaannya yang mendalam menusuk puncak cita-cita, tiada memisahkan antara ilmu dan amalan, tiada juga mereduksi ilmu hanya pada selembar gelar yang hanya bermuara pada urusan hasrat dan nasfu semu dunia.

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi tradisi ilmu dan begitu menghargai ilmu, suatu saat Sayyidina Ali didatangi beberapa orang yang menanyakan manakah yang lebih utama ketimbang Ilmu dan harta?, Sahabat Rasul itu pun menjawab, “lebih mulia ilmu, ilmu akan menjagamu, sedangkan harta, kamu yang harus menjaganya, ilmu ketika kamu berikan maka ia akan bertambah, sedangkan harta, akan berkurang, ilmu adalah warisan para nabi, harta warisan Firaun dan Qarun, ilmu menjadikan dirimu bersatu, dan harta bisa menjadikan dirimu terpecah belah dan seterusnya..

Kecintaan kita kepada Ilmu seharusnya menjadi selaras dengan apa yang kita imani, jiwa yang terus merasa muda dan haus untuk mencari tentang hakikat ilmu, ilmu yang bersandar dari kebenaran.

Tiada satupun peradaban didunia ini yang tidak berdiri atas ilmu, ilmu menjadi pondasi dan pijakan pertama untuk sebuah peradaban yang kokoh, tanpa kecuali peradaban Islam, Rasulullah saw, adalah role model yang memberikan andil terbesar dan tradisi peradaban Islam, sang Rasul yang menjadi pujaan seluruh ummat Islam telah membuat dan berhasil mempengaruhi para sahabat nya menjadi manusia-manusia yang “gila” akan ilmu.

Tradisi ilmu yang didorong oleh nilai-nilai alqur’an telah berhasil mendaur ulang bahkan merombak pemikiran-pemikiran para sahabat yang jahil, memberikan pencerahan dan jalan terang bagi para sahabat, sehingga pengetahuan dan akhlak yang mulia termanifestasi dalam tiap lisan dan gerakan. Mereka yang semula adalah generasi-generasi arab jahiliyah yang sama sekali tak diperhitungkan dalam pergolakan dunia, berhasil menjadi para pemimpin kelas dunia yang amat disegani di sejagat dunia pada masa itu.

Menurut Prof. Syed Al-attas, Dalam membangun peradaban Islam, mau tidak mau harus dilakukan melalui proses pendidikan yang disebutnya sebagai “ta’dib” tujuan utamanya adalah membentuk manusia yang beradab, manusia yang memiliki adab, adab adalah disiplin rohani, akil, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakan segala sesuatu pada tempatnya, secara benar dan wajar. Sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat juga lingkungannya. Kemudian selanjutnya hasil dari adab ialah mengenal Allah swt dan “meletakkan-Nya” ditempat-Nya dan wajar dalam melakukan ibadah dan amal shaleh pada tahap Ihsan. Sehingga inilah yang mampu menepis tujuan materialistis dari ilmu yang meletakan ilmu pada posisi yang sebenarnya. Karena tujuan ilmu yang tertinggi adalah mengenal Allah swt.

Karena puncak dari orang-orang yang berilmu secara benar adalah menemukan bahwa “tiada Tuhan selain Allah” ketika ia tulus dan penuh keiklasan akan ilmunya tentu tiada rasa dengki dan memutus semua rasa kecongkakan dan kesombongan dalam hatinya, yang berakhir pada penerimaan kebenaran hanya dari Allah secara mutlak, dan melakoni ibadah secara benar sebagai ungkapan rasa syukur kepada Nya.


Maka ketika kita berazam menjadi insan yang mencapai taraf ihsan, maka memulai nya adalah dengan memiliki ilmu, konsep ilmu yang diaplikatifkan dalam adab yang benar, akan menggiring masyarakat pada peradaban yang maju pula.