Jumat, 25 September 2015

Bersikap adil terhadap SSA (same sex atraction)

Isu LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) sedang sering dibahas akhir-akhir ini. Kehebohan dimulai dengan berlangsungnya resepsi pernikahan sesama jenis di Bali pada 17 September 2015 lalu. Hampir semua media sosial mengupload photo dan saling me-reshare berita tentang itu, dunia maya seolah ramai dan disibukan dengan banyak hujatan, cacian, bahkan dukungan pro dan konta, bertabrakan satu sama lain. 

Tentu dalam kajian beberapa kalangan masalah LGBT akan terus menjadi pro dan kontra tergantung cara pandang kita, kita memakai worldview apa dalam melihat fenomena LGBT ini, sebagai seorang muslim tentu hal ini menjadi haram mutlak, dan ketika memberi dukungan boleh dipertanyakan seberapa benar keimanan kita? Sudah lurus kah?

Mungkin kajian dan bahasan terkait LGBT sudah cukup banyak, namun bagaimana cara menyikapi seseorang yang terkena penyakit LGBT ini? Sebelumnya, kita harus benar-benar mengerti apa LGBT ini. Untuk seseorang yang mengkampanyekan pemikiran LGBT yang dipengaruhi sekali oleh arus feminis dan HAM tentu kita harus bersikap amat keras, justru harus berlawanan, dan menyatakan perang pemikiran. Jangan sampai virus ini menyebar ke orang-orang awam yang sebelumnya tak memahami bagaimana hukumnya, namun bagaimana bersikap dengan seseorang yang sudah terlanjur terkena LGBT ini?

Tentu sikap kita harus sedikit lunak, bahkan kita harus mencoba merangkulnya agar kembali pada jalan yang benar, jalan yang lurus, jalan keimanan yang telah Allah garis kan..

Setiap insan pasti memiliki orientasi seksual, orientasi seksual adalah keinginan mendasar dari individu untuk memenuhi kebutuhan akan cinta, akan berhubungan dengan kedekatan, kelekatan serta rasa intim, dan kian berkembang hingga ada ikatan diantara dua insan sebagai fitrah yang Allah berikan, (Gharizah Na’u).

Orientasi seksual sebenarnya tidak hanya sekedar ketertarikan seks secara jasmani namun juga menjangkau hubungan batin, hanya saja didalam masyarakat, hal ini terjadi penyempitan makna sehingga ketika mendengar orientasi seksual, maka ia yang berarti ketertarikan secara biologis.

Same sex atraction, ketertarikan sesama jenis sebenarnya adalah sebuah penyakit, penyakit yang menggangu keadaan jiwa seseorang, akan tetapi ketika kaum LGBT ini sudah mengedepankan hawa nafsu, maka segudang alasan dan penelitian yang tidak terbukti kebenarannya hingga sekarang menjadi tameng, sebagian mereka menganggap ini adalah karena faktor genetik, atau faktor bawaan maupun alasan lain.

Kita harus tahu, LGBT berbeda dengan same sex atraction. LGBT sudah menjadi identitas dan ada pengakuan dari individu tersebut, seperti “ya saya menyukai sesama jenis, dan saya seorang gay” akan berbeda dengan orang yang orientasi seksualnya SSA (same sex atraction). Karena, individu yang SSA belum tentu ia seorang LGBT. Ia pun tak ingin dirinya menjadi seorang LGBT. Ada penolakan dan kesadaran bahwa apa yang ada pada dirinya adalah sebuah penyakit, dan ia menyanggah secara sadar bahwa ia tak normal. Akan tetapi, seseorang yang LGBT sudah pasti SSA.

Ketika berhadapan dengan seorang yang memiliki SSA, haruslah menggunakan pendekatan personal, menyadarkan dengan hati dan berhati-hati berbeda dengan seseorang yang sudah benar-benar LGBT.

Orang-orang yang SSA adalah orang-orang yang perlu kita rangkul, yang perlu kita ajak dan ayomi, melindungi dan bersahabat dengan mereka, mengajak mereka agar kembali sesuai fitrahnya. Kadang sikap kita yang keliru kepada mereka adalah diskriminasi yang tak berkesudahan, menjauhi bahkan ada yang merasa jijik.

Mungkin bagi kalangan awam ketika belum terbiasa melihat dunia mereka secara dekat akan muntah dan ilfeel bahkan hilang selera makan, akan tetapi perlu kita pahami betul bahwa mereka sedang sakit, mereka sedang tidak sehat dan amat butuh bantuan, maka padanglah dengan rasa iba dan tumbuhkan sikap empati untuk mengulurkan tangan pertolongan dengan ikhlas, membawa mereka, menggandeng mereka menjadi sahabat bukan melaknat.

Seperti pada umumnya, mengobati memerlukan waktu bahkan tidak sedikit, berminggu bahkan bertahun, bisa jadi akan bertahun-tahun. Sakit fisik saja memerlukan waktu yang panjang bagaimana dengan penyakit kejiwaan, tentu akan menelan banyak kesabaran dan ikhiyar yang tiada berbilang. Oleh karena itu, mengobati sesorang yang SSA tidaklah mudah, perlu terapi yang berkelanjutan, karena jiwa yang sakit maka obatnya adalah dimulai dari hati, hati yang bersih dan nalar yang sehat dan pemahaman yang benar, hal ini lah yang perlu ditanamkan kepada mereka yang SSA.

Tugas dan PR kita bukan menjauhi tetapi mendekati, membuka ruang agar mereka bernafas dari penyakitnya, kita yang normal (hetero) maka bersyukurlah, karena dikaruniai jiwa yang sehat terhadap orientasi seksual kita.


Seseorang yang SSA juga manusia, sebagian dari mereka pun ingin sembuh maka sikap kita pun harus adil, tetap berbuat baik terus mengulurkan pertolongan, karena kita sesama manusia, maka perlu memanusiakan manusia… (jangan baca humanistik ya :D) Wallahua’lam bishawab..

Rabu, 16 September 2015

Ya Rabb, aku milik-Mu.. jangan kembalikan diriku kepadaku ...

Kau pernah merasa dihatimu berdebar keras, deburannya bahkan melebihi bunyi rel kereta yang berada hanya 10 centi dari depan wajahmu, menggemuruh parah dan kau merasa panik serasa nyawamu akan kandas saat itu juga.. bahkan hatimu lebih kacau balau seperti sambaran ombak tsunami yang dengan entengnya meluluhlantahkan tiap daratan dan tetumbuhan yang sedang bersemi hijau rindang..?

Atau lebih menggemparkan dari gempa yang membelah dua pulau menjadi bersebrangan amat jauh? Kau terkapar kerontang, kering dan sesak dalam bernafas.. kau seperti haus akan oksigen dan seperti membutuhkan ambulan segera..

Kau sendiri tak bisa menjamin bahwa hatimu juga memiliki kefuturan, kau juga tak pernah bisa menjamin bahwa iman mu akan terus meninggi tumbuh merona keangkasa, bahkan kau tak juga miliki jaminan bahwa keyakinan mu terus bersemi seperti di musim-musim yang indah seperti disurga...

Kau juga bisa kehilangan arah, saat kau tak memberi vitamin dan obat pada jiwa mu yang kering akan spiritulitas mendekat kepada Nya.. bahkan kau bisa kehilangan diri mu sendiri, kau benar-benar akan merasakan pahitnya patah hati, patah hati yang tak sekedar perasaan mu tak tersampaikan kepada seseorang, lebih rapuh dari seorang yang cintanya tak pernah dilihat meski memendamnya sudah bertahun,

disana.. saat kau telah kehilangan cinta yang sebenar-benarnya cinta... jelas kau akan segera merengek, meminta belas kasih, meminta ampun, atas kedurjanaan diri, atas kekhilafan diri yang tiada henti .. atas laku keji dan hinanya lisan dan gerak yang sering tak sejalan, kau amat menyesal..
pada akhirnya pengakuan diri bahwa kau memang lemah, kau seorang hamba yang memiliki tugas untuk menghamba, kepada yang telah menciptakan mu,

kau adalah seorang hamba, yang hatinya harus selalu kuat, mengisi iman sebagai amunisi meningkatkan nya ketaqwaan, kau adalah seorang hamba, yang mata dan hati tak elok nya berpihak pada dunia juga seisinya, bahkan kau harus mampu kendalikan cinta pada sesama, agar cinta pada Rabb mu tak dapat disangga dari yang memang selain Nya..

berjanjilah bahwa kau tak akan patah hati lagi, berjanjilah bahwa kau memiliki hati yang amat kuat, berjanjilah bahwa kau tak akan merasa gersang rapuh hanya karena kau akan kehilangan dan melepaskan..

karena bagi Nya, selalu ada ganjaran bagi yang ia bersabar atas kefanaan dunia ini yang bahkan tak lebih berharga dari seoongok sayap nyamuk yang terbang kesana-kemari.. dunia ini begitu tak ada arti.


Ya Rabb, aku milik-Mu.. jangan kembalikan diriku kepadaku ...

Selasa, 01 September 2015

MENGALIRNYA PAHAM LGBT

Gempuran untuk melemahan kaum muslim dunia saat ini tak bisa dipungkiri dari berbagai lini, arus pemikiran yang menyesatkan hingga contoh perilaku yang tiada adab (biadab) makin nampak jelas berseliweran dihadapan kita, ilmu yang salah dan hilangnya adab dalam diri seorang muslim menjadi pemicu rusaknya peradaban dan ringkihnya kekuatan kaum muslimin yang seharusnya kokoh, salah satu hal yang menjadi masalah dunia muslim saat ini adalah tidak terbendungnya opini publik terkait LGBT (Lesbi, gay, biseksual dan transgender) arus pemikiran dari para pejuang kesetaraan gender dari kalangan penggiat HAM (hak asasi manusia) dan kalangan liberal ini semakin mengkhawatirkan saja.

Kaum muslim saat ini seperti dikembalikan pada zaman jahiliyah tiada cahaya Islam didalamnya, bahkan kaum liberal ekstrim terutama yang amat memperjuangkan kebebasan ini nyatanya benar-benar kebablasan dalam mengokohkan pemahamannya, hingga dipaksakan kepada siapapun, terutama kaum muslimin di dunia. tentu kalangan liberal ini sudah melakukan upaya penafsiran ulang terhadap ayat-ayat Al-qur’an yang mengecam praktik homoseksual yang dilakukan kaum luth, akan tetapi upaya mereka sangat sulit diterima akal sehat, karena begitu jelas maknanya. Tafsiran yang dilakukan oleh kalangan liberal ini jelas membentur tembok logika karena selama ribuan tahun praktik kejahatan homoseksual tidak pernah dibenarkan oleh agama Yahudi, Kristen, ataupun Islam. Selama itu pula manusia tetap manusia, hubungan sesama jenis sungguh menyimpang dari fitrah manusia, sebagai manusia. Pasangan manusia adalah manusia, pasangan hewan adalah hewan, seperti ayam jantan dengan ayam betina, begitu juga manusia maka  laki-laki dengan perempuan, inilah adab.

Di Indonesia sendiri, arus pemikiran LGBT terbawa pelan-pelan dari barat namun pasti, salah satu negara yang baru saja melegalkan pernikahan sesama jenis ini adalah Amerika serikat, negara yang banyak diklaim sebagai negara adidaya, negara yang amat menjunjung tinggi kebebasan, pernikahan sesama jenis dinegara ini sudah disahkan hampir diseluruh negara bagian dan dengan bangganya mendeklarasikan dan mengumumkan pada seluruh dunia, bahwa ini adalah sebuah kebebasan atas nama hak asasi manusia, mengalirlah opini publik ini di Indonesia, di Indonesia sendiri awal nya pemikiran LGBT masih awam para pelaku suka sesama jenis nampak masih malu-malu dan merasa takut, namun karena opini publik dan derasnya kekuatan yang militan dari para penggiat kesetaraan gender ini, munculah kekuatan besar hingga blak-blakan para homoseks dan lesbian menunjukan dirinya.

Pada tahun 2004, jurnal justisia yang diterbitkan oleh sejumlah mahasiswa fakultas syariah salah satu Universitas Islam disemarang, sudah secara terbuka menulis laporan utama dengan judul “ Indahnya kawin sesama jenis” , redaksi jurnal ini dengan tegas menulis ; “ hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai suatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun untuk melarang perkawinan sejenis sebab Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil dan kebablasan. Jika Tuhan dulu mengutus Luth untuk menumpas kaum homo karena mungkin bisa menggagalkan proyek Tuhan dalam penciptaan manusia (karena waktu itu manusia masih sedikit), maka sekarang Tuhan perlu mengutus “Nabi” untuk membolehkan kawin sejenis supaya sedikit mengurangi proyek Tuhan tersebut. Itu kalau Tuhan masih peduli dengan alam-Nya bagi kami jalan terus kaum homeseks. Anda dijalan yang benar”

Pernyataan yang sungguh memaksakan dan memperkosa ayat-ayat Allah, menafsirkan sekehendak akal dan tak menimbang dengan kacamata syariat yang benar. Logika dangkal yang dipakai kalangan liberal ini memang terlihat manis namun jelas menjerumuskan manusia, jika kita berpaham seperti ini maka jelas dimasa depan manusia justru akan musnah, para kalangan liberal ini seolah ingin melawan kehendak Allah sebagai pencipta mahkluk untuk beribadah hanya kepada-Nya.

Merembaknya pemikiran sesat terkait LGBT telah melanda banyak di negeri-negri yang berpenduduk muslim, bahkan semula homofobia (ketakutan berlebihan yang terus menerus dan tidak rasional terhadap lesbian dan gay) yang  dikatakan sebagai mental illnes, nampaknya sudah tak akan berlaku lagi, seperti yang dilakukan oleh pasangan psikolog gay Marshal dan hunter, mereka memberikan pedoman bagaimana para aktivis homoseksual memberikan propaganda untuk mengubah opini publik agar homoseksual dipandang normal. Tidak lagi sebagai “mental illnes” tetapi dipandang “sehat” dengan itu masyarakat akan menerima perilaku mereka sampai mendapatkan hak khusus , tunjangan dan hak istimewa.

Puncak keberhasilan kampanye LGBT adalah ketika berhasil dikeluarkannya homoseksual dari DSM (Diagnostic of statistic manual of mental disorder) DSM-1 yang disusun pada tahun 1952 oleh APA (American psyciatric assosiation) dan pada edisi kedua pada tahun 1968, masih memasukan homoseksual sebagai penyimpangan seksual. Homoseksua pertama kali dikeluarkan pada 15 agustus 1973, yang kemudian diganti dengan istilah Ego-distonic homosexuality pada DSM-III dukungan terhadap DSM semakin mengauat ketika pada 17 mei 1990, WHO mencabut kata “Homoseksualitas” dari International classification of deases (ICD) pada tahun 1994 APA mengeluarkan lagi DSM-IV yang akhirnya direvisi kembali menjadi DSM-IVTR (tex revision) pada tahun 2000, yang seluruhnya tidak ditemukan sama sekali homoseksualitas sebagai kelainan seksual.

Jika pada DSM-I dan DSM-II homoseksual masih dianggap sebagai “mental disorder” (gangguan kejiwaan) yang didukung oleh 90% anggota APA, maka pada DSM-IV  keadaan menjadi timpang dan amat tebalik ketika hanya tersisa 10% anggota APA yang mendukung homoseksual sebagai sebuah penyimpangan. dengan melakukan normalisasi homoseksual oleh berbagai kalangan maka penerimaan kelompok homoseksual oleh masyarakat bergerak menjadi kearah positif. Dunia menjadi terbawa kedalam dua opini kelompok homoseksual dan anti homoseksual atau kerap disebut dengan homophobia, mereka berlindung dibalik isu HAM maka kelompok yang menentang homoseksual diberikan stigma sebagai penindas HAM.


Jika kelompok homoseksual sudah dianggap normal, maka tak pelak lagi jika pada akhirnya homophobia akan dimasukan pada daftar penyakit “mental illnes” atau gangguan jiwa, bukan hanya homophobia saja yang dianggap sebagai penyakit jiwa tetapi juga “Bigotry” atau fanatik, termasuk terhadap agama yang dianggap sebagai salah satu faktor penyebab homophobia, akan diusahakan masuk juga dalam daftar kelainan jiwa. Hal inilah yang sedang diperjuangkan dan diupayakan oleh para psikolog liberal dan para penggiat HAM.

01 September 2015
referensi bacaan : "LGBT di Indonesia": Dr. Adian Husaini, INSIST, 2015

Sabtu, 11 Juli 2015

HAGEMONI MAKNA "GENDER"

Oleh : Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil*

tuhan dalam gender

Ketika makna suatu kata berganti dan berubah dari makna aslinya, maka boleh jadi karena adanya intrusi pandangan hidup asing (intrusion of worldview). Dapat pula disebabkan oleh pergeseran nilai dalam budaya pemegang makna itu.

Di Barat telah terjadi perubahan makna “gender” dari makna aslinya. Semua maknanya difahami umum sebagai jenis kelamin: maskulin dan feminim. Makna itu dalam webster’s New World Dictionary, New York: 1984, berubah menjadi perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Di sini bedanya bukan kelamin lagi, tapi sudah menjadi tingkah laku.

Dalam Encyclopedia of Women Studies, vol I, Helen Tierney mengartikan Gender bukan lagi perbedaan tingkah laku, tapi sudah menjadi suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (dinstinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di masyarakat.

Sepakat dengan Helen Hilary M Lips, di tahun 1993 menulis, Sex and Gender: An Introduction. Di situ, Helen mengartikan gender menjadi harapan-harapan budaya (cultural expectation) terhadap laki-laki dan perempuan. Di sini realitas laki-laki dan perempuan sebagai obyek sudah hampir tidak penting.

Akhirnya “gender” resmi berbeda tajam dari kata sex. Sex digunakan secara umum untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis, atau jenis kelamin. Maka sex meliputi perbedaan komposisi hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan sifat-sifat biologis lainnya. Gender digunakan untuk mengkaji asfek sisial, budaya, psikologis, dan asfek-asfek nonbiologis lainnya. (Linda L Lindsaey, Gender Roles: A Sociological Perspective, New Jersy, Prientice Hall, hal. 28).

Belum cukup dengan makna baru itu, Lindsey mengubah defenisinya. Gender yang telah menjadi suatu konsep itu menjelma lagi menjadi teori “Kajian Gender” (Gender Studies). Kajian gender adalah kajian yang berkaitan dengan ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan, di sini, apa itu laki-laki sudah tergantung kepada ketetapan masyarakat. Menambahkan konsep ini, Elaine Showlater (ed), dalam karyanya, Speaking of Gender menyatakan bahwa gender bukan hanya pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konsep sosial budayanya. Ia menekankan sebagai konsep analisis yang dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu. (Alaine Showlater [ed], Speaking of Gender, New York & London: Rouytledge, 1989, hal. 3).

Tren mengubah makna memang kerja orang-orang postmodern. Mulanya mereka sadar akan kemajemukan realitas, lalu ragu jika manusia mampu memahami realitas itu. Karena itu mereka hilangkan makna dan kebenaran universal. Makna segala sesuatu bisa dipasang copot bagaikan cincin pada jemari; dihilangkan konteknya; diputus hubungannya dengan makna lain. Jadi orang postmo itu sebenarnya tahu kebenaran, tapi bagi mereka, kebenaran kemudian itu akan berubah maknaya. Begitu pulalah dengan kasus makna kata gender.

Sejatinya, setiap kata mengandung makna, setiap makna mengandung konsep. Serangkaian atau jalinan konsep suatu dalam peradaban dapat membentuk suatu pandangan hidup atau worldview. Jika makna-makna dari konsep kunci dari peradaban atau worldview lain, maka peradaban itu akan didominasi oleh peradaban lain.


Kini, segelintir cendekiawan muslim telah mengubah konsep kunci dalam Islam. Demi menjustifikasi konsep gender, jumlah hak waris laki-laki dan wanita harus sama; karena kesetaraan gender fiqih dianggap maskulin; karena gender pula hadist-hadits tentang wanita yang negatif dianggap misoginis; untuk membela kesetaraan gender peranan suami dikalahkan oleh isteri atau disamakan. Jika ini terus terjadi maka masa hegemoni terhadap pemikiran umat semakin dahsyat.

*Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Ramadhan ; Manifestasi rekonstruksi diri

Apa kabar ramadhan tahun ini? Iyakah bermekaran kuncup-kuncup nya menelurkan banyak mutiara perbaikan? Ataukah ianya mengalami kemerosotan karena gumpalan –gumpalan titik hitam maksiat yang tiap hari dilakukan dalam bilangan waktu? Semoga tidak  kawan.. moga berseminya amalan semakin menambah keikhlasan dalam mencapai ridho Allah semata, niatan yang lurus dan jernih atas dasar lillah karena melihat surga dimasa depan, inilah visi misi orang yang cerdas, karena pandangan nya mampu menembus yang “ghaib”, mata batin nya tertuju pada rumah yang abadi disana, di surga firdaus surga tertinggi nya orang-orang mukmin....

Apa kabar iman hari ini? Iyakah semakin berbau wangi ataukah berbau tak sedap seperti halnya air kotor dicomberan karena titik-titik riya dan ujub menutupinya? Ataukah meranum indah bak meronanya mawar di pagi hari dengan merah nya yang begitu bercahaya dipelupuk mata hati? Moga makin tumbuh rindang iman yang didasari atas aqidah yang tiada goyah dan berbelok didalam nya... moga keitiqomahan dalam tauhid menuntun pada yang abadi disana, lagi-lagi surga menjadi tujuan yang paling menyemangati...

Jikapun boleh jujur, ada banyak hal yang seakan terkikis akhir-akhir ini, fenomena yang kita rasa sudah tak asing lagi, ketika makna ramadhan pelan-pelan “menghilang” dari peredaran masyarakat kita saat ini, seakan tak ada lagi gendang takbir ditiap subuh dan waktu kumandang adzan menggema suara ceria sambutan ramadhan... seakan pelan-pelan memudar takbiran pada surau-surau kecil dipelosok desa, ramainya anak-anak memakai koko berlarian dengan obor tiap subuh dan magrib menjelang.. mengapa “ruh” gemerlap bahagia ramadhan tak seindah dulu... tak pelak lagi antrian di mall dan jalan raya lebih padat merayap ketimbang masjid dan langgar.. suara pujian lagu-lagu mengalahkan shallawat  yang memecah telinga... “Ruh” ramadhan telah hilang? Iyakah kita tak menyambut dan mengakhirnya dengan bahagia haru dan sedih atas kepergiannya??

Tidakkah kita merindui ramadhan yang amat syahdu itu, bulannya dinanti merana hati kala ia pergi, inginya ramadhan tiap hari karena pahala menanti didalam nya mengalir tanpa putus henti...

Betapa bahagianya jiwa saat tetap berkonsisten pada cahaya ramadhan, mengerti bahwa ramadhan bulannya perbaikan, bulannya berseminya iman, bulan dimana keberkahan berlipat timbangan... ya Rabbi, jadikan ramadhan ini menjadi ramadhan terbaik dari yang lalu, agar kami tak rasa pilu ketika ia segera berlalu...

Menjadikan ramadhan ajang rekonstruksi diri, menginsyafi segala iman yang compang-camping penuh duri, pembersihan jiwa hingga mencapai puncak insan kamil..


Rabbana atina fiyydunyaa hasanah,,, wa filakhirati hasanah waqina a’dza bannar ...

Senin, 22 Juni 2015

Antara Ilmu Psikologi dan Berobat Jalan

Tiba-tiba mata sulit sekali terpejam, seperti ada gumpalan batu besar yang menahan dipelupuk mataku malam ini, malam ini malam ke lima ramadhan ku .. sendu sekali rasa hati saat sedang seperti ini, tengah malam sendiri, ada hanya suara jangkrik dan kodok setidaknya menjadi teman dalam kejombloan ku malam ini... tapi tidak papa aku adalah gadis yang memiliki gelar “jomblo terhormat” insya Allah.. hahha pede sekali sayaa ... ((dih ini apa siih kok bahas masalah jomblo)) ...

Yaahh entahlah, ada hal yang tidak terduga kadang dalam hidup kita yang harus menjadikan itu pilihan kita, banyak pilihan-pilihan yang kita sendiri dibuat bingung oleh pilihan-pilihan itu sendiri, jadi maksud tulisan ku ini adalah membahas tentang pilihan, iya pilihan hidup apa saja yang penting pilihan,, bahkan aku sendiri masih bingung terhadap pilihan hidupku mau kemana nantinya termasuk pilihan jodoh #nahhh lho kann.. hahaha

Kayaknya ini efek syndrom mahasiswa tingkat akhir, aku berasa jadi ga jelas gini, jadi suka lupa dan nyasar kemana-mana apa yang mau ditulis, sampe lupa kalau harus nulis skripsi -___- ughh parah pula ya aku ini...

Mungkin ini hikmah dari pilihan ku masuk jurusan psikologi, mungkin sembari mengobati ketidakjelasan dan ketidakwarasan pola pikirku,,, hahaha (emang gue gilaa???) enggaa Cuma rada ga waras aja #astagfirullah..

Masuk jurusan psikologi memang menarik, sangat menarik.. awalnya aku tertarik dengan ilmu psikologi, karena kupikir aku akan mudah membaca pikiran orang #biar ngalahin paranormal guys! Aahh tapii bohong... ketika masuk jurusan psikologi yang ada aku malah keblinger hahahaaa #tu kan jadi bisa berobat jalan masuk jurusan psikologi..

Bukan masalah lambat nya otakku mencerna pelajaran, bukan pula karena kedodolan ku dalam menerima apa yang disampaikan dosen, ya meskipun secara jujur itu menjadi salah satu alasan kenapa IPK aku ga pernah dapat cumilaut alias cumelaude diatas 5.00 ... -____-

Tapi memang berdasar pemahaman yang aku dapatkan selama kuliah, iya bisa dibilang banyak sekali kekeliruan ilmu yang aku dapat di dalam ilmu psikologi itu sendiri.. tapi kita harus mampu bedakan ilmu psikologi yang basis nya milik siapa? Milik “barat" atau milik ilmuan muslim?
Kita bisa lihat dari dua sisi, ilmu psikologi yang berdasar dari konsep ilmu peradaban barat ketika kita melihat dari cara pandang kita sebagai seorang muslim tentu akan kita temukan banyak ketimpangan dan kekeliruan didalam konsep ilmu itu sendiri (kok guweh mulai serius yaakk hahahaa)

Pengulangan tanpa pemikiran kembali terhadap teori-teori dari barat dan praktek dalam disiplin psikologi mungkin merupakan salah satu ancaman, yang paling serius terhadap status psikologi islam diantara sarjana muslim dan orang awam kita, para psikolog barat mengemukaan teori-teori tentang kepribadian, motivasi dan tingkah laku manusia yang dalam banyak hal bertentangan dengan Islam, teori-teori dan terapannya ditutupi dengan sampul yang menarik yaitu “ilmu pengetahuan” para psikolog muslim seperti halnya dengan koleganya dibelahan bumi lainnya mempunyai keinginan yang kuat untuk dikenal dibawah pani-panji yang berprestise, yaitu ilmu pengetahuan hingga dorongan ini membuat dari mereka untuk menerima begitu saja teori dan praktek yang sebenarnya tidak sesuai bila diterapkan dalam dunia Islam, sadar atau pun tidak asas dalam pembentukan teori psikologi barat telah keliru jika kita lihat dalam sudut pandang Islam.

Iya, kenapa bisa dibilang keliru? Jelas ketika pondasi berfikir dalam menemukan teori itu sudah salah, maka otomatis salah kaprah pula teori yang dibentuk darinya, terlebih hanya dalam masalah empiris saja yang  tentu keabsahan nya masih perlu dipertanyakan, memang dalam hal ini kita pun perlu mengakui tak semua ilmu psikologi dari barat bertentangan dengan Islam, disini kita harus bersikap bijak dalam memilih dan memilah mana yang sekiranya tak bertentangan dengan aqidah kita sebagai seorang muslim.

Sebagai contoh, pada umumnya para psikolog penganut aliran behaviorisme barat, mereka yang berorientasi pada eksperimen menyadari akan adanya pengaruh faktor kebudayaan dalam pembentukan tingkah laku subjek yang mereka pelajari, namun amat sedikit dan mereka yang menyadari peran komponen ideologi dan sikap yang datang dari kebudayaan mereka, dan kemudian memberi warna pada pemahaman dan pengamatan mereka terhadap subjek penelitian mereka ini artinya, mereka melandaskan penelitian hanya pada sisi empirime saja yang dilata belakangi oleh background sosiokultral mereka.

Psikolog barat yang berorentasi laboratorium dalam usahanya menunjukan sikap ilmiah akan menyangkal bahwa ada dogma, atau kepercayaan yang mempengaruhi konsep mereka tentang manusia, mereka akan mengatakan bahwa apa yang mereka dapatkan adalah akurat dan berdasarkan bukti-bukti pengalaman, bahkan mereka berusaha menunjukan sikap netral yang disertai dengan penghargaan terhadap keberadaan Tuhan, akan tetapi meskipun demikian mereka sbenarnya cenderung memperlakukan manusia sebagai hewan yang memiliki motivasi tunggal yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik dan sosial, jika kita terka lebih jeli maka artinya sudut pandang seperti ini adalah sudut pandang atheis, dimana sebuah ilmu psikologi tanpa jiwa yang mempelajari manusia yang juga tak berjiwa...

Kekeliruan dalam konsep pembentuka ilmu psikologi ini yang menjadi kesalahan ilmu turunan dan teori-teori yang berkembang dalam psikologi barat, psikologi barat tak lagi memiliki “ruh” ketika mengesampingkan dan membuag Pencipta dalam kaitannya dengan manusia sebagai mahluk yang diciptakan oleh Allah swt dalam worldview Islam.

Ini salah satu yang menjadikan aku makin keblinger setelah masuk jurusan psikologi -___- ada banyak hal lagi yang harus ku gali dan mendalami ilmu psikologi, iya setelah menceburkan diri dalam jurusan ini, semakin banyak PR dan ilmu yang harus aku raup.. dimana salah nya, apa yang harus kuambil dan kubuang.. serasa memiliki “beban moral” yang harus aku pertanggungjawabkan kepada ummat #eciyeehh .. bukan itu saja, pertanggung jawaban ku pada Allah lebih tepatnya, atas semua ilmu dan pengetahuan.. 

moga Allah ridho terhadap apa yang aku lakukan...

Detik—detik mulai ngantukk... jelang sahur....


Senin, 22/06/2015

Rabu, 03 Juni 2015

Feminisme dalam Timbangan

Isu kesetaran dan kebebasaan yang diperjuangkan kaum feminis merupakan konsep  abstrak, bias dan absurd karena  sampai saat ini para feminis sendiri belum sepakat mengenai kesetaraan dan kebebasan seperti apa yang diinginkan kaum perempuan. Terminlogi ”Feminis” sendiri memiliki beragam definisi berdasarkan latar belakang sejarahnya.

 Walaupun pada awal kemunculanya feminisme tampak seperti gerakan reaktif terhadap penindasan gereja, tetapi perkembangannya dikemudian hari memperlihatkan akar dari gerakan ini adalah paham relativisme yang menganggap bahwa  benar atau salah, baik atau buruk, senantiasa berubah-ubah dan tidak bersifat mutlak, tergantung pada individu, lingkungan maupun kondisi sosial.

            Salah satu efek dari paham relativisme yang dianut oleh kaum feminis, adalah  menyuburkan praktik-praktik homoseksual di dalam  masyarakat,  karena apa yang dulu dianggap salah, kini  dengan dalih penghormatan terhadap HAM,  telah berubah menjadi sebuah kebenaran.  Di Barat, pasangan lesbi kini dapat menikah secara legal dan diakui oleh negara secara sah.  Para feminis radikal berpendapat dominasi laki-laki berpusat dari seksualitas, karena dalam hubungan heteroseksual, perempuan menjadi pihak yang tersubordinarsi   Tetapi dengan menjadi lesbi, perempuan  memiliki kontrol yang sama dan tidak ada dominasi dalam hubungan seksual diantara mereka . Hal itu tertuang dalam pernyataaan Charlotte Bunch (1978),

“The Lesbian is most clearly the antithesis of patriarchy-an offense to its basic tenets. It is woman-hating; we are woman-loving. It demans female obedience and docility; we seek strenght, assertiveness, and dignity for women. It bases power and defines roles on one’s gender and other physical attributes; we operate outside gender-defined roles and seek a new basis for defining power and relationship”.

(Lesbian adalah antitesis  paling jelas dari  patriarki yang menyerang doktrin dasarnya. Patriarki adalah pembenci perempuan, sedangkan kami pencinta perempuan. Patriarki menuntut kepatuhan dan kepasivan perempuan, kami mencari kekuatan, keasertivan dan harga diri bagi wanita. Patriarki didasarkan atas kekuatan dan pembagian peran sebuah jender dan atribut-atribut fisik lainnya, kami bekerja diluar pembagian peran jender dan mencari fondasi baru untuk …. kekuatan dan hubungan.)

            Garnets  berpendapat kaum lesbian pada umumnya mengalami perasaaan bebas dari ikatan hambatan-hambatan peran jender. Pasangan lesbian memiliki kemampuan untuk menciptakan pola hubungan baru dan dapat mengurangi kekuatan yang tidak berimbang yang kadang ditemukan dihubungan tradisional heteroseksual

 Begitulah kira-kira pandangan para feminis terhadap kaum lesbian. Ketika ajaran agama menentang dengan keras  penyimpangan moral semacam itu, para aktivis feminis justru menyuarakan dengan lantang pembelaan terhadap praktik lesbian melalui tokoh-tokoh agama atas nama ’kebebasan“.

            Gerakan feminis juga memunculkan masalah-masalah sosial baru yang membuat peradaban Barat  berada di ambang kehancuran. Isu kebebasan  telah membuat perzinahan diakui sebagai hak individu  dan negara tidak boleh memberikan sangsi hukum bagi para pelakunya. Kaum perempuan Barat banyak yang memilih untuk tidak menikah dan menganggap pernikahan sebagai bentuk  pengekangan terhadap kebebasan mereka. Penemuan alat kontrasepsi dan dilegalkannya praktik aborsi telah menjadikan perempuan barat terjerumus dalam pergaulan bebas tanpa takut resiko memiliki anak di luar pernikahan. Bagi perempuan yang masih memiliki sedikit hati nurani kemudian memilih untuk menjadi single parents walau konsekuensinya anak-anak itu terlahir dan tumbuh tanpa mengenal sosok ayahnya. Saat ini, eksploitasi terhadap kaum perempuan dan anak-anak semakin merajalela, yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

            Gerakan feminis pada akhirnya telah menjauhkan perempuan dari kehangatan sebuah keluarga. Kaum perempuan terlalu sibuk mengejar karir dan bersaing dengan laki-laki untuk membuktikan eksistensi mereka. Banyak dari mereka kemudian mengalami alienasi, depresi dan masalah psikologis lainnya, karena melawan naluri dan kodrat sebagai perempuan. Masyarakat Baratpun akhirnya tersadar dari kekeliruannya dan gerakan feminis dituding sebagai biang kerok atas kehancuran moral yang menimpa kaum perempuan sehingga gerakan ini berangsur-angsur surut dan  kini hanya tinggal wacana saja.


            Melihat latar belakang sejarah, konsep dan isu-isu  feminisme, perempuan di dunia Islam sebenarnya tak perlu silau oleh pemikiran-pemikiran kaum feminis. Isu hak dan kesetaraan yang diagung-agungkan barat,  muncul karena penolakan perempuan barat terhadap dokrin gereja yang memarginalkan kaum perempuan selama berabad-abad.  Doktrin gereja telah pengekangan hak-hak perempuan untuk mengembangkan diri dan memiliki akses  kepada pendidikan. Begitu juga dengan hak-hak sipil perempuan yang terpinggirkan karena perempuan dipandang sebagai masyarakat kelas dua.  Tentunya hal-hal tersebut tidak ditemui dalam ajaran dan doktrin-doktrin Islam.  Agama  Islam sejak abad ke-7 M telah menepatkan perempuan dalam posisi yang begitu mulia, seperti pendapat beberapa wanita Barat yang memeluk agama Islam karena tertarik oleh keadilan dan kemuliaannya. Annie Besants berkata tentang wanita Islam, ”Sesungguhnya kaum wanita dalam naungan Islam jauh lebih merdeka dibandingkan dalam mazhab-mazhab lain. Islam lebih melindungi hak-hak wanita daripada agama Masehi. Sementara kaum wanita Inggris tidak memperoleh hak kepemilikan-kecuali sejak 20 tahun yang lalu-Islam telah memberikan sejak saat pertama.” 


            Isu ”kebebasan” telah membuat perempuan barat mengingkari kodrat mereka sebagai perempuan  Melihat problematika sosial yang melanda masyarakat Barat saat ini, terutama kaum perempuannya, sungguh naif jika masih ada saja orang-orang yang menganggap bahwa feminisme  dapat memberikan solusi bagi  permasalahan perempuan di dunia Islam. Kita sepatutnya merasa iba kepada Barat karena tanpa sadar mereka telah menjadi korban ideologi  yang merusak tatanan sosial kemasyarakatan dan mencabut nilai-nilai religius dari peradaban mereka.

Dr. Dinar dewi kania

Minggu, 10 Mei 2015

Just Contemplation ...

Pernahkah merasa sepi jiwa, ada yang hilang saat-saat yang dirindukan tak pernah menyapa? Menggelintir hati seoalah jatuh menukik dari awan yang jatuh kedalam dataran bumi? Menggelora api kacau didalam hati, serasa merana tanpa ampun, menohok kedalam samudra jiwa yang amat jauh.. pelan hingga dinding itu tembus lalu pecah, inikah mungkin perasaan pesakitan yang dialami ketika seseorang patah hati, mendalam seolah ia adalah makhluk paling sengsara..

Pada awalan berbinar cerita, indah elok, tanpa cacat dalam setiap bias mata memandangnya, ada refleksi cinta yang amat sangat.. mengibarkan bahagia ke relung hati seperti serpihan debu berterbangan... seperti reranum para mawar yang semerbak meninggalkan wangi dalam kuncup-kuncup saat bermekaran.. sumringah didada tiada kira, menyambut aroma nya yang seperti tertarik terus menerus, makin melekat...


Iyakah iman pada sang Esa begitu juga dirasa? Saat kefuturan melanda rindu menggebu namun menyesakan karena benar-benar ada yang telah hilang... patah hati, melebur, runtuh, kacau ...  namun saat kaki langkah dalam jalan lurus ia menemukan nya kembali, mutiara itu.. iman terengkuh dalam jiwa-jiwa yang sepi sebelumnya.. jatuh cinta kembali pada sang Iman, iman pada Islam yang menghantarkan pada yang Ikhsan...



Rabu, 07 Januari 2015

Islamic worldview : Pondasi awal berfikir seorang muslim

             Didalam didunia ini, tentulah bangkitnya suatu peradaban karena memiliki cara pandang atau keyakinan dasar terhadap sesuatu yang ia adalah sebuah ciri yang khas, yang ketika berbagai keyakinan atau cara pandang itu menjadi suatu pandangan hidup (worldview) untuk memahami setiap lini kehidupan, dan menjadikannya ia asas dalam proses berfikir, berpola, ataupun berperilaku baik dalam kehidupan secara individu, bermasyarakat, sampai pada ranah politik dan bernegara, termasuk juga pada tatanan keilmuan menyangkut objek-objek permasalahan yang dibahas.

            Sebuah pandangan hidup (worldview) dimiliki oleh setiap manusia, yang dengan  nya akan terbentuk sebuah karakter dalam dirinya. Seperti hal nya seorang manusia yang memiliki cara pandang hidup Islam (Islamic worldview) pastilah, segala gerak geriknya akan menyesuaikan dengan pola pikir Islam. Akan terbaca pada setiap apa yang ia lisankan, dan apa yang ia perbuat. Berbeda dengan seseorang yang memiliki cara pandang selain Islam, cara pandang barat misalnya (westerend worldview) ia akan bertingkah dan berperilaku seperti pada umumnya masyarakat barat. Bisa kita ambil contoh misalnya seorang muslimah yang memiliki Islamic worldview dalam memandang perempuan, akan sangat jauh berbeda dengan seorang perempuan non muslimah yang memiliki cara pandang sekuler, seorang muslimah akan memandang dirinya itu mulia, akan memandang dirinya ketika menutup aurat menjadi perempuan terhormat, karena ia adalah salah satu bentuk dalam ketaatan pada Allah, Tuhan yang menciptakan nya. berbeda dengan perempuan non muslimah tadi, ia akan memandang seorang perempuan yang menutup aurat atau mengenakan jilbab adalah sebuah diskriminasi, sebuah doktrin, dan pengekat kebebasan setiap manusia, terlebih lagi ketika perempuan ini berfikir sesuai pemikiran kesetaraan gender, maka semakin buruklah citra perempuan ketika seorang perempuan berada dalam ranah domestik, yang pekerjaanya mengurus rumah tangga.

            Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam memiliki worldview (pandangan alam/pandangan hidup) yang berbeda dengan pandangan hidup agama/ peradaban lainnya. Al-Attas menjelaskan sejumlah karakteristik pandangan hidup Islam, antara lain: berdasarkan kepada wahyu, tidak semata-mata merupakan pikiran manusia mengenai alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik, dan budaya.  tidak bersumber dari spekulasi filosofis yang dirumuskan berdasarkan pengamatan dan pengalaman inderawi serta ia mencakup pandangan tentang dunia dan akhirat.

            Jadi, menurut al-Attas, pandangan hidup Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality and truth), atau pandangan Islam mengenai eksistensi (ru’yat al-Islam lil wujud). Al-Attas menegaskan, bahwa pandangan hidup Islam bersifat final dan telah dewasa sejak lahir. Islam tidak memerlukan proses ’pertumbuhan’ menuju kedewasaan mengikuti proses perkembangan sejarah. Jadi, karakteristik pandangan hidup Islam adalah sifatnya yang final dan otentik sejak awal. Ini sangat berbeda dengan sifat agama-agama lainnya maupun kebudayaan atau peradaban umat manusia yang berkembang mengikuti dinamika sejarah.

            Oleh karenanya, seseorang yang memiliki Islamic worldview, akan selalu merasa bahwa apa yang dibawa Islam adalah yang benar, sebuah cara untuk menuju Allah yang Allah ridhai. Pandangan hidup Islam terbentuk dari serangkaian pemahaman tentang konsep-konsep pokok dalam Islam, seperti konsep Tuhan, konsep kenabian, konsep agama, konsep wahyu, konsep manusia, konsep alam, dan konsep ilmu. Seluruh elemen itu terkait satu dengan lainnya, dan konsep Tuhan menjadi landasan bagi konsep-konsep lainnya. (Dr. Adian dalam makalah Islamic Worldview).

            Jelas bagi kita, setiap insan pasti memiliki cara pandang tersendiri mengenai, alam dan kehidupan, hanya saja. Benar atau tidak nya cara pandang itu adalah yang sesuai dengan Islam. Karena memang Islam lah satu-satu nya agama yang benar, yang memiliki semua konsep dalam setiap sekelumit permasalahan manusia yang mampu menyelesaikan nya dari akar hingga tuntas. Maka selayaknya untuk kita seorang muslim, wajib berbangga terhadap Islam dan semua tatanan konsep yang ada didalamnya, menjadikannya sebuah ideologi berfikir kita dan identitas yang hakiki bagi seorang muslim.


Wallahua’lam bissowab...

Minggu, 04 Januari 2015

Just Think

Secara tidak sengaja saat membuka folder-folder di laptop aku menemukan banyak tulisan, tulisan yang tak pernah aku publish, karena ia menjadi bagian dari rahasia hati (wa elah), tidak perlu diungkap apa tulisannya, karena yang membaca mungkin tak perlu tahu, bukan tak perlu malah tak mau tahu :D

Saat kehidupan terus mengalir, bukan mengalir apa adanya ya, tapi ada apanya.. (apasih) pastilah kita pernah mengalami fase dimana kita bertingkah labil, emosional, yahh tepat sekali mungkin itu dirasa ketika remaja.. tapi sekarang aku bukan remaja lagi, aku sudah beranjak dewasa tapi entahlah aku tetap merasa bahwa aku masih anak kemarin sore!

Manjaku, kelabilanku, kekanakanku, masih serasa melekat sampai saat ini, bahkan aku tak tahu bagaimana cara menjadi dewasa.. hahaha entahlah aku tak mau memikirkan itu, eittss tapi harus aku fikirkan! Yaa baikalah akan kupikirkan sejauhmana sampai saat ini aku mendewasakan diri.. dan aku memberi pengaruh dan teladan seperti apa untuk adik-adik ku... (adik kelas maksudnya, kan aku anak bungsu weekkk)...

Okey kembali kecerita, emang lagi cerita apasih kita? Hah kita? Ohh iyaa gue aja kalii eluu kagak.. :P

Proses pendewasaan diri memang kadang tak harus dilihat dari berapa banyak bilangan usia, tapi bagaimana individu itu mampu berfikir, bersikap, dan berperilaku, secara bijaksana dalam setiap moment, tidak hanya sekedar saat menghadapi masalah, melainkan dalam pergaulan dan kehidupan sosial dengan yang lain.. (Cieee sok berteori)

Harus aku akui, bahwa aku bukan anak remaja lagi, yang setiap tulisan harus bernada galau.. masalah yang mengelilingiku hanya bersekat pada asmara saja (hueekkks ampun dah) tapii sekarang aku mengahadapi hal yang lebih dari itu, lebih dari sekedar rumit, lebih dari sekedar benang kusut, lebih besar dari badan gajah yang ada diragunan dan taman safari, lebih tinggi dari leher jerapah dan lebih panjang dari meteran...

Aku menjadi bagian dari orang dewasa yang memiliki banyak kompleksitas keruwetan masalah yang sulit terorganisir dan menghantam banyak benalu yang ada didepan mata (ini aku ngomong apa sih kayaknya kena vickynisasi syndrome nii jangan-jangan -____-) yaah intinya begitu, saat aku harus bisa mngatur diriku sendiri, saat aku harus banyak belajar, membaca, merenungi setiap persoalan ku dengan bijaksana, saat aku harus mampu menjadi pribadi yang bisa menyelesaikan masalah ...

Namun masalah ku saat ini bukan sekedar bergelut pada masalah pribadi, keluarga, aku harus mampu berfikir bahwa masalahku begitu meluas ini tentang masyarakat, ini tentang ummat, ini tentang kemajuan arah suatu peradaban.. (naah kan masalahnya gede banget)..

Berhentilah untuk menjadi manusia paling apatis sedunia, tidak peduli bahkan rasa empati sudah terkikis habis oleh sifat individualisme yang mengakar, berhentilah menjadi manusia paling angkuh dan berotak kapitalis yang semua keuntungan hanya bermuara kepada diri sendiri dan pihak pribadi, berhentilah menjadi manusia pemangsa yang rakus dan krisis akan kemanusiaan sehingga sesama manusia tidak saling memanusiakan manusia, apakah saat ini mata kita tertutup oleh keegoisan diri? Egosentrisme yang berujung pada ketidakpedulian sosial?

Maka problematika dan kerusakan yang ada dalam tatanan masyarakat saat ini menjadi pekerjaan kita semua, pembenahan terhadap kerusakan yang ada dalam kerangka sosial kita saat ini adalah masalah kita bersama, rusaknya sistem tatanan kehidupan, degradasi moral, kehilangan adab, rusaknya ilmu, hingga salahnya pengaturan sistem dalam ketatanegaraan adalah pekerjaan kita bersama..

Andai engkau yang mengaku dewasa, andai engkau yang mengaku manusia pemikir, andai engkau manusia yang ingin melakukan perbaikan.. ini PR kita saat ini...
Dan aku? Aku siapa aku? Aku kah bagian dari itu? Iya seharusnya..!



Minggu, 04 desember 2014 .. sudut kamarku ketika hujan menjadikan aku ingin menulis, menulis suatu hal yang mungkin orang tak pernah akan membacanya, tapi buatku ini cara aku mendewasakan diri.. dengan perenungan dan intropeksi.. 

Jumat, 02 Januari 2015

Kecerdasan Buatan (ARTIFICIAL INTELLIGENCE)

Definisi Kecerdasan Buatan

H. A. Simon [1987] : “ Kecerdasan buatan (artificial intelligence) merupakan kawasan penelitian, aplikasi dan instruksi yang terkait dengan pemrograman komputer untuk melakukan sesuatu hal yang -dalam pandangan manusia adalah- cerdas”

Rich and Knight [1991]:
“Kecerdasan Buatan (AI) merupakan sebuah studi tentang bagaimana membuat komputer melakukan hal-hal yang pada saat ini dapat dilakukan lebih baik oleh manusia.”

Encyclopedia Britannica:
“Kecerdasan Buatan (AI) merupakan cabang dari ilmu komputer yang dalam merepresentasi pengetahuan lebih banyak menggunakan bentuk simbol-simbol daripada bilangan, dan memproses informasi berdasarkan metode heuristic atau dengan berdasarkan sejumlah aturan”

Tujuan dari kecerdasan buatan menurut Winston dan Prendergast [1984]

1. Membuat mesin menjadi lebih pintar (tujuan utama)
2. Memahami apa itu kecerdasan (tujuan ilmiah)
3. Membuat mesin lebih bermanfaat (tujuan entrepreneurial)