Sabtu, 13 September 2014

“Ghazwul Fikri, sebuah cara melepaskan Al-qur’an dari kaum muslim”

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sedangkan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Ia-lah yang telah mengutus Rosul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas semua agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”. (At Taubah 32-33)

            Arus globalisasi yang semakin menunjukan kebebasan nya dimasa dewasa ini, benar-benar telah membawa perubahan amat besar, perubahan yang tak lazim untuk manusia. Terutama mereka kaum muslimin. Kebebasan yang dielukan nyatanya membius sebagian masyarakat kita hingga terberdaya oleh iming-iming kenikmatan syahwat dunia. Lupa bahwa pada fitrahnya manusia adalah mahluk terikat dengan hukum, manusia membutuhkan aturan dalam setiap gerak agar menjadi terarah.

            Begitu gamblang dimata kita, bahwa kerusakan dalam tatanan sosial masyarakat nyata adanya, pergaulan bebas, yang menggiring para pemuda untuk melakukan aktivitas seks bebas, kenakalan remaja, pembunuhan dan pelecehan, seolah menjadi pemandangan hal biasa yang harus tertelan pahit-pahit. Tak hanya itu serangan kerusakan ini juga masuk dalam ranah pemikiran dan aqidah kaum muslimin, kekeliruan dalam memahami Islam, serta meringkihnya moralitas semakin memperparah keadaan. maka wajarlah sehingga semakin tergilaslah roda keimanan kaum muslimin dengan fenomena yang makin marak, sepanjang bilangan hari.

            Tidak dinafikan upaya ini adalah berkat berhasilnya andil ghazwul fikri (perang pemikiran) yang begitu gencar menyerbu kaum muslimin, para penggiat sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) menampilkan wajah asli mereka dengan mengusung tema kebebasan, mencecoki ummat dengan berbagai macam pemikiran yang merusak aqidah dan kebenaran itu sendiri.

            Belum lama ini, isu yang ditampilkan oleh salah satu perguruan tinggi Islam negri, oleh fakultas ushuludin dengan “Tuhan Membusuk” nya telah berhasil menyita perhatian publik bahwa perang pemikiran ini benar-benar terjadi, kebebasan berfikir yang telah melampaui batas membuat mereka tak menyadari bahwa mereka berdiri diatas kesalahan, tidak memahami secara benar wahyu Allah menjadi pemicu utama, kerancuan dan kekeliruan dalam ilmu dan adab sehingga menggiring sikap mereka pada kefuturan iman, bergaya layaknya intelektual seolah kritis dalam memberikan opini pada masyarakat umum, namun nyata nya hal ini adalah upaya pendistorsian makna kebenaran Islam.

            Hal ini nampak wajar bagi mereka, karena tujuan mereka adalah menghancurkan dan menindih kebenaran Islam dengan kebatilan, melalui gazhwul fikri ini lah mereka masuk dalam ranah akademik, mengambil celah untuk merusak melalui pemikiran dikalangan mahasiswa.

            Tidak hanya itu saja hal serupa juga terjadi pada isu terbaru seorang mahasiswa Perguruan tinggi negri dari fakultas hukum, yang mengajukan legalisasi pernikahan beda agama, meminta agar negara segera mengesahkan secara hukum pernikahan beda Agama, tentu saja hal ini adalah sebuah isu yang selama ini dianggap sensitif dikalangan masyarakat. Karena jelas, isu seperti ini amat bertentangan dengan kultur dan budaya masyarakat kita yang mayoritas beragama Islam, akan nampak sesuatu yang aneh dan salah jika hal ini benar diwujudkan, namun justru hal ini tidak terlihat aneh bagi mereka penggiat kebebasan karena cara berfikir mereka yang membentuk nya.

            Memang tidak pandang bulu, perang pemikiran yang terjadi saat ini benar-benar akan menggerogoti ketaqwaan seorang muslim jika tak ditampis dengan hal yang serupa, artinya kaum muslim harus ekstra berjuang menampik arus pemikiran yang kontras dengan akidah Islam itu sendiri. Karena musuh-musuh Allah akan lakukan berbagai macam cara untuk menumbangkan Islam agar Islam benar-benar ditinggalkan oleh pemeluknya.

            Maha benar Allah dengan Firman Nya : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

            Tidak kaget tentunya kita ummat muslim dengan banyak nya serangan dari  para musuh-musuh Allah, karena memang sudah jelas Islam adalah sebuah Ideologi yang tak mudah untuk dihancurkan, benteng pertahanan ummat Islam tidak akan hancur jika hanya sekedar melalui perang fisik dan penjajahan, melainkan musuh-musuh Allah mengetahui cara jitu untuk merusak ummat Islam dari dalam, yaitu ketika Al-qur’an jauh dari dada kaum muslimin, maka saat itulah hancurnya ummat Islam diseluruh dunia. Dan upaya itu sudah ditempuh oleh para musuh Allah melalui ghazwul fikri.

            Maka seharusnya bagi kita, adalah sebuah kewajiban kita untuk menjaga agama Allah sebagai bentuk pembuktian iman kita pada Nya, ummat islam memiliki banyak pekerjaan mulia untuk tetap mempertahankan eksistensi Islam dimuka bumi ini.

            “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron :104)


wallahua'lam bishowab...

*seri penulisan essai kuliah "Sekolah Pemikiran Islam" #IndonesiaTanpaJIL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar