Senin, 22 Juni 2015

Antara Ilmu Psikologi dan Berobat Jalan

Tiba-tiba mata sulit sekali terpejam, seperti ada gumpalan batu besar yang menahan dipelupuk mataku malam ini, malam ini malam ke lima ramadhan ku .. sendu sekali rasa hati saat sedang seperti ini, tengah malam sendiri, ada hanya suara jangkrik dan kodok setidaknya menjadi teman dalam kejombloan ku malam ini... tapi tidak papa aku adalah gadis yang memiliki gelar “jomblo terhormat” insya Allah.. hahha pede sekali sayaa ... ((dih ini apa siih kok bahas masalah jomblo)) ...

Yaahh entahlah, ada hal yang tidak terduga kadang dalam hidup kita yang harus menjadikan itu pilihan kita, banyak pilihan-pilihan yang kita sendiri dibuat bingung oleh pilihan-pilihan itu sendiri, jadi maksud tulisan ku ini adalah membahas tentang pilihan, iya pilihan hidup apa saja yang penting pilihan,, bahkan aku sendiri masih bingung terhadap pilihan hidupku mau kemana nantinya termasuk pilihan jodoh #nahhh lho kann.. hahaha

Kayaknya ini efek syndrom mahasiswa tingkat akhir, aku berasa jadi ga jelas gini, jadi suka lupa dan nyasar kemana-mana apa yang mau ditulis, sampe lupa kalau harus nulis skripsi -___- ughh parah pula ya aku ini...

Mungkin ini hikmah dari pilihan ku masuk jurusan psikologi, mungkin sembari mengobati ketidakjelasan dan ketidakwarasan pola pikirku,,, hahaha (emang gue gilaa???) enggaa Cuma rada ga waras aja #astagfirullah..

Masuk jurusan psikologi memang menarik, sangat menarik.. awalnya aku tertarik dengan ilmu psikologi, karena kupikir aku akan mudah membaca pikiran orang #biar ngalahin paranormal guys! Aahh tapii bohong... ketika masuk jurusan psikologi yang ada aku malah keblinger hahahaaa #tu kan jadi bisa berobat jalan masuk jurusan psikologi..

Bukan masalah lambat nya otakku mencerna pelajaran, bukan pula karena kedodolan ku dalam menerima apa yang disampaikan dosen, ya meskipun secara jujur itu menjadi salah satu alasan kenapa IPK aku ga pernah dapat cumilaut alias cumelaude diatas 5.00 ... -____-

Tapi memang berdasar pemahaman yang aku dapatkan selama kuliah, iya bisa dibilang banyak sekali kekeliruan ilmu yang aku dapat di dalam ilmu psikologi itu sendiri.. tapi kita harus mampu bedakan ilmu psikologi yang basis nya milik siapa? Milik “barat" atau milik ilmuan muslim?
Kita bisa lihat dari dua sisi, ilmu psikologi yang berdasar dari konsep ilmu peradaban barat ketika kita melihat dari cara pandang kita sebagai seorang muslim tentu akan kita temukan banyak ketimpangan dan kekeliruan didalam konsep ilmu itu sendiri (kok guweh mulai serius yaakk hahahaa)

Pengulangan tanpa pemikiran kembali terhadap teori-teori dari barat dan praktek dalam disiplin psikologi mungkin merupakan salah satu ancaman, yang paling serius terhadap status psikologi islam diantara sarjana muslim dan orang awam kita, para psikolog barat mengemukaan teori-teori tentang kepribadian, motivasi dan tingkah laku manusia yang dalam banyak hal bertentangan dengan Islam, teori-teori dan terapannya ditutupi dengan sampul yang menarik yaitu “ilmu pengetahuan” para psikolog muslim seperti halnya dengan koleganya dibelahan bumi lainnya mempunyai keinginan yang kuat untuk dikenal dibawah pani-panji yang berprestise, yaitu ilmu pengetahuan hingga dorongan ini membuat dari mereka untuk menerima begitu saja teori dan praktek yang sebenarnya tidak sesuai bila diterapkan dalam dunia Islam, sadar atau pun tidak asas dalam pembentukan teori psikologi barat telah keliru jika kita lihat dalam sudut pandang Islam.

Iya, kenapa bisa dibilang keliru? Jelas ketika pondasi berfikir dalam menemukan teori itu sudah salah, maka otomatis salah kaprah pula teori yang dibentuk darinya, terlebih hanya dalam masalah empiris saja yang  tentu keabsahan nya masih perlu dipertanyakan, memang dalam hal ini kita pun perlu mengakui tak semua ilmu psikologi dari barat bertentangan dengan Islam, disini kita harus bersikap bijak dalam memilih dan memilah mana yang sekiranya tak bertentangan dengan aqidah kita sebagai seorang muslim.

Sebagai contoh, pada umumnya para psikolog penganut aliran behaviorisme barat, mereka yang berorientasi pada eksperimen menyadari akan adanya pengaruh faktor kebudayaan dalam pembentukan tingkah laku subjek yang mereka pelajari, namun amat sedikit dan mereka yang menyadari peran komponen ideologi dan sikap yang datang dari kebudayaan mereka, dan kemudian memberi warna pada pemahaman dan pengamatan mereka terhadap subjek penelitian mereka ini artinya, mereka melandaskan penelitian hanya pada sisi empirime saja yang dilata belakangi oleh background sosiokultral mereka.

Psikolog barat yang berorentasi laboratorium dalam usahanya menunjukan sikap ilmiah akan menyangkal bahwa ada dogma, atau kepercayaan yang mempengaruhi konsep mereka tentang manusia, mereka akan mengatakan bahwa apa yang mereka dapatkan adalah akurat dan berdasarkan bukti-bukti pengalaman, bahkan mereka berusaha menunjukan sikap netral yang disertai dengan penghargaan terhadap keberadaan Tuhan, akan tetapi meskipun demikian mereka sbenarnya cenderung memperlakukan manusia sebagai hewan yang memiliki motivasi tunggal yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik dan sosial, jika kita terka lebih jeli maka artinya sudut pandang seperti ini adalah sudut pandang atheis, dimana sebuah ilmu psikologi tanpa jiwa yang mempelajari manusia yang juga tak berjiwa...

Kekeliruan dalam konsep pembentuka ilmu psikologi ini yang menjadi kesalahan ilmu turunan dan teori-teori yang berkembang dalam psikologi barat, psikologi barat tak lagi memiliki “ruh” ketika mengesampingkan dan membuag Pencipta dalam kaitannya dengan manusia sebagai mahluk yang diciptakan oleh Allah swt dalam worldview Islam.

Ini salah satu yang menjadikan aku makin keblinger setelah masuk jurusan psikologi -___- ada banyak hal lagi yang harus ku gali dan mendalami ilmu psikologi, iya setelah menceburkan diri dalam jurusan ini, semakin banyak PR dan ilmu yang harus aku raup.. dimana salah nya, apa yang harus kuambil dan kubuang.. serasa memiliki “beban moral” yang harus aku pertanggungjawabkan kepada ummat #eciyeehh .. bukan itu saja, pertanggung jawaban ku pada Allah lebih tepatnya, atas semua ilmu dan pengetahuan.. 

moga Allah ridho terhadap apa yang aku lakukan...

Detik—detik mulai ngantukk... jelang sahur....


Senin, 22/06/2015

Rabu, 03 Juni 2015

Feminisme dalam Timbangan

Isu kesetaran dan kebebasaan yang diperjuangkan kaum feminis merupakan konsep  abstrak, bias dan absurd karena  sampai saat ini para feminis sendiri belum sepakat mengenai kesetaraan dan kebebasan seperti apa yang diinginkan kaum perempuan. Terminlogi ”Feminis” sendiri memiliki beragam definisi berdasarkan latar belakang sejarahnya.

 Walaupun pada awal kemunculanya feminisme tampak seperti gerakan reaktif terhadap penindasan gereja, tetapi perkembangannya dikemudian hari memperlihatkan akar dari gerakan ini adalah paham relativisme yang menganggap bahwa  benar atau salah, baik atau buruk, senantiasa berubah-ubah dan tidak bersifat mutlak, tergantung pada individu, lingkungan maupun kondisi sosial.

            Salah satu efek dari paham relativisme yang dianut oleh kaum feminis, adalah  menyuburkan praktik-praktik homoseksual di dalam  masyarakat,  karena apa yang dulu dianggap salah, kini  dengan dalih penghormatan terhadap HAM,  telah berubah menjadi sebuah kebenaran.  Di Barat, pasangan lesbi kini dapat menikah secara legal dan diakui oleh negara secara sah.  Para feminis radikal berpendapat dominasi laki-laki berpusat dari seksualitas, karena dalam hubungan heteroseksual, perempuan menjadi pihak yang tersubordinarsi   Tetapi dengan menjadi lesbi, perempuan  memiliki kontrol yang sama dan tidak ada dominasi dalam hubungan seksual diantara mereka . Hal itu tertuang dalam pernyataaan Charlotte Bunch (1978),

“The Lesbian is most clearly the antithesis of patriarchy-an offense to its basic tenets. It is woman-hating; we are woman-loving. It demans female obedience and docility; we seek strenght, assertiveness, and dignity for women. It bases power and defines roles on one’s gender and other physical attributes; we operate outside gender-defined roles and seek a new basis for defining power and relationship”.

(Lesbian adalah antitesis  paling jelas dari  patriarki yang menyerang doktrin dasarnya. Patriarki adalah pembenci perempuan, sedangkan kami pencinta perempuan. Patriarki menuntut kepatuhan dan kepasivan perempuan, kami mencari kekuatan, keasertivan dan harga diri bagi wanita. Patriarki didasarkan atas kekuatan dan pembagian peran sebuah jender dan atribut-atribut fisik lainnya, kami bekerja diluar pembagian peran jender dan mencari fondasi baru untuk …. kekuatan dan hubungan.)

            Garnets  berpendapat kaum lesbian pada umumnya mengalami perasaaan bebas dari ikatan hambatan-hambatan peran jender. Pasangan lesbian memiliki kemampuan untuk menciptakan pola hubungan baru dan dapat mengurangi kekuatan yang tidak berimbang yang kadang ditemukan dihubungan tradisional heteroseksual

 Begitulah kira-kira pandangan para feminis terhadap kaum lesbian. Ketika ajaran agama menentang dengan keras  penyimpangan moral semacam itu, para aktivis feminis justru menyuarakan dengan lantang pembelaan terhadap praktik lesbian melalui tokoh-tokoh agama atas nama ’kebebasan“.

            Gerakan feminis juga memunculkan masalah-masalah sosial baru yang membuat peradaban Barat  berada di ambang kehancuran. Isu kebebasan  telah membuat perzinahan diakui sebagai hak individu  dan negara tidak boleh memberikan sangsi hukum bagi para pelakunya. Kaum perempuan Barat banyak yang memilih untuk tidak menikah dan menganggap pernikahan sebagai bentuk  pengekangan terhadap kebebasan mereka. Penemuan alat kontrasepsi dan dilegalkannya praktik aborsi telah menjadikan perempuan barat terjerumus dalam pergaulan bebas tanpa takut resiko memiliki anak di luar pernikahan. Bagi perempuan yang masih memiliki sedikit hati nurani kemudian memilih untuk menjadi single parents walau konsekuensinya anak-anak itu terlahir dan tumbuh tanpa mengenal sosok ayahnya. Saat ini, eksploitasi terhadap kaum perempuan dan anak-anak semakin merajalela, yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

            Gerakan feminis pada akhirnya telah menjauhkan perempuan dari kehangatan sebuah keluarga. Kaum perempuan terlalu sibuk mengejar karir dan bersaing dengan laki-laki untuk membuktikan eksistensi mereka. Banyak dari mereka kemudian mengalami alienasi, depresi dan masalah psikologis lainnya, karena melawan naluri dan kodrat sebagai perempuan. Masyarakat Baratpun akhirnya tersadar dari kekeliruannya dan gerakan feminis dituding sebagai biang kerok atas kehancuran moral yang menimpa kaum perempuan sehingga gerakan ini berangsur-angsur surut dan  kini hanya tinggal wacana saja.


            Melihat latar belakang sejarah, konsep dan isu-isu  feminisme, perempuan di dunia Islam sebenarnya tak perlu silau oleh pemikiran-pemikiran kaum feminis. Isu hak dan kesetaraan yang diagung-agungkan barat,  muncul karena penolakan perempuan barat terhadap dokrin gereja yang memarginalkan kaum perempuan selama berabad-abad.  Doktrin gereja telah pengekangan hak-hak perempuan untuk mengembangkan diri dan memiliki akses  kepada pendidikan. Begitu juga dengan hak-hak sipil perempuan yang terpinggirkan karena perempuan dipandang sebagai masyarakat kelas dua.  Tentunya hal-hal tersebut tidak ditemui dalam ajaran dan doktrin-doktrin Islam.  Agama  Islam sejak abad ke-7 M telah menepatkan perempuan dalam posisi yang begitu mulia, seperti pendapat beberapa wanita Barat yang memeluk agama Islam karena tertarik oleh keadilan dan kemuliaannya. Annie Besants berkata tentang wanita Islam, ”Sesungguhnya kaum wanita dalam naungan Islam jauh lebih merdeka dibandingkan dalam mazhab-mazhab lain. Islam lebih melindungi hak-hak wanita daripada agama Masehi. Sementara kaum wanita Inggris tidak memperoleh hak kepemilikan-kecuali sejak 20 tahun yang lalu-Islam telah memberikan sejak saat pertama.” 


            Isu ”kebebasan” telah membuat perempuan barat mengingkari kodrat mereka sebagai perempuan  Melihat problematika sosial yang melanda masyarakat Barat saat ini, terutama kaum perempuannya, sungguh naif jika masih ada saja orang-orang yang menganggap bahwa feminisme  dapat memberikan solusi bagi  permasalahan perempuan di dunia Islam. Kita sepatutnya merasa iba kepada Barat karena tanpa sadar mereka telah menjadi korban ideologi  yang merusak tatanan sosial kemasyarakatan dan mencabut nilai-nilai religius dari peradaban mereka.

Dr. Dinar dewi kania

Minggu, 10 Mei 2015

Just Contemplation ...

Pernahkah merasa sepi jiwa, ada yang hilang saat-saat yang dirindukan tak pernah menyapa? Menggelintir hati seoalah jatuh menukik dari awan yang jatuh kedalam dataran bumi? Menggelora api kacau didalam hati, serasa merana tanpa ampun, menohok kedalam samudra jiwa yang amat jauh.. pelan hingga dinding itu tembus lalu pecah, inikah mungkin perasaan pesakitan yang dialami ketika seseorang patah hati, mendalam seolah ia adalah makhluk paling sengsara..

Pada awalan berbinar cerita, indah elok, tanpa cacat dalam setiap bias mata memandangnya, ada refleksi cinta yang amat sangat.. mengibarkan bahagia ke relung hati seperti serpihan debu berterbangan... seperti reranum para mawar yang semerbak meninggalkan wangi dalam kuncup-kuncup saat bermekaran.. sumringah didada tiada kira, menyambut aroma nya yang seperti tertarik terus menerus, makin melekat...


Iyakah iman pada sang Esa begitu juga dirasa? Saat kefuturan melanda rindu menggebu namun menyesakan karena benar-benar ada yang telah hilang... patah hati, melebur, runtuh, kacau ...  namun saat kaki langkah dalam jalan lurus ia menemukan nya kembali, mutiara itu.. iman terengkuh dalam jiwa-jiwa yang sepi sebelumnya.. jatuh cinta kembali pada sang Iman, iman pada Islam yang menghantarkan pada yang Ikhsan...



Rabu, 07 Januari 2015

Islamic worldview : Pondasi awal berfikir seorang muslim

             Didalam didunia ini, tentulah bangkitnya suatu peradaban karena memiliki cara pandang atau keyakinan dasar terhadap sesuatu yang ia adalah sebuah ciri yang khas, yang ketika berbagai keyakinan atau cara pandang itu menjadi suatu pandangan hidup (worldview) untuk memahami setiap lini kehidupan, dan menjadikannya ia asas dalam proses berfikir, berpola, ataupun berperilaku baik dalam kehidupan secara individu, bermasyarakat, sampai pada ranah politik dan bernegara, termasuk juga pada tatanan keilmuan menyangkut objek-objek permasalahan yang dibahas.

            Sebuah pandangan hidup (worldview) dimiliki oleh setiap manusia, yang dengan  nya akan terbentuk sebuah karakter dalam dirinya. Seperti hal nya seorang manusia yang memiliki cara pandang hidup Islam (Islamic worldview) pastilah, segala gerak geriknya akan menyesuaikan dengan pola pikir Islam. Akan terbaca pada setiap apa yang ia lisankan, dan apa yang ia perbuat. Berbeda dengan seseorang yang memiliki cara pandang selain Islam, cara pandang barat misalnya (westerend worldview) ia akan bertingkah dan berperilaku seperti pada umumnya masyarakat barat. Bisa kita ambil contoh misalnya seorang muslimah yang memiliki Islamic worldview dalam memandang perempuan, akan sangat jauh berbeda dengan seorang perempuan non muslimah yang memiliki cara pandang sekuler, seorang muslimah akan memandang dirinya itu mulia, akan memandang dirinya ketika menutup aurat menjadi perempuan terhormat, karena ia adalah salah satu bentuk dalam ketaatan pada Allah, Tuhan yang menciptakan nya. berbeda dengan perempuan non muslimah tadi, ia akan memandang seorang perempuan yang menutup aurat atau mengenakan jilbab adalah sebuah diskriminasi, sebuah doktrin, dan pengekat kebebasan setiap manusia, terlebih lagi ketika perempuan ini berfikir sesuai pemikiran kesetaraan gender, maka semakin buruklah citra perempuan ketika seorang perempuan berada dalam ranah domestik, yang pekerjaanya mengurus rumah tangga.

            Menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam memiliki worldview (pandangan alam/pandangan hidup) yang berbeda dengan pandangan hidup agama/ peradaban lainnya. Al-Attas menjelaskan sejumlah karakteristik pandangan hidup Islam, antara lain: berdasarkan kepada wahyu, tidak semata-mata merupakan pikiran manusia mengenai alam fisik dan keterlibatan manusia dalam sejarah, sosial, politik, dan budaya.  tidak bersumber dari spekulasi filosofis yang dirumuskan berdasarkan pengamatan dan pengalaman inderawi serta ia mencakup pandangan tentang dunia dan akhirat.

            Jadi, menurut al-Attas, pandangan hidup Islam adalah visi mengenai realitas dan kebenaran (the vision of reality and truth), atau pandangan Islam mengenai eksistensi (ru’yat al-Islam lil wujud). Al-Attas menegaskan, bahwa pandangan hidup Islam bersifat final dan telah dewasa sejak lahir. Islam tidak memerlukan proses ’pertumbuhan’ menuju kedewasaan mengikuti proses perkembangan sejarah. Jadi, karakteristik pandangan hidup Islam adalah sifatnya yang final dan otentik sejak awal. Ini sangat berbeda dengan sifat agama-agama lainnya maupun kebudayaan atau peradaban umat manusia yang berkembang mengikuti dinamika sejarah.

            Oleh karenanya, seseorang yang memiliki Islamic worldview, akan selalu merasa bahwa apa yang dibawa Islam adalah yang benar, sebuah cara untuk menuju Allah yang Allah ridhai. Pandangan hidup Islam terbentuk dari serangkaian pemahaman tentang konsep-konsep pokok dalam Islam, seperti konsep Tuhan, konsep kenabian, konsep agama, konsep wahyu, konsep manusia, konsep alam, dan konsep ilmu. Seluruh elemen itu terkait satu dengan lainnya, dan konsep Tuhan menjadi landasan bagi konsep-konsep lainnya. (Dr. Adian dalam makalah Islamic Worldview).

            Jelas bagi kita, setiap insan pasti memiliki cara pandang tersendiri mengenai, alam dan kehidupan, hanya saja. Benar atau tidak nya cara pandang itu adalah yang sesuai dengan Islam. Karena memang Islam lah satu-satu nya agama yang benar, yang memiliki semua konsep dalam setiap sekelumit permasalahan manusia yang mampu menyelesaikan nya dari akar hingga tuntas. Maka selayaknya untuk kita seorang muslim, wajib berbangga terhadap Islam dan semua tatanan konsep yang ada didalamnya, menjadikannya sebuah ideologi berfikir kita dan identitas yang hakiki bagi seorang muslim.


Wallahua’lam bissowab...

Minggu, 04 Januari 2015

Just Think

Secara tidak sengaja saat membuka folder-folder di laptop aku menemukan banyak tulisan, tulisan yang tak pernah aku publish, karena ia menjadi bagian dari rahasia hati (wa elah), tidak perlu diungkap apa tulisannya, karena yang membaca mungkin tak perlu tahu, bukan tak perlu malah tak mau tahu :D

Saat kehidupan terus mengalir, bukan mengalir apa adanya ya, tapi ada apanya.. (apasih) pastilah kita pernah mengalami fase dimana kita bertingkah labil, emosional, yahh tepat sekali mungkin itu dirasa ketika remaja.. tapi sekarang aku bukan remaja lagi, aku sudah beranjak dewasa tapi entahlah aku tetap merasa bahwa aku masih anak kemarin sore!

Manjaku, kelabilanku, kekanakanku, masih serasa melekat sampai saat ini, bahkan aku tak tahu bagaimana cara menjadi dewasa.. hahaha entahlah aku tak mau memikirkan itu, eittss tapi harus aku fikirkan! Yaa baikalah akan kupikirkan sejauhmana sampai saat ini aku mendewasakan diri.. dan aku memberi pengaruh dan teladan seperti apa untuk adik-adik ku... (adik kelas maksudnya, kan aku anak bungsu weekkk)...

Okey kembali kecerita, emang lagi cerita apasih kita? Hah kita? Ohh iyaa gue aja kalii eluu kagak.. :P

Proses pendewasaan diri memang kadang tak harus dilihat dari berapa banyak bilangan usia, tapi bagaimana individu itu mampu berfikir, bersikap, dan berperilaku, secara bijaksana dalam setiap moment, tidak hanya sekedar saat menghadapi masalah, melainkan dalam pergaulan dan kehidupan sosial dengan yang lain.. (Cieee sok berteori)

Harus aku akui, bahwa aku bukan anak remaja lagi, yang setiap tulisan harus bernada galau.. masalah yang mengelilingiku hanya bersekat pada asmara saja (hueekkks ampun dah) tapii sekarang aku mengahadapi hal yang lebih dari itu, lebih dari sekedar rumit, lebih dari sekedar benang kusut, lebih besar dari badan gajah yang ada diragunan dan taman safari, lebih tinggi dari leher jerapah dan lebih panjang dari meteran...

Aku menjadi bagian dari orang dewasa yang memiliki banyak kompleksitas keruwetan masalah yang sulit terorganisir dan menghantam banyak benalu yang ada didepan mata (ini aku ngomong apa sih kayaknya kena vickynisasi syndrome nii jangan-jangan -____-) yaah intinya begitu, saat aku harus bisa mngatur diriku sendiri, saat aku harus banyak belajar, membaca, merenungi setiap persoalan ku dengan bijaksana, saat aku harus mampu menjadi pribadi yang bisa menyelesaikan masalah ...

Namun masalah ku saat ini bukan sekedar bergelut pada masalah pribadi, keluarga, aku harus mampu berfikir bahwa masalahku begitu meluas ini tentang masyarakat, ini tentang ummat, ini tentang kemajuan arah suatu peradaban.. (naah kan masalahnya gede banget)..

Berhentilah untuk menjadi manusia paling apatis sedunia, tidak peduli bahkan rasa empati sudah terkikis habis oleh sifat individualisme yang mengakar, berhentilah menjadi manusia paling angkuh dan berotak kapitalis yang semua keuntungan hanya bermuara kepada diri sendiri dan pihak pribadi, berhentilah menjadi manusia pemangsa yang rakus dan krisis akan kemanusiaan sehingga sesama manusia tidak saling memanusiakan manusia, apakah saat ini mata kita tertutup oleh keegoisan diri? Egosentrisme yang berujung pada ketidakpedulian sosial?

Maka problematika dan kerusakan yang ada dalam tatanan masyarakat saat ini menjadi pekerjaan kita semua, pembenahan terhadap kerusakan yang ada dalam kerangka sosial kita saat ini adalah masalah kita bersama, rusaknya sistem tatanan kehidupan, degradasi moral, kehilangan adab, rusaknya ilmu, hingga salahnya pengaturan sistem dalam ketatanegaraan adalah pekerjaan kita bersama..

Andai engkau yang mengaku dewasa, andai engkau yang mengaku manusia pemikir, andai engkau manusia yang ingin melakukan perbaikan.. ini PR kita saat ini...
Dan aku? Aku siapa aku? Aku kah bagian dari itu? Iya seharusnya..!



Minggu, 04 desember 2014 .. sudut kamarku ketika hujan menjadikan aku ingin menulis, menulis suatu hal yang mungkin orang tak pernah akan membacanya, tapi buatku ini cara aku mendewasakan diri.. dengan perenungan dan intropeksi.. 

Jumat, 02 Januari 2015

Kecerdasan Buatan (ARTIFICIAL INTELLIGENCE)

Definisi Kecerdasan Buatan

H. A. Simon [1987] : “ Kecerdasan buatan (artificial intelligence) merupakan kawasan penelitian, aplikasi dan instruksi yang terkait dengan pemrograman komputer untuk melakukan sesuatu hal yang -dalam pandangan manusia adalah- cerdas”

Rich and Knight [1991]:
“Kecerdasan Buatan (AI) merupakan sebuah studi tentang bagaimana membuat komputer melakukan hal-hal yang pada saat ini dapat dilakukan lebih baik oleh manusia.”

Encyclopedia Britannica:
“Kecerdasan Buatan (AI) merupakan cabang dari ilmu komputer yang dalam merepresentasi pengetahuan lebih banyak menggunakan bentuk simbol-simbol daripada bilangan, dan memproses informasi berdasarkan metode heuristic atau dengan berdasarkan sejumlah aturan”

Tujuan dari kecerdasan buatan menurut Winston dan Prendergast [1984]

1. Membuat mesin menjadi lebih pintar (tujuan utama)
2. Memahami apa itu kecerdasan (tujuan ilmiah)
3. Membuat mesin lebih bermanfaat (tujuan entrepreneurial)

Senin, 17 November 2014

Syiah

Sejarah Syiah       
   
            Ada yang menganggap syiah lahir pada masa akhir kekhilafahan Utsman bin Affan, atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi thalib, pada masa itu terjadi pemberontakan terhadap khalifah Utsman bin Affan, yang terakhir dengan kesyahidan Utsman dan ada tuntutan ummat agar Ali bin Abi thalib dibaiat menjadi khalifah. 

Namun pendapat yang paling popular adalah bahwa syiah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak pasukan Ali bin Abi Thallib dengan pihak Muawiyah bin Abu Sofyan di Siffin yang lazim disebut At-Tahkim (Arbitrasi). Akibat kegagalan itu sejumlah pasukan Ali menentang kepemimpinannya dan keluar dari pasukan Ali bin Abi thalib, mereka ini disebut golongan Khawarij, (orang-orang yang keluar dari barisan Ali) akan tetapi sebagian besar yang setia pada Khalifah disebut Syiah Ali (Pengikut Ali).

            Istilah Syiah pada era kekhalifahan Ali hanyalah bermaknan pembelaan dan dukungan politik. Syiah ali yang pertama kali muncul pada era kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, bisa disebut sebagai pengikut setia khalifah yang sah pada saat itu melawan pihak muawiyahdan hanya bersifat kultural, bukan bercorak Aqidah seperti yang dikenal pada masa sesudahnya dan sampai sekarang ini. Sebab kelompok setia syiah Ali yang terdiri dari sebagian sahabat Rasulullah dan sebagian besar Thabi’in pada saat itu tak ada satupun yang berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib lebih utama dan lebih berhak atas kekhalifahan setelah Rasulullah daripada Abu Bakar dan Ummar bin Khatab, bahkan Ali sendiri ketika menjadi Khalifah menegaskan dari atas mimbar masjid Kuffah ketika berkhutbah bahwa “sebaik-baik umat Islam setelah Nabi Muhammad SAW, adalah Abu Bakar dan Ummar bin Khattab” demikian pula jawaban beliau ketika ditanyaoleh putranya yaitu Muhammad ibn Al Hanafiyah seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim (Hadist no 3671) (1)

Tentang Syiah

            Keberadaan syiah di indonesia, sudah dalam taraf mengganggu, sudah menyebar kemana-mana, misal secara terang-terangan menghina Istri Nabi, menjelekan para Sahabat, mengkafirkan bahkan lebih parah dari itu. Sebenarnya ada isu yang dibelokan mengenai syiah, dari kalangan syiah menuduh kaum sunni, memiliki sifat takfiri, mengingkari ukhuwah, tidak mau bersahabat dengan syiah, sehingga dibuatlah, buku bukti syiah tidak ada perbedaan antara sunny dan syiah, padahal sebenarnya, fakta sebenarnya ada perbedaan mendasar yang tidak diekspos dalam masyarakat, sehingga seperti tidak ada perbedaan antara sunni dan syiah. Sebagai contoh sayidinna ummar masuk didalam khamar fathimah, yang pada saat itu sedang hamil, pintu didobrak dan kandungan fathimah digugurkan. Mungkinkah itu? Sedangkan mereka bersahabat antara ali dan ummar. Drama yang seperti ini diciptakan dan benar-benar sebuah pembohongan besar.

Apa beda sunni dan syiah?

            Perbedaan dalam islam ada tiga, yang pertama furu seperti qunnut dan ada yang tidak, kedua nya benar karena keduanya dalam ranah ijtihadiyah furu’iyah, “pendapat saya benar tetapi ada salah nya, pendapat saya salah tapi ada benarnya”. Masalah ijtihadiyah yang masih dibolehkan, yang tidak boleh dibesar-besarkan.

            Tingkat kedua, masuk dalam ranah haq dan bathil. Ini sudah masuk perkara ushul. Orang yang melakukan kebatilan dalam islam, maka ia sesat, meski ia seoarang muslim. Kalau masalah ushul ini sudah pada masalah mengingkari keimanan, maka sudah jelas perbedaan Kuffur, Kaffir, dan Mukmin. Saat ini sunni dan syiah sudah pada taraf perbedaan tentang masalah Ushul ini. Seperti imamah, dalam syiah imamah masuk dalam ranah rukun iman.

            Yang ketiga masalah sahabat nabi, sahabat inilah yang meriwayatkan al-qur’an jika syiah tidak percaya pada sahabat nabi, maka batal juga kepercayaannya pada Al-qur;an. Dan terakhir adalah ahlul bait, hanya anak husain yang menjadi ahlul bait, sedangkan dari anak dan cucu Rasulullah yang lain tidak menjadi ahlul bait.

            “Barang siapa yang tidak mengakui keimanan Ali dan anak2 (anak2 husain dan imamah syiah) nya maka ia adalah kuffur dan musyrik di neraka” (Biharul anwar).
            Pada saat ini pun, istilah Syiah memiliki perkembangan terminologi, yang pertama dari segi pengertian bahasa, Syiah berarti pendukung atau pengikut bisa disebut juga sebagai pembela, atau berpihak. Hal itu menjadikan pada masa diawal masa fitnah para sahabat, kata syiah digunakan dalam pengertian bahasa ini, sehingga ketika itu dikenalah istilah syiah Ali, dan Syiah Muawiyah. Namun yang terjadi pada saat ini, syaih sudah termonopoli dan menjadi ciri khas tertentu yaitu agama “Syiah”

            Jelas sekali disini terdapat perbedaan mendasar antara sunni dengan syiah, jika apa yang kita jalankan dan apa yang dijalankan oleh sahabat Nabi, adalah  sesuatu hal yang salah, maka jelas, syiah benar-benar berbeda dengan kita (Muslim) dan jika seandainya para sahabat Rasulullah, seperti ummar, abu bakar dan utsman menjadi musuh bersama ali maka, jelaslah bahwa Rasul gagal dalam membina sahabat-sahabatnya. Pada faktanya Nabi tak pernah bermasalah dengan sahabat. Dan tidak masuk akal jika para sahabat tidak masuk surga seperti yang diklaim oleh syiah itu sendiri.

            Wallahua’lam ...

Referensi :

(1)   Mengenal dan mewasadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (buku panduan dari Majlis Ulama Indonesia, 2013)