Rabu, 09 Maret 2016

Ibu

Aku tidak tahu, kalimat syukur seperti apalagi yang harus aku panjatkan untuk hadiah terbesarku dalam kehidupanku saat ini, dirimu ibuku.. kau segalanya bahkan kau menjadi nafas dalam tiap gerakku, penyemangat hidup karena surga ku ada ditelapak mu,

Ya Allah, begitu baiknya Engkau menganugerahi aku ibu seperti ini, betapa mulianya Engkau memberikan sosok malaikat berwujud manusia yang anggun dan cantik nya ia..

Bu, bolehkah aku bertanya, hatimu terbuat dari apa? Mengapa begitu kuat dan tegarnya, kadang takdir sering tak berphak padamu, takdir jahat sekali tak pernah mengerti kondisi hatimu yang sedang luka dan terbelah, takdir tetap saja datang padamu, membawa banyak kesedihan dan bencana yang gemuruhnya merontokan jantung mu, perasaan mu yang tergilas, air matamu yang habis terkuras...

Bu, hatimu terbuat dari apa? Hingga kau menjadi sekuat ini? Kadang aku cemburu padamu, tiap ujian yang datang, kau melalui nya dengan sendirian, mereka yang dekat dengan mu justru orang-orang yang paling sering melukaimu,

Bu hatimu terbuat dari apa? Aku bahkan ketar –ketir saat harus memposisikan diri menjadi sepertimu, aku menjadi manusia paling cengeng saat ku tahu ada yang menusuk hatimu, saat ada yang menggoreskan dan membuat air matamu mengalir karena kesedihan, aku adalah orang pertama yang selalalu menahan amarah dan menyembunyikan sesakan air mata dibawah bantal, karena aku tak ingin tunjukan air mataku dihadapan mu.

Bu, betapa tersakitinya aku saat mereka menanamkan jeruji berkarat yang membuat hatimu iritasi, lukanya tak sembuh dalam hitungan hari bahkan menahun, hatimu menjadi infeksi dan berdarah-darah.

Bu, aku ingin sampaikan bahwa hatiku juga terluka parah, aku seperti patah hati, aku juga tersakiti saat engkau terdzalimi..

Lagi-lagi aku harus bertanya berulang kali, bu hatimu terbuat dari apa? Mengapa begitu mudahnya engkau menerima segalanya, mudah memberi maaf pada mereka sang tersangka, mudahnya engkau bersabar, meski hatimu telah hancur tertatar...

Bu, aku terdiam seribu bahasa, aku tidak bisa utarakan rasa hatiku, begitu kagumnya aku padamu, aku selalu berusaha menyeka luka ku, menyembuyikan lelehan air mata darimu, sebisa ku aku selalu nampak sumringah dihadapan mu, ternyata kau pun lebih pandai dariku, menyoal sembunyikan rasa sakit hati, kau selalu didepan untuk menyelisihi.

Bu, sekali lagi .. aku bertanya padamu, hatimu terbuat dari apa? Aku ingin meneladani, tapi aku sendiri masih tergpoh bahkan tak mampu berdiri sendiri, aku selalu berdoa untukmu, moga Allah menghadiahi mu surga terbaik Nya, surga terindah Nya, surga yang paling cantik tiada duanya..

Tiap hari aku mendoa tanpa sepengetahuan mu, bahwa tiap hari aku juga menangis mengadu, mengiba penuh kasihan, segala rasa ingin ku pada Nya aku kembalikan..

Ibuku yang paling aku cintai melebihi jiwa dan ragaku, mungkin bosan juga kau mendengar gombalanku, bahkan tiap hari aku katakan aku mencintaimu, aku berharap aku menjadi penguatmu, meski aku bukan obat yang akan menjadi penyembuh semua lara dan luka mu..


Bu, aku mencintaimu selalu.. selalu.. dan selalu begitu...

*selamat hari ibu tiap hari, tiap detik, tiap waktu :)

Rabu, 02 Maret 2016

Ukhuwah Yang Terdistorsi Ego

Aku tidak mengerti dengan mereka, atau mereka yang tidak mengerti aku? Aku belajar memahami namun seolah ada benteng dan tembok besar dihadapanku ketika aku ingin menilik lebih jauh sebabnya, aku tidak tahu mengapa aku bingung.. semoga ini hanya kesalahpahaman sementara agar dihatiku tak ada dengki maki lebih dalam lagi..

Ukhuwah adalah ikatan, ia tak sekedar pengerat tali persaudaraan atas dasar iman.. ia tak hanya simbolis yang dirinya mengaku Islam didalam satu lingkup tempat berteduh seperti dibawah pohon besar yang lebat daunnya, namun banyak pula buahnya.

Aku ingin berkaca lagi, ukhuwah macam apa ini, ketika interaksi menjadi terasa pahit melilit lidah seakan terasa serak dikerongkongan, iyakah hanya sebatas saapan gombal yang tiada nilai dan ruh ikatan akidah didalamnya?

Aku harus bermuhasabah lagi, ini tentang rasa saling mengasihi kepada saudara seiman, ketika mengingatkan dengan cara yang baik, bukan malah membuat hatinya makin tercabik-cabik. Pun ini tentang bagaimana bersikap dan berakhlak kepada saudara, tentunya nama mereka harus ada ditiap lipatan doa-doa kita, bukan sebaliknya mengumpat dan maki cela keluar dari mulut busuk kita.

“Mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran”, begitulah ayat Allah yang indah lagi menentramkan jiwa, kalimat – Nya seharusnya menjadi penggugah cinta dalam jiwa, kesadaran penuh atas diri kepada yang lain, bukan sekedar kata yang main-main.

Kita telah lama bersengketa, tidak sekedar urusan dunia, tetapi juga tentang surga dan neraka, saling menuding dan tindih merasa benar masing-masing, sampai-sampai saudara seiman menjadi pihak terasing, kita menjadi berlepas dan berkelompok, yang satu dengan yang lainnya saling memojok, bertikai lantas hancur seperti debu, lupa pada musuh sebenarnya yang harus kita serbu.

Ya Rabbi, nelangsanya kami.. bahkan Al-qur’an kami lalaikan, tak menjadikannya sebagai pedoman mengikatkan persaudaraan, ukhuwah kami retak terbelah, lebih tinggi ego atas nama harakah...

Ohh ya Rabbi, betapa kasihan kami ini, sibuk mencari aib saudara sendiri, aib dalam diri lupa kami koreksi, sibuk memerintah agar yang lain begini dan begitu, lupa pada diri yang juga ikut tertipu. Mereka yang tak suka dengan kami tertawa bahagia karena kami saling cacah, sedangkan mereka bersorak dengan wajah penuh sumringah.

Kekuatan menjadi hilang perlahan, ikatan tumbang satu demi satu tak terelakan, ilmu makin sempit, rasa ukhuwah makin kecil terapit, cita-cita yang semula menjadi tujuan bersama, akhirnya bertebaran menjadi banyak cara dan jalan dalam mencapainya, nyatanya pun tak sampai-sampai kemana sebenarnya arahnya.


Ini bukan tentang “aku” saja, ini tentang “kau” juga, bahkan “dia” yang seharusnya menjadi “kita”, bisakah kita bergandengan lagi? Dalam tiap suasana membersamai? Bisakah kita saling mendukung? Dalam tiapa cuaca panas atau mendung. Bisakah kita tetap dalam satu ikatan? Meski jalan dan cara kita saling berhadapan, tapi itu tak jadikan kita saling bertentangan?


Bisakah? 


Bisakah? 

Ilmu dan Peradaban

“Ilmu itu merupakan tempat persemaian tiap kemuliaan, olehnya taburkanlah kemuliaan itu dan engkau harus amat berhati-hati jikapun tempat persemaian itu tak melahirkan suatu kebanggaan ...”
“Dan ketahuilah, bahwa ilmu tak akan didapat dari seseorang yang cita-cita hidupnya hanya tertuju pada makanan dan pakaian...”
Imam Syafi’i

Imam sya’fii menceritakan, bahwa beliau sudah menghafal al-qur’an saat berusia 7 tahun, dan menghafal kitab al-muttawatha karya imam malik pada umur 10 tahun, keinginan imam syafii dalam ilmu agama sangatlah masyhur dan mendapat pengakuan yang luas, pada saat usia beliau 18 tahun beliau sudah diminta oleh para ulama agar bisa memberikan sumbangsih fatwa. Yang berarti sebagai pengakuan atas statusnya sebagai seorang mujtahid, bahkan imam Ahmad bin hambal menyatakan bahwa Imam ay-syafii adalah orang yang sangat memahami al-qur’an dan sunnah Rasulullah, beliau tidak pernah merasa jenuh untuk mencari dan mengumpulkan hadist. Hingga Imam ahmad berujar “ tiada seorang pun yang memegang pena dan tinta kecuali dia berfigur kepada imam as-syafii”

Seperti hal nya sang Imam Syafii lah seharusnya kita bercermin, mencuatkah ghirah pada ilmu dan kecintaannya yang mendalam menusuk puncak cita-cita, tiada memisahkan antara ilmu dan amalan, tiada juga mereduksi ilmu hanya pada selembar gelar yang hanya bermuara pada urusan hasrat dan nasfu semu dunia.

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi tradisi ilmu dan begitu menghargai ilmu, suatu saat Sayyidina Ali didatangi beberapa orang yang menanyakan manakah yang lebih utama ketimbang Ilmu dan harta?, Sahabat Rasul itu pun menjawab, “lebih mulia ilmu, ilmu akan menjagamu, sedangkan harta, kamu yang harus menjaganya, ilmu ketika kamu berikan maka ia akan bertambah, sedangkan harta, akan berkurang, ilmu adalah warisan para nabi, harta warisan Firaun dan Qarun, ilmu menjadikan dirimu bersatu, dan harta bisa menjadikan dirimu terpecah belah dan seterusnya..

Kecintaan kita kepada Ilmu seharusnya menjadi selaras dengan apa yang kita imani, jiwa yang terus merasa muda dan haus untuk mencari tentang hakikat ilmu, ilmu yang bersandar dari kebenaran.

Tiada satupun peradaban didunia ini yang tidak berdiri atas ilmu, ilmu menjadi pondasi dan pijakan pertama untuk sebuah peradaban yang kokoh, tanpa kecuali peradaban Islam, Rasulullah saw, adalah role model yang memberikan andil terbesar dan tradisi peradaban Islam, sang Rasul yang menjadi pujaan seluruh ummat Islam telah membuat dan berhasil mempengaruhi para sahabat nya menjadi manusia-manusia yang “gila” akan ilmu.

Tradisi ilmu yang didorong oleh nilai-nilai alqur’an telah berhasil mendaur ulang bahkan merombak pemikiran-pemikiran para sahabat yang jahil, memberikan pencerahan dan jalan terang bagi para sahabat, sehingga pengetahuan dan akhlak yang mulia termanifestasi dalam tiap lisan dan gerakan. Mereka yang semula adalah generasi-generasi arab jahiliyah yang sama sekali tak diperhitungkan dalam pergolakan dunia, berhasil menjadi para pemimpin kelas dunia yang amat disegani di sejagat dunia pada masa itu.

Menurut Prof. Syed Al-attas, Dalam membangun peradaban Islam, mau tidak mau harus dilakukan melalui proses pendidikan yang disebutnya sebagai “ta’dib” tujuan utamanya adalah membentuk manusia yang beradab, manusia yang memiliki adab, adab adalah disiplin rohani, akil, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakan segala sesuatu pada tempatnya, secara benar dan wajar. Sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat juga lingkungannya. Kemudian selanjutnya hasil dari adab ialah mengenal Allah swt dan “meletakkan-Nya” ditempat-Nya dan wajar dalam melakukan ibadah dan amal shaleh pada tahap Ihsan. Sehingga inilah yang mampu menepis tujuan materialistis dari ilmu yang meletakan ilmu pada posisi yang sebenarnya. Karena tujuan ilmu yang tertinggi adalah mengenal Allah swt.

Karena puncak dari orang-orang yang berilmu secara benar adalah menemukan bahwa “tiada Tuhan selain Allah” ketika ia tulus dan penuh keiklasan akan ilmunya tentu tiada rasa dengki dan memutus semua rasa kecongkakan dan kesombongan dalam hatinya, yang berakhir pada penerimaan kebenaran hanya dari Allah secara mutlak, dan melakoni ibadah secara benar sebagai ungkapan rasa syukur kepada Nya.


Maka ketika kita berazam menjadi insan yang mencapai taraf ihsan, maka memulai nya adalah dengan memiliki ilmu, konsep ilmu yang diaplikatifkan dalam adab yang benar, akan menggiring masyarakat pada peradaban yang maju pula.

Jumat, 05 Februari 2016

Refleksi Niat dan Iman


Memang, memperbaiki niat itu harus setiap hari. bertanya tiap kali pada hati saat ingin melakukan amalan, iyakah untuk mendapat pahala yang Allah janjikan? atau ia dilakukan hanya untuk sebatas mencari sanjungan. melepas dahaga ria, yang gemuruhnya ada di jiwa.

Jika yang kita cari adalah berkah, dalam tiap ibadah, lantas mengapa masih merasa pongah?,  Jika yang dicari adalah surga,  lantas mengapa kita makin tergelincir ke arah neraka? Lagi-lagi untuk tiap kerja, kita akan bertanya. luruskah niatnya? Atau hanya ingin berharap banyak dilihat mata..?

Iman, mengharuskan pelakunya bergerak dengan pembuktian, tak sekedar lisan dan ucapan-ucapan, pun Taqwa ia nya akan terindra, dari gerak yang refleksi nya sampai ke laku dari dalam dada,

Siapa yang bisa melihat iman dihati? Tak ada, kecuali hanya Allah yang berhak menjustfikasi, siapa yang bisa melihat besarnya niatmu? Selain dirimu?

Iya benar sekali, sandungan ria dan pujian nyatanya  melenakan, membawa jiwa yang rakus dunia, tergelincir pada yang tercela, ya Rabb sakit sekali jiwa kami, istigfar berkali-kali pun tak cukup mengobati..

Kita, pandai sekali beretorika, dengan banyak dibungkus bahasa intelektual, seolah menjadi barang mahal, tapi sebenarnya hanya pembual. Menasihati dalam perkara taqwa, namun sendirinya juga penuh luka cela.

Iman, yang sejatinya ia adalah tanda. Kita berada digolongan mana, ucapan dan lisan, yang ia pun menjadi penafsir, sesuai nyata atau sebatas syair. Juga laku dan gerak, menjadi cermin, digolongan mana kita berpijak dan berpihak.

Semuanya mewajibkan untuk satu sinergi, hingga tak ada timpang sana dan sini. Semua harus selurus, agar dengki dan ujub tak cukup hebat untuk menggerus. Semua harus beriringan, agar jalan menuju ridha terasa ringan.

Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, begitu kata Allah dalam Al-qur’an. Semoga Allah selalu menyirami hati, melalui ayat Nya, yang bijaksana dan luar biasa. mudah-mudahan tiap kita saling bisa menginsafi, supaya tak saling menyakiti.

Dan tentang niat dan keimanan, moga kian hari makin menawan, makin berani pada nafsu untuk kita lawan dan redupkan...

Jum’at berkah, moga banyak ampunan yang melimpah ruah...



05 pebruari 2016, sudut kamarku..


Sabtu, 30 Januari 2016

Fitrah Seksualitas (3)


Islam memiliki konsep untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya, harus ada pengembalian fitrah secara reguler, dilakukan setiap hari, dan berulang-ulang. Sebagai contoh Ada pasangan yang 10 tahun menikah diantara pasangan ini ada yang merasa sudah bosan dan tidak ada ketertarikan seksual apapun, inipun merupakan penyimpangan, banyak wanita muslimah yang terdidik, menganggap busana seksi di hadapan suami itu bukan suatu yang urgent. Dalam banyak kasus seringkali, busana akhwat (perempuan) didalam dan diluar rumah hanya melepas kerudung, tidak memperhatikan seksualitas suaminya. Atau sebaliknya sang suami yang juga tidak memperhatikan seksualitas si perempuan, sehingga terjadi penyimpangan-penyimpangan. Inilah yang sebenarnya menjadi virus-virus kecil setiap tahun, lantas ini menjadi sebab mengapa kita harus terus memperbaiki.

Allah banyak berbicara sesuatu yang pro fitrah, Allah memerintahkan manusia untuk bisa mengontrol fitrah nya, seperti puasa pada dasarnya adalah melakukan hal yang dijadikan sebagai kontrol seperti dibulan puasa, dengan tetap bersantap sahur, melakukan hubungan suami-istri, namun Allah tetap memberi kontrol dengan memberi keringanan ketika sakit, dalam perjalanan, dll. Karena Ukuran dari ketaqwaan manusia adalah menuruti perintah Allah. Bukan mengenyampingkan larangan dan kelonggaran atas nikmat yang Allah sudah berikan.

Kemudian menjadikan taqwa sebagai solusi  (QS 3 : 133-135), manusia menyukai hal yang mudah, dan tidak menyukai yang sulit, olehnya dengan bertaqwa maka kita akan kembali kepada fitrah. Selain itu kitapun harus terbiasa mempuasakan fitrah, memahmi fitrah kita, seperti shallat menjadi taqlif, yaitu beban. akan tetapi karena dilakukan dengan cinta karena Allah maka akan mejadi hal yang biasa, Saat kita mempuasakan fitrah maka kita tahu fitrah itu menjadi penting.

Manusia hanya ada laki-laki dan perempuan :
Allah menciptakan manusia hanya laki-laki dan perempuan saja, jadi tak ada golongan pertengahan, ketikapun banyak saat ini penelitian terutama sains menilai hanya berbasis pada fakta, bukan pada hakikat. Teori barat yang hanya berpegang pada fakta yang pada akhirnya menjerumuskan, maka hendaknya kita berprinsip pada yang absolut seperti yang Allah jelaskan, bahwa Allah hanya menciptakan laki-laki dan perempuan..
-          Bersifat absolut : membelah (qs 4;1)
-          Manajemen maskulinitas dan feminitas
-          Bersifat genetis
-          Bersifat hormonal : seperti lingkungan, dan pengaruh hidup
-          Berfungsi preserevasi kemanusiaan

Fungsi generatif dan rekreatif secara bersamaan :
para gay dan homo, mereka menentang fungsi ini, orang-orang yang hanya bersenang-sennag terhadap seksual tanpa memperhatikan fungsi reproduksi manusia, maka akan rusak.

Relasi psikofisik :
fisik mempengaruhi psikis dan psikis mempengaruhi fisik, saling keergantungan dan berelasi antara keduanya, sebagai contoh hikmahnya adalah ketika perempuan begitu kuat menggendong anaknya berlama-lama, karena pengaruh fisik dan psikologis, dan laki-laki terasa berat mengendong anaknya karena pengaruh fisik dan psikologis, keduanya relasi ini antara psikofisik laki-laki dan perempuan berbeda.

Penyimpangan Seksual
-          LGBT

-          Problem identitas :
Ketika kita ingin menghindari anak dari problem identitas, maka sebaiknya beri anak identitas yang jelas, seperti pemberian nama, dan sebagainya. Pemberian nama pun berpengaruh terhadap identitas seksual seperti nama “dwi” bisa untuk laki-laki dan perempuan. Beri nama yang jelas seperti laki-laki : muhammad, dan perempuan : aisyah (jelas)

-          Problem identifikasi seksual :
seperti laki-laki jangan dipakaikan kerudung sejak kecil, perempuan main boneka, Ayah sebagai identifikasi laki-laki, dan ibu sebagai identifikasi anak perempuan. Jangan sampai ayah dan ibu tidak menjadi sumber role model, ketika dirumah tangga, yang galak itu ibu, bukan bapak. Ini menjadi fenomena laki-laki menjadi perempuan, dan sebaliknya. Jangan sampai terjadi anak tak mampu mengidentifikasi. Perkenalkan ayah : maskulin, ibu : feminim. Jadi sumber keteteladanan dan role model sejak awal sudah jelas.

-          trauma seksual dan seksisme masa balita,
seperti yang terjadi pada pasangan suami istri, perempuan menjadi anti laki-laki karena pernah ada trauma ayah nya, atau sebaliknya.
-          Pengaruh pergaulan dan lingkungan

-          Problem pembentukan perilaku : bagaimana kita melakukan pendikan sedari awal.
-          Makanan untuk anak-anak kita : makanan yang banyak berprotein perlu dilebihkan sedikit untuk laki-laki, sedangkan nabati dilebihkan untuk anak perempuan,
-          Pembenaran ilmiah

PREVENSI PENYIMPANGAN
-          Bermula dari keyakinan
-          identitas berdasar jenis kelamin
-          Sapa sesuai jenis kelamin
-          Keteladanan gender dirumah
-          Kejelasan peran gender dirumah : urusan ayah bukan bekerja saja, ibu tidak hanya mengasuh saja. Kedua nya bersinergi, jika salah satu orang tua absen terhadap perannya ini yang menyebabkan penyimpangan.
-          Keterlibatan ayah bunda dalam pendidikan
-          Hindari trauma seksual

PENANGANAN PENYIMPANGAN
-          Jangan berikan reward sosial
-          Bangun empati
-          Identifikasi sedini mungkin
-          Posisikan dengan jelas dan tegas
-          Lakukan kognitif disonan : pengacauan kognitif, ketika laki-laki merasa menjadi perempuan maka kacaukan, jangan melakukan pembenaran/ penguatan kognitif. Seperti banci adalah jiwa perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki.
-          Gali penyebabnya
-          Ubah sikap
-          Integrative treatment : perilaku-makanan-lingkungan

* catatan notulensi saya, ketika Dr Adriano Rusfi menjelaskan tentang Fitrah seksualitas pada acara seminar di PPSDMS Nurul Fikri, Lenteng Agung Jakarta selatan, beberapa pekan lalu.


Fitrah seksualitas (2)


“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Ar-Rum : 30)

Penyimpangan fitrah
-         Fitrah
Fitrah merupakan suatu yang tercipta, atau sudah given, sehingga tidak ada istilah “anak itu fitrahnya sudah rusak” yang ada adalah fitrah itu menyimpang. Dan maka atas dasar itu kita memiliki peluang untuk selalu berusaha mengembalikan manusia kedalam fitrahnya, karena fitrah tidak mungkin hilang dan tetap bisa dikembalikan

-          Fitrah itu abadi :
Artinya fitrah tidak bisa menyimpang, olehnya bisa diluruskan, dan marilah kita memiliki semangat untuk meluruskan kembali fitrah itu, bukan sebaliknya melawan. Seperti halnya kebatilan yang merupakan penyimpangan olehnya harus diluruskan bukan dilawan, marilah kita memposisikan kebatilan itu berada di “samping” bukan di “depan” yang artinya bukan dihajar habis-habisan, melainkan untuk diluruskan.
Kebanyakan dari kita telah menjustifikasi bahwa setiap ada yang batil selalu dikatakan salah dan rusak, akhirnya kita terjebak pada perlawanan, yang seharusnya sikap kita tak boleh seperti itu.

-          Bukan rusak tapi menyimpang :
Penyimpangan atas fitrah disebabkan karena berlebih-lebihan, seperti manusia yang sangat mencintai uang, iya cinta kepada uang merupakan fitrah namun tergila-gila pada uang itu adalah penyimpangan. Demikian juga dengan tahta, cinta kepada tahta merupakan suatu fitrah namun ketika sudah menyimpang dan berlebihan maka semua jalan menjadi dihalalkan. Pun seseorang menyukai lawan jenis, adalah sebuah fitrah namun ketika sudah berlebihan itupun menjadi hal yang sudah menyimpang. Dan contoh lain ketika ada seorang yang amat mencintai ibunya, akhirnya ia menjadi banci karena berlebihan dan mencintai feminitas.


-          Berlebihan terhadap fitrah :
Fitrah harus diakui adanya, namun ketika sudah berlebihan terhadap fitrah disanalah akan terjadi penyimpangan.

-          Kekurangan atas fitrah :
Pun penyimangan terhadap fitrah karena kekurangan, seperti kekurangan dunia, kekurangan harta, ketika dihambatnya suatu fitrah maka akan menimbulkan kecenderungan terjadinya penyimpangan.

-          Menjdzalimi fitrah:
hal ini bisa menjadi penyebab, karena tidak memberi haknya kepada sang fitrah, seperti tubuh yang memiliki hak untuk beristirahat, makan, minum, kebutuhan biologis, dan sebagainya.

-          Hilangnya kontrol fitrah :
Ketika kontrol fitrah dibiaran lepas begitu saja, maka tak heran jika kita akan berhadapan dengan hilangnya kontrol akan seksualitas, sekarang ini generasi yang dewasa secara fisik belum tentu ia akan dewasa secara mental, seseorang yang sudah baligh belum tentu aqil, seorang menjadi baligh semakin cepat, sementara aqil makin melambat. Inilah sebab kontrol akan fitrah ini tidak terjadi. Yang lebih dikhawatirkan adalah dimasa sekarang penyimpangan anak perempuan semakin lebih banyak, seperti yang Rasul katakan bahwa syahwat perempuan lebih tinggi daripada laki-laki, namun ia bisa tertutupi oleh Iman dan rasa malu pada perempuan, nyatanya kontrol seksualitas sekarang semakin turun sehingga terjadi hiperseks, ketika sudah berbicara seks dan zina, maka menyoal Iman menjadi hal yang begitu rapuh dan cepat runtuh, karena memang... manusia normalnya seperti itu..
Seperti halnya yang marak terjadi dikota Ba*dung misalnya, banyak mereka diantara pelaku zina dalam aktivitas seksualnya ingin dilihat dan ditonton orang, sehingga mirislah karena semakin marak seks exhibisionis, dimana kenikmatan seksual membutuhkan dosis yang semakin meninggi.

-          Konflik ID- EGO - SUPER EGO
Id didorong oleh prinsip kesenangan, yang berusaha untuk mendapat kepuasan segera dari semua keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak dipenuhi langsung, hasilnya adalah kecemasan atau ketegangan. sedangkan Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan sosial yang sesuai. Kemudian Superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat, seperti menilai benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian.


To be continue....

Fitrah seksualitas (1)


Ditubuh umat islam sekarang sudah ada GII (Gay Islam Indonesia), mereka ingin mendapat legitimasi dari negara, dengan mengatasnamakan ormas agar mendapat simpati dari masyarakat umum.. dan  nyatanya tidak sedikit psikolog saat ini banyak yang lesbi dan gay, LGBT menjadi normal dan sudah dianggap normal (lihat DSM III), *DSM merupakan singkatan dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, yang berfungsi sebagai klasifikasi standar gangguan mental dalam bidang ilmu psikologi klinis.

Mengapa bisa hilang dari DSM III? Mereka yang berkelainan melakukan penyusupan begitu mendalam sehingga bisa menembus DSM III, dan merombaknya. Banyak diantara kita berbicara tentang Gay, namun tidak dipungkiri bahwa ternyata kaum Lesbi lebih banyak, mengapa mereka tidak mencuat kepermukaan? karena mereka bersembunyi.. artinya mereka yang Lesbi tersembunyi karena mendoubel menjadi biseksual, diantaranya dengan suami ataupun dengan perempuan yang lain. Dan mereka para Lesbian ini memiliki kecemburuan yang sangat over, kecemburuan para Lesbi sungguh luar biasa. Seperti kita mengambil contoh kasus M*rn* kemarin, yang mengalami keracunan kopi, nyatanya dia adalah seorang lesbi dan dibunuh oleh teman sesama lesbinya karena faktor kecemburuan.

Allah telah menciptakan setiap makhluk berpasang-pasangan (yaitu laki-laki dan perempuan), artinya tidak ada alternatif lain dan melakukan penyimpangan, jikapun argumen  gay dan lesbi terjadi karena secara genetik maka itu tetap disebut penyimpangan,

Mengapa Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan (laki-laki dan perempuan?)  agar terjadinya keseimbangan, bahkan laki2 yang tidak punya maskulinitas maka itu sebenarnya akan berbahaya, laki-laki  harus tetap memiliki sisi maskulinitas, dan feminitas bagi kaum perempuan, inilah hikmah mengapa bagi laki-laki dan perempuan harus berlainan agar terjadi keseimbangan kehidupan.

Ketika Anak laki-laki cenderung dekat dengan ayahnya dan sebaliknya, itu tersebab agar anak laki-laki mendapat sel maskulinitas dari ayah nya, juga anak perempuan yang dekat dengan ibunya agar mendapat sisi feminitas dari ibunya..

Banyak argumen yang menjelaskan Lesbi dan Gay terjadi karena genetik, Jelas itu tidak ada, hal tersebut bisa disanggah dan dibantah, mengapa ketika mereka berkeluarga tidak memiliki keturunan? Oleh sebab nya alasan karena genetik adalah alasan yang mengada-ada, karena faktor gen pasti pada akhirnya akan musnah karena tidak akan berketurunan...

Pada awal pertama kali Allah SWT menciptakan manusia, manusia diciptakan sendiri, bukan berpasangan lantas Kemudian Allah memberi pasangan (keberadaan pasangan inilah yang menjadi wajib dan mutlak adanya, sehingga pada akhirnya Allah memberi keturunan laki-laki dan perempuan yang banyak dalam rangka agar terjadi saling kontras, seperti layaknya  siang dan malam, pada akhirnya terjadilah keseimbangan itu agar saling menutupi, laki-laki dan perempuan demikian dengan suami dan juga istri).

Olehnya laki-laki dan perempuan itu kontras, Laki-laki membutuhkan perempuan dan sebaliknya agar terjadi ketergantungan, yaitu interdependent. kadangpun laki-laki sampai tidak bisa memahami perempuan, saking terlalu absurdnya. meski harus jujur kadang perempuan pun masih tidak bisa memahami diri sendiri, itulah mengapa wanita selalu ingin dimengerti.. akan tetapi untuk sebagian laki-laki menyatan bahwa, perempuan itu bukan untuk dimengerti tetapi untuk dicintai (^_^)

Setiap manusia berpasangan :
-          Qs 36 : 36
-          Untuk keseimbangan
-          Untuk perkembangbiakan
-          Law of closeness and contrast
-          Saling ketergantungan

-          Pembagian kerja
laki-laki bekerja seperti ini, dan perempuan bekerja seperti itu dan karenanya pembagian kerja itu harus ada, tidak semua dilakukan oleh laki-laki dan tidak semua dilakukan oleh perempuan. Saat ini banyak terjadi keluarga yang broken akibat pembagian peran yang tidak jelas, antara ayah dan ibu,  juga suami dan istri.

-          Kesadaran dan keterbatasan
Ketika pasangan suami dan istri atau laki-laki dan perempuan saling menyadari bahwa mereka memiliki keterbatasan akan lebih mudah dalam harmonisasi sama halnya dengan alam semesta ini, ada langit dan bumi, ada api, air, dan udara. ketika diharmonikan maka akan menjadi satu sinergi yang luar biasa. Api untuk memasak air, dan seterusnya.

-          Conflict and harmony
Dengan adanya kontras dan keharmonisasian inilah yang menjadi sebab keseimbangan kehidupan. Masing-masing berjalan di posisinya.


To be continue..