Rabu, 03 April 2013

Perempuan Bermartabat dengan Islam

          Tidak asing ditelinga kita, sering muncul pernyataan bahwa pemberdayaan perempuan itu adalah dengan ia bekerja keras, ketika ia bergantung kepada suami secara finansial tidaklah membuat perempuan terhormat .. mengurusi rumah tangga, mengasuh dan mendidik anak adalah profesi kampungan dan ketinggalan zaman, tidak modern dan terkesan perempuan hanya menjadi budak untuk kaum laki-laki, sedangkan bagi kaum perempuan yang bekerja atau menjadi wanita karir, mandiri dengan pekerjaan nya, bahkan menjadi tulang punggung keluarga adalah suatu bentuk kebanggaan,  disatu sisi namun ia menyingkirkan kewajiban sebagai seorang istri/ibu dirumah.. inilah kesalahan persepsi yang terjadi kebanyakan di masa dewasa ini.


            

ketika kita menelisik lebih jauh, sebenarnya hal seperti ini mucul dari mulut-mulut yang tercampuri dengan pemikiran kapitalis, sebuah doktrin yang meluas secara global, memaksakan kepada perempuan agar berfikir bekerja mampu mengangkat derajat mereka, hal ini tentu wajar jika nilai-nilai kapitalisme merasuk dalam sela-sela pemikiran umat Islam, yang jelas memiliki pandangan atau world view yang berbeda dengan nilai-nilai sekularistik, dimana peran agama terkesampingkan dalam kehidupan sosial manusia, ini memberi efek yang perlahan tapi pasti menjerumuskan dan menjauhkan hakikat perempuan pada kodratnya..

            Arus pemikiran kapitalisme yang bersumber dari sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) benar-benar menggilas roda keimanan setiap muslim, doktrinitas dan pemikiran yang sangat dipaksakan dan tak sesuai naluri manusia membuat manusia jauh dari eksistensinya manusia, salah satunya ketika masuk nya arus pemikiran kesetaraan gender dan feminisme dalam kalangan perempuan, ketika perempuan dieksploitasi secara tak sadar dalam ranah publik seperti harus bekerja keras, memiliki hak sama dengan laki-laki, memiliki hak menolak hamil, boleh melakukan aborsi dengan alasan hak asasi manusia dan sebagainya.. ini membuat mereka berfikir adalah suatu kebanggaan untuk perempuan jika mereka mampu menandingi laki-laki dalam kehidupan sosial...

            Jika ini tetap dibiarkan maka, benar-benar akan teradi kehancuran untuk perempuan dimana memang kapitalisme telah memberikan sebuah label harga pada perempuan untuk menjadikan mereka budak dari pemikiran kapitalisme, ketika semua standar berdasar materi, wajar jika mereka diperlakukan seperti obyek untuk mendapat kekayaan, kepuasan, kesenangan tapi tanpa disadari oleh kaum perempuan itu sendiri, justru menjurus pada kebinasaan dan penyalahan kodrat sebagai perempuan ... apalagi ia seorang muslimah.

            Beginilah ketika para perempuan terjangkit oleh pemikiran dan pemahaman kapitalistik yang justru menjerumuskan, ironis sekali ketika diperhatikan bahwa di dunia ini Islam menjadi mayoritas, seyogyanya pemahaman Islam haruslah melekat dalam jiwa kaum perempuan dunia, agar mengetahui eksistensi dan hakikat diri nya.. bukan malah terjebak pada pemahaman yang salah kaprah dan justru menjatuhkan martabat perempuan yang sebenarnya mulia...

            Dalam pandangan Islam, tentu seorang perempuan memiliki kedudukan yang tinggi dan sangat berarti, ketika kita coba bandingan dengan perempuan-perempuan barat yang terjangkit pemikiran feminisme akan kita dapati ketimpangan yang sangat jauh... kedudukan perempuan dalam Islam adalah sebagai ummu warabatul bait, dimana seorang perempuan adalah pencetak generasi yang berkualitas, peran nya sebagai seorang Ibu adalah mendidik, dan membesarkan anak-anaknya dengan kapasitas Ilmu yang ia miliki, dan berazazkan aqidah Islam, maka lahirlah generasi emas dari tangan-tangan yang penuh kesabaran dan kesungguhan, semata-mata karena Ridho Allah. Disatu sisi posisi ketika menjadi seorang Istri, justru ia akan menjadi pendukung dan kunci kesuksesan suami dalam menerjang ombak kehidupan, sang istri adalah penyemangat dan partner paling hebat dalam kehidupan suami nya ..
            Berbeda dengan pandangan para penggagas feminisme, yang menempatkan kedudukan wanita haruslah setara bahkan harus lebih merdeka dari laki-laki, dan merdeka dari penindasan doktrin agama.

            Inilah yang menjadi evaluasi untuk kita pada hari ini dan seterusnya, bagi para Muslimah dan generasi penerus Peradaban Islam, bahwa harus disadari dan berhati-hati terhadap pemikiran yang bukan berasal dari Islam ... Karena perubahan ada di tangan kita, terutama kita sebagai intelektual dan terkhusus untuk para muslimah dalam dunia kampus, yang suatu hari akan menjadi seorang istri, atau seorang ibu sebagai madrasah peradaban, maka harus membekali diri dengan Ilmu semuda dan sedini mungkin.

Wallahua’lam bisawaab ...

"Konsep Kesehatan Dari Berbagai Dimensi Serta Hubungan nya Dengan Teori Perkembangan Kepribadian"





Konsep Sehat
            Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari sering dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal. Bahkan benda mati pun seperti kendaraan bermotor atau mesin, jika dapat berfungsi secara normal, maka seringkali oleh pemiliknya dikatakan bahwa kendaraannya dalam kondisi sehat. Kebanyakan orang mengatakan sehat jika badannya merasa segar dan nyaman. Bahkan seorang dokterpun akan menyatakan pasiennya sehat manakala menurut hasil pemeriksaan yang dilakukannya mendapatkan seluruh tubuh pasien berfungsi secara normal. Namun demikian, pengertian sehat yang sebenarnya tidaklah demikian. Pengertian sehat menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.

            Pengertian sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial. Batasan kesehatan tersebut di atas sekarang telah diperbaharui bila batasan kesehatan yang terdahulu itu hanya mencakup tiga dimensi atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial, maka dalam Undang- Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi.

            Pengertian diatas memberikan gambaran secara umum mengenai konsep sehat, Dalam pembahasan ini sedikit kita bahas mengenai aspek sehat dari berbagai dimensi diantaranya konsep sehat dimensi emosi, intelektual, sosial, fisik, dan spiritual.

Dimensi Emosi         
            Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman, 2002.  emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak
            Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.

            Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)
            Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta).
            Daniel Goleman,  mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :
a.  Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa
c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri
d. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat,  dan kemesraan
f. Terkejut : terkesiap, terkejut
g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
h. Malu : malu hati, kesal

            Menurut Mayer, orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia
            Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa Pengertian Emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

Dimensi Intelektual
            Dalam dimensi ini, seseorang memiiki intelegensi yang cukup tinggi. Dalam dimensi ini ia mampu menyerap berbagai pelatihan atau pendidikan dengan penyerapan yang lebih cepat, serta mudah memahami berbagai aspek materi tanpa mengalami kesulitan dalam proses kognitif dalam belajar. Tidak semua orang mengalami kesehatan intelektual secara utuh karena sehat secara intelektual merupakan sebagian dari proses bawaan, juga proses pembiasaan dan latihan.

Dimensi Sosial :
            Dalam dimensi ini, seseorang lebih terlihat mengalami kepekaan sosial yang tinggi, ia sehat dalam kerangka sosial bermasyarakat, seperti mudah bergaul, mudah beradaptasi, tidak mengalami krisis identitas, merupakan bentuk dari kepribadian yang sehat dalam dimensi sosial.

Dimensi Fisik
            Dimensi Fisik, merupakan aspek terpenting untuk melihat kondisi sesorang sehat atau tidak, disini dilihat dari kebugaran fisik, apakah ia menjaga kesehatan nya atau tidak, dengan ia berpola makan sehat, menjaga dari makanan yang buruk, serta dimensi ini menekankan pada keadaan jasmani seseorang.

Dimensi Spriritual
            Dimensi spriritual ini juga menjadi bagian terpenting dari kesehatan mental pribadi seseorang, karena mensucikan sesuatu merupakan bagian dari naluri manusia seperti hal menyembah Allah, tekun beribadah dan lainnya, dilihat dari bagaimana ia mengatur kedekatan diri nya dengan sang Pencipta, mampu mengelola jiwa berlandaskan aturan Agama agar terjadi ketenangan batin, hal ini lah yang menjadikan kondisi seseorang sehat secara Ruhiyah atau sehat secara spiritual.

Teori Perkembangan Kepribadian
Teori Aliran Psikoanalisis (Sigmund Freud)
            Tokoh yang pertama kali mencetuskan teori kepribadian sehat menurut Aliran Psikoanalisis adalah Sigmund Freud. Ia disebut sebagai Bapak Psikoanalisis, dilahirkan di Moravia pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Pokok-pokok teori Freud mengenai kepribadian yaitu : Menurutnya, kepribadian terdiri dari tiga sistem atau aspek, yaitu :

a. Das Es (the Id), yaitu aspek biologi dan merupakan sistem orginal di dalam kepribadian; dan aspek inilah      kedua aspek yang lain tumbuh. Freud menyebutnya juga realitas psikis yang sebenar-benarnya (The True Psychic Reality), oleh karena Id itu merupakan dunia batin atau subyektif manusia, dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia obyektif. Id berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis), termasuk instink-instink

b. Das Ich (the Ego), yaitu aspek psikologis daripada kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (Realitat). Orang yang lapar mesti perlu makan untuk menghilangkan tegangan yang ada dalam dirinya; ini berarti bahwa organisme harus dapat membedakan antara khayalan tentang makanan dan kenyataan tentang makanan.

c. Das Ueber Ich (the Superego), yaitu aspek sosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya, yang di masukkan (diajarkan) dengan berbagai perintah dan larangan. Superego lebih menekankan pada kesempurnaan daripada kesenangan; karena itu dianggap sebagai aspek moral kepribadian. Fungsi pokoknya ialah menentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak, dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat.

Teori Kepribadian Allport
            Allport lebih optimis tentang kodrat manusia daripada Freud, dan ia memperlihatkan suatu keharuan yang luar biasa terhadap manusia, sifat-sifatnya yang tampaknya bersumber pada masa kanak-kanaknya. Orangtuanya menekankan pentingnya kerja keras dan kesalehan, dan mereka membentuknya dengan suasana aman dan kasih sayang. Semangat perikemanusiaan ditanamkan dalam keluarga mereka dan Allport yang muda itu didorong untuk mencari jawaban-jawaban keagamaan terhadap pertanyaan-pertanyaan dan masalah-masalah kehidupan. Pengalaman-pengalaman pribadinya ini kelak tercermin dalam pandangan-pandangan teoritisnya tentang kodrat kepribadian.

            Seperti dikemukakan, pandangan-pandangan pribadi dan professional dari Allport berbeda dengan pandangan-pandangan Freud dan gambaran kodrat manusia  yang diutarakan Allport adalah positif, penuh harapan, dan menyanjung-nyanjung. Karena itu salah satu pendekatan yang berguna terhadap pemahaman segi pandangan psikologis Allport adalah mengemukakan tema-tema pokok dari teorinya tentang kepribadian dan menunjukkan bagaimana tema-tema itu berbeda dari apa yang terdapat pada Freud.

            Kepribadian menurut Allport adalah individu yang dewasa yang berkepribadian sehat, ia tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol oleh kekuatan ketidaksadaran, sesuatu kekuatan yang tidak dapat terlihat. Allport menekankan kepribadian pada individu yang memiliki “Intensional”. Intensional terdiri dari visi & misi, tujuan jangka panjang, sensasi/tantangan dan tegangan-tegangan yang semakin lama ditambah. Namun bukan kebahagiaan maksud daripada intensional ini, karena kebahagiaan dapat merupakan hasil dari integrasi kepribadian dalam mencari intensional

            Allport mengungkapkan “Princple of organizing the energy level” yang berarti prinsip pengaturan tingkat energy. Orang yang matang/sehat secara terus menerus membutuhkan motif kekuatan dan daya hidup yang cukup (Penambahan tegangan, dan sensasi). Kemudian ia juga menyatakan “Principle of mastery and competence” disini ia mengindikasikan orang-orang yang matang tidak cukup puas dengan melaksanakan atau mencapai tingkatan-tingkatan yang sedang atau yang hanya memadai. Individu didorong untuk terampil melakukan sedapat mungkin mencapai/memenuhi tingkat penguasaan dan kemampuan yang tinggi dalam usaha pemenuhan motif-motif (Visi&misi, tujuan jangka panjang, tegangan yang semakin ditambah). Individu yang sehat tidak pernah berhenti mengejar point dalam tujuan mereka, setiap point yang jatuh dalam tujuan mereka selalu diganti oleh point dengan tujuan yang lain.

Tingkatan proprium/self :
1. Kesadaran akan “saya secara jasmaniah”.
2. Identitas diri.
3. Harga diri. Kebutuhan anak akan otonomi. Disini individu masih dalam tahap perkembangan anak Yang mengalami konflik autonomy vs shame & doubt.
4. Perluasan diri.
5. Gambaran diri. Terbentuk/berkembang dari interaksi orangtua dan anak. Dalam mempelejari interakso ini anak melakukan suatu perumusan tentang intensi.
6. Rational thinking. Individu menyadari bahwa ia dapat memecahkan suatu msalah dengan menggunakan proses yang logis dan rasional.
7.  Propriate Striving. Terjadi pada saat individu memasuki masa adolescence. Karena telah memiliki pemahaman akan arti hidup sepenuhnya.

Teori Kepribadian Erikson
            Erik Erikson adalah seorang psikolog yang merupakan murid dari Sigmund Freud seorang tokoh psikoanalitik. Erikson mengambil psikoanalitik sebagai dasar teorinya namun ia mengikut sertakan pengaruh-pengaruh sosial individu dalam perkembangannya. Berbeda dengan Freud yang berpendapat bahwa pengalaman masa kanak-kanak, terutama di lima tahun awal, yang mempengaruhi kepribdian seseorang ketika dewasa. Erikson berpendapat bahwa masa dewasa bukanlah sebuah hasil dari pengalaman-pengalaman masa lalu tetapi merupakan proses kelanjutan dari tahapan sebelumnya.

            Erik Erikson membantah ide Freud yang mengatakan bahwa identitas sudah ditentukan dan terbentuk sejak kanak-kanak, pada usia lima atau enam tahun. Erikson berpendapat bahwa pembentukan identitas merupakan proses yang berlangsung seumur hidup.    

            Manusia adalah makhluk yang unik dan menerapkan system terbuka serta saling berinteraksi. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan hidupnya. Keseimbangan yang dipertahankan oleh setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, keadaan ini disebut dengan sehat. Sedangkan seseorang dikatakan sakit apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan lingkungannya. Sebagai makhluk social, untuk mencapai kepuasana dalam kehidupan, mereka harus membina hubungan interpersonal positif .

            Konsep dasar kepribadian manusia menurut Erik Erikson tidak hanya dipengaruhi oleh keinginan/dorongan dari dalam diri individu, tapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor luar, seperti adat, budaya, dan lingkungan tempat dimana kepribadian individu berkembang dengan menghadapi serangkaian tahapan-tahapan sejak manusia lahir (bayi) hingga memasuki usila lanjut usia (masa dewasa akhir).

            Proses perkembangan kepribadian menurut Erik Erikson adalah sebuah proses yang berlangsung sejak masa bayi hingga usia lanjut. Proses perkembangan kepribadian tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (dorongan dari dalam diri) tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial yang ada dilingkungan dimana individu tumbuh dan berkembang.

            Menurut Erikson, dalam alih bahasa Fransiska dkk. 2008, kepribadian (terutama focus Erikson pada identitas) berkembang melalui 8 tahap yang saling berurutan sepanjang hidup.

            Tahapan-tahapan yang dikemukakan oleh Erikson ini menggunakan tahapan perkembangan psikoseksual Freud sebagai dasar teorinya, hal ini terlihat dari lima tahapan pertama yang Erikson ajukan memperlihatkan krisis ego yang sama dengan tahapan psikoanalitik Freud.

            Dalam setiap tahapan, Erikson percaya setiap orang akan mengalami konflik/krisis yang merupakan titik balik dalam perkembangan. Erikson berpendapat, konflik-konflik ini berpusat pada perkembangan kualitas psikologi atau kegagalan untuk mengembangkan kualitas itu. Selama masa ini, potensi pertumbuhan pribadi meningkat. Begitu juga dengan potensi kegagalan Berikut tahapan nya :
a.       Tahap 1. Trust vs Mistrust (percaya vs tidak percaya)
b.      Tahap 2. Otonomi (Autonomy) VS malu dan ragu-ragu (shame and doubt)
c.       Tahap 3. Inisiatif (Initiative) vs rasa bersalah (Guilt)
d.      Tahap 4. Industry vs inferiority (tekun vs rasa rendah diri)
e.       Tahap 5. Identity vs identify confusion (identitas vs kebingungan identitas)
f.       Tahap 6. Intimacy vs isolation (keintiman vs keterkucilan)
g.      Tahap 7. Generativity vs Stagnation (Bangkit vs Stagnan)
h.      Tahap 8. Integrity vs depair (integritas vs putus asa)

Kesimpulan
            Kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting untuk menjalankan proses kehidupan dalam keranga sosial, kesehatan mental merupakan kesehatan jiwa pada seseorang, sehingga kesehatan mental memiliki pengaruh khusus terhadap pertumbuhan kejiwaan manusia. Pentingnya kesehatan mental yang melingkupi berbagai aspek dimensi seperti kesehatan secara emosi, kesehatan intelektual, kesehatan sosial, kesehatan fisik, juga secara spriritual akan membantu menyelaraskan manusia menjalani kehiduan keseharianya dalam bermasyarakat. Hubugan nya dengan teori kepribadian oleh para ahli dengan penjelasan yang dikemukaan merupakan suatu bentuk sarana untuk membantu menemukan identitas dirinya, agar lebih mudah dalam mempelajari kehidupan, ketika manusia memahami konsep diri nya maka ia akan lebih mudah juga untuk mengetahui eksistensinya, diharapkan dengan ada nya teori dari para ahli berdasarkan eksperimen, mampu membantu pemecahan masalah pada manusia itu sendiri.


Referensi Buku :
1. Nurcahyo, H , 2008. ILMU KESEHATAN JILID 1 untuk SMK, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional
2. Schultz, D. (1991). Psikologi Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Alih Bahasa : Yustinus. Yogja : Kanisius.
3. Artikel oleh : Hariyanto, S.Pd onDecember 27, 2009 : Belajar Psikologi
4.  Artikel  oleh : zainal, pada 17 October 2011: Pengertian Sehat
5. Artikel oleh : Muhammad amirullah, pada 27 februari 2012 : Teori Kepribadian Erikson

Situs Sosial :








Sabtu, 23 Februari 2013

Kitab Suci Melanggar RUU Gender

Oleh: Henri Shalahuddin

            Jika kita sepakat bahwa semua kitab suci adalah Karya Tuhan, berarti tak lama lagi di Indonesia Kekuasaan-Nya segera dibatasi dengan undang-undang. Keadilan-Nya kian dipertanyakan. Bahkan pengikut-Nya bisa dipidanakan gara-gara melanggar UU Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG). Itu jika komisi VIII DPR RI tetap nekad mengesahkan RUU KKG.

            Keadilan Tuhan seperti yang termaktub dalam lembaran-lembaran kitab suci dianggap tidak lagi setara untuk laki-laki dan perempuan, alias bias gender! Apalagi Bab VIII, pasal 67 RUU KKG secara tegas menyebutkan: “Setiap orang dilarang melakukan perbuatan yang memiliki unsur pembedaan, pembatasan, dan/atau pengucilan atas dasar jenis kelamin tertentu”.

            Karena Tuhan tidak termasuk dalam kategori “setiap orang”, maka sebagai gantinya adalah semua orang yang mengikuti ajaran Tuhan. Maka siapa saja yang masih saja melaksanakan Ketentuan Tuhan dalam masalah waris, aqiqah, kesaksian, melarang perempuan menjadi khatib jumat, wali nikah, imam shalat bagi makmum laki-laki, dan melarang nikah beda agama maupun sesama jenis berarti telah melanggar Bab VIII, pasal 67 dan Bab III pasal 12, khususnya huruf a dan e yang menyatakan: “Dalam perkawinan, setiap orang berhak: (a) memasuki jenjang perkawinan dan memilih suami atau isteri secara bebas. (e) atas perwalian, pemeliharaan, pengawasan, dan pengangkatan anak”.

            Apa yang menjadi Kehendak Tuhan secara umum dinilai telah melenceng dari dasar filosofi,  karakteristik, arah dan target RUU KKG seperti yang digariskan dalam Ketentuan Umum, Bab I, pasal 1.

            Dalam ketentuan umum, kesetaraan dan keadilan diartikan dengan kesamaan dan persamaan. “Kesetaraan Gender adalah kesamaan kondisi dan posisi bagi perempuan dan laki-laki untuk mendapatkan kesempatan mengakses, berpartisipasi, mengontrol dan memperoleh manfaat pembangunan di semua bidang kehidupan. Sedangkan “Keadilan Gender adalah suatu keadaan dan perlakuan yang menggambarkan adanya persamaan hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki sebagai individu, anggota keluarga, masyarakat dan warga negara”. (cetak miring untuk kata kesamaan dan persamaan oleh penulis)

Apa saja bentuk “ketidakadilan” dalam kitab suci menurut RUU KKG?
Dalam Bibel terdapat banyak sekali ayat-ayat yang secara tekstual cenderung bertentangan dengan RUU ini. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1.    “Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal”. (I Timotius 2:9)

2.    “Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri”. (I Timotius 2:12)
3.    Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa”. (I Timotius 2:14)

4.    Wujud kutukan Tuhan terhadap perempuan. “Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu”. (Kejadian 3:16)

5.    Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. (I Korintus 14:34-35);

6.    Sebagai simbol kejahatan “Dan pada dahinya tertulis suatu nama, suatu rahasia: “Babel besar, ibu dari wanita-wanita pelacur dan dari kekejian bumi. Dan aku melihat perempuan itu mabuk oleh darah orang-orang kudus dan darah saksi-saksi Yesus”. (Wahyu 17:5-6)

7.    “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu”. (Efesus 5:22-24)

8.    Anak perempuan tidak mendapatkan waris kecuali jika tidak ada pewaris lagi dari laki-laki. “Dan kepada orang Israel engkau harus berkata: Apabila seseorang mati dengan tidak mempunyai anak laki-laki, maka haruslah kamu memindahkan hak atas milik pusakanya kepada anaknya yang perempuan”. (Bilangan 27:8)

9.    Seorang istri tidak punya hak waris dari suaminya (bilangan 27:8-11)

10.    Anak perempuan boleh dijual sebagai budak: “Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar” (Keluaran 21:7)

11.    ”Dan aku menemukan sesuatu yang lebih pahit dari pada maut: perempuan yang adalah jala, yang hatinya adalah jerat dan tangannya adalah belenggu”. (pengkhotbah 7:26)
           
Demikian seperti yang dikuatkan juga oleh P. Hendrik Njiolah, Pr., seorang Penasihat Rohani WKRI DPD Propinsi Sulawesi Selatan dan alumnus Pontificium Institutum Biblicum (Institut Kitab Suci Kepausan) Roma (1987-1991), dalam bukunya “Ideologi Jender dalam Kitab Suci (Suatu Penggalian)”.

            Tidak hanya Bibel, bahkan al-Qur’an pun akan dipandang sama. Karena banyak ayat-ayat al-Qur’an tidak sejalan dengan RUU ini. Di antaranya seperti berikut:

1.    Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya (QS. Al-Baqarah 228)

2.    Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan (QS. An-Nisa’ 11)

3.    Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An-Nisa’ 34)

            Lalu apakah dengan banyaknya ketidaksesuaian dengan RUU ini, teks-teks kitab suci itu harus dirombak? Ataukah DPR RI dan Menneg PP akan mempromotori proyek pembuatan tafsir kitab suci versi baru yang sehaluan dengan RUU ini? Kita tunggu bagaimana akal kolektif anggota dewan menghadang Wahyu Tuhan.
RUU KKG Memasung Perempuan

            Sebenarnya banyak sekali pasal-pasal dalam RUU KKG ini bertentangan dengan kodrat perempuan. Bahkan mereka juga tidak terlalu membutuhkannya. Biarlah keinginan perempuan berkembang secara alami dan beragam. Pemerintah tidak perlu mengintervensi keinginan perempuan dengan memaksa mereka minimal 30% harus duduk di legislatif, eksekutif, yudikatif dan lembaga pemerintahan lainnya. Pemerintah juga tidak terlalu perlu untuk mengistimewakan keinginan sekelompok perempuan tertentu yang bersifat kasuistik untuk dibuat aturan umum yang mengikat semua warga negara. RUU KKG adalah wujud pemaksaan perempuan untuk tidak menjadi seperti yang mereka kehendaki.

            Para pembuat RUU ini seharusnya lebih akomodatif terhadap pilihan wanita, termasuk memperhatikan ambisi para ibu untuk mendidik anak-anaknya. Kata-kata seorang ibu di Melbourne sungguh patut direnungkan bagi kita semua: “Saya mempunyai mimpi untuk diri saya sendiri, tapi saya mempunyai mimpi yang lebih besar untuk anak-anak saya”. Kepada isteri saya, seorang ibu guru juga menceritakan pengalamannya ketika ditanya muridnya: “What is your ambition?” Lalu dia menjawab: “My ambition is to guide my children reach their ambition”.

            Memang sungguh tidak mudah mewujudkan mimpi dan ambisi semua perempuan. Karena hal itu memerlukan integritas, kapasitas dan kapabilitas yang sempurna. Namun merupakan suatu kebodohan kaaffah jika pembuat kebijakan hanya mengakomodir kepentingan sebagian kecil kelompok yang tidak mendasarkan pada nilai-nilai kemuliaan perempuan. Sebab kata Ibn al-Qayyim kebodohan adalah memandang baik sesuatu yang mestinya buruk dan menganggap sempurna sesuatu yang mestinya kurang. Sedangkan kebodohan dan keras kepala jika berakumulasi pada diri seseorang akan berakibat jahil murakkab (bodoh kuadrat). Abu Talib al-Makki menjelaskan bahwa mereka inilah “orang-orang yang tidak tahu dan tidak tahu kalau dirinya tidak tahu”. Pastinya kita tidak sedang mengharap bahwa kejahilan kolektif yang murakkab bakal menimpa dewan yang sama-sama kita hormati. 

Wallahu a’lam bi l-sawab

Jumat, 18 Januari 2013

“Mahasiswa Apatis Tak Ubahnya Seperti Benalu untuk Masa Depan Bangsa”


  Sudah tak asing lagi di telinga kita berbagai jenis macam mahasiswa dalam kampus, julukan dan gelar yang sering kita dengar, seperti mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang), kura-kura (kuliah-rapat, kuliah-rapat), kunang-kunang (kuliah-pulang, kuliah-pulang), dan julukan indah lainnya, yang katanya membanggakan untuk diri, tapi entahlah, kenapa saya berpandangan lain terkait hal ini, memang tidak terlepas dari karena saya sendiri adalah seorang mahasiswa, saya merasa beruntung bisa menikmati indah nya mencari ilmu, bergumul dengan berbagai pemikiran dan wawasan baru, berkelana dengan banyak pengalaman, memperbanyak relasi dalam hubungan sosial, setidaknya itu membuat eksistensi saya meningkat dalam kerangka sosial, bukankah sudah menjadi bagian naluri dari manusia untuk diakui?, jadi sebagai mahasiswa mengapa tak dioptimalkan apa yang kita miliki selama di perguruan tinggi?. Aktualisasi diri, pencerdasan diri, saya bisa lakukan disini, dengan menjelajahi dunia keintelektualan.

          Oke, berlanjut mengenai bahasan utama, bukan bertujuan untuk merasa berkepala besar, atau merasa diri ini layak dan jauh lebih dari baik. Hanya saja ada rasa “galau”, yang membuncah dalam hati saya, ketika saya menilik kedalam dunia yang saya tunggangi saat ini, kehidupan yang bebas, pemikiran yang bebas, cara pandang hidup bebas, pola pikir bebas, ekspresikan diri secara bebas, dan semua yang bebas tapi bertanggung jawab sesuai dengan pancasila, yah.. itulah kira-kira gambaran kehidupan sosial yang saya berada didalam nya, entahlah saya terjebak atau bagaimana dalam kondisi ini, yang pasti saya rasa tak nyaman, tapi saya coba memposisikan diri dalam sikap yang tepat, sehingga saya tak terganggu dan berusaha safety.

          Menjadi hal biasa sebagai mahasiswa untuk melakukan eksperimen, pengkajian, analisis, mengahasilkan suatu pemikiran baru, membawa perubahan baru, menyelesaikan masalah, dan pembuat peradaban emas memimpin dunia. Ya tepat sekali inilah yang biasanya dilakukan oleh seorang mahasiswa, pendobrak perubahan dari kondisi yang buruk kedalam kondisi yang baik, inilah tindakan pemuda yang seharusnya, pemuda atau mahasiswa yaitu kita, generasi ideologis yang tercipta untuk kehidupan berjaya. Namun sayang sekali ini tak saya rasa kan, saya lihat, apalagi untuk saya bergabung didalam nya, pada kondisi saat ini saya berada. Mahasiswa yang saya sebutkan diatas hanya sedemikian kecil dari banyak nya populasi yang berada pada lingkungan yang saya tinggal didalamnya, terutama kampus, sekitar rumah, atau pada umumnya saya hidup bermasyarakat dengan yang lain, sungguh ini ironis dan membuat pertanyaan besar di benak saya, apa sebenarnya yang terjadi?, baikalah apa yang sebenarnya terjadi (saya ulang biar makin terasa jelas), ironis dengan kondisi masyarakat kita sekarang yang terasa bergemuruh masalah dari arah timur, barat, selatan, tenggara, dan dari berbagai wilayah segala lini kita sedang mengalami krisis identitas diri, bahkan sampai pada tahap ke sistemik yang menimbulkan masalah kompleks, permasalahan ini begitu besar, bagaikan gelindingan bola salju dari atas gunung yang mengahncurkan apa saja yang dilewatinya dan meluluhlantahkannya.

          Dimana persoalan nya?, adakah solusi mendasar untuk menyelesaikan berbagai bentuk persoalan di negara kita ini?, kemanakah pemuda yang bertanggung jawab itu? Kemanakah sekarang arah gelombang pergerakannya? Adakah ia tertidur? Ataukan ia sedang menenangkan diri dalam kondisi yang tak tepat, karena sebenarnya pedang siap menghunus tepat ke jantung nya??

          Mengapa mahasiswa terlalu apatis terhadap kondisi sosial mereka?, tidak adakah kepedulian selain untuk diri sendiri dan keluarga?, hanya itukah yang ada di benak mereka? Lantas bagaimana bentuk tanggung jawab sebagai mahasiswa yang sebenarnya, peran penting nya adalah agen perubahan? Inilah berbagai pertanyaan yang menggeluti pemikiran saya selama ini, jujur terlepas dari saya seorang aktivis kampus, saya rasa pertanyaan seperti inilah yang sering ditanyakan oleh bagian dari masyarakat kita, orang tua yang selaku memberi harapan, sekelompok orang kecil yang hidupnya pas-pasan, yang mempercayakan perubahan ada ditangan seorang pemuda, dan pasti masih banyak diluar sana yang tanyakan dimana peran mahasiswa saat ini.

          Ketidakpedulian yang sedang menggelayuti, para pemuda dan saat ini adalah masalah, kenapa menjadi masalah? Karena bersikap apatis terhadap kondisi lingkungan sosial maka tak ubah nya ia hanya sebuah benalu untuk masa depan bangsa, bagaimana tidak. Seorang yang apatis adalah mereka yang sibuk dengan masalah pribadi, keluarga, kelompok, geng mereka sendiri dan sejenisnya. Apalagi banyak sekali mahasiswa saat ini yang disibukan dengan masalah individual, terutama masalah asmara, galau, menangis, semoga tidak sampai pada tahap menjadi pengemis. Sebagian besar Mahasiswa sibuk dengan urusan kuliah, sibuk pekerjaan tugas kuliah, yang ujung nya adalah menimbulkan kurang nya kepekaan sosial terhadap diri merka sendiri, karena hanya fokus pada ranah pribadi.

          Lantas masalah ini yang sebenarnya terjadi, inilah yang saya lihat dalam ligkungan saya. Peran mahasiswa sebagai agen perubahan bangsa, telah tereduksi menjadi perubahan untuk diri sendiri saja. Bagaimana untuk mengatasi konflik sosial dan permasalahan sosial, mereka akan buntu solusi. Karena mereka tanpa sadar pun menjadi bagian dari masalah nya.

          Memahami masalah yang sebenarnya terjadi pada lingkungan sosial, sebenarnya adalah tugas dari pemuda dan mahasiswa, seandainya setiap mahasiswa kampus memahami urgensitas perubahan maka akan mengupayakan perubahan itu dengan peran nya dikampus, terutama dalam ranah intelektual. Seperti mengkaji ilmu lebih dalam lagi, membongkar pemikiran yang salah, bukan hanya disibukan dengan pendapatan IPK menjulang setinggi langit, dan lulus dengan hasil cume laude, setelah itu mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi, karir sukses, berkeluarga harmonis dan seterusnya. Apakah sebenarnya akan semudah itu? Tentu sangat tidak ketika kita berada pada dunia yang sesungguhnya kita jalani saat ini.

          Bagaimana membangun kerangka berfikir yang cerdas untuk menjalani hidup adalah dengan melihat fakta yang terjadi didalam masyarakat, tugas kita lah untuk menganalisis dan menyelesaikan nya. Bukan hanya menjadi penonton atau penikmatnya, lantas bagaimana kondisi yang bersebrangan dengan kita? Seperti yang tak berpendidikan, berekonomi rendah, sulit untuk menghidupi kehidupannya, apakah itu bukan masalah untuk kita? Jelas masalah juga untuk kita, karena kita hidup satu ruangan dengan mereka. Tugas kita membuat mereka setara dan sejahtera seperti kita.

          Lantas dengan apa caranya, tentu dengan mengambil peran sebagai agen perubahan. Kitalah generasi yang akan menjadi pemimpin dimasa depan. Kita yang akan membuat sistem yang mampu mensejahterakan kemajuan ummat. Untuk sampai pada tahap kesana, tentu bukan dicapai oleh mahasiswa yang apatis bahkan sama sekali tak pernah menengok dalam dunia sosial mereka karena hanya digalaukan masalah pribadi.

          Jujur saja, saya menjadi semakin galau ketika mahasiswa jenis apatis ini merajalela disekitar kehidupan saya, karena akan menghambat sebuah revolusi besar yang terjadi untuk kemajuan bangsa, untuk itu. Dari keingingan terdalam saya ingin mengajak, berbaur, bergabung, dengan semua mahasiswa untuk satu pemikiran, satu tujuan, satu genggaman, untuk perubahan bangsa lebih baik, bangsa yang bermartabat dengan ilmu, bermartabat dengan dunia intelektual, membangun cakrawala dunia agar melihat kita adalah segolongan pemuda yang telah bangkit dari rasa apatisme yang makin hari makin menjalar ke pemuda saat ini.

          Karena perubahan besar ada ditangan kita saat ini, maka tak pantas lah kita menjadi apatis layaknya benalu pada sebuah pohon yang sedang mengalami perkembangan pesat, banyak harapan yang di amanahkan untuk para pemuda dan mahasiswa, semoga tak adalagi istilah kupu-kupu, kura-kura, dan sejenisnya.

          Perubahan siap dimulai dari hari ini, pergolakan pemikiran dalam area kampus intelektual harus digelorakan dengan semangat revolusi, bukan lagi reformasi yang sesaat akan timbul masalah kembali. Semoga saya, anda, dan kita semua menjadi agen perubahan itu, dengan memaksimalkan potensi diri dalam dunia keilmuan dan intelektual.


Ketika Kaum Perempuan menjadi korban feminisme


“Jangan salahkan kami donk yang berpakaian seksi, tapi salahkan para lelaki yang tidak bisa menjaga syahwatnya, itu tandanya mereka lelaki yang tak bermoral dan tak beretika. Memakai rok mini adalah bagian dari hak kami, hak asasi manusia, karena negara ini adalah negara bebas.. bukan negara agama” yaah kalimat seperti inilah yang sering dilontarkan oleh para menggeger feminisme, yang mengaku mereka ingin bebas dari jeratan dan penindasan laki-laki, mereka ingin setara dengan laki-laki dalam segala hal, baik ranah privat ataupun publik, yang membedakan laki-laki dan perempuan adalah hanya sebatas perbedaan biologis, antara mengandung, hamil, dan menyusui. Selebihnya wanita memiliki hak yang sama dengan laki-laki.

            “Salah perempuannya juga, kenapa harus berpakaian seksi dan menggoda, ini mata kami, dan ini juga hak asasi kami untuk melihat keindahannya, dan wajar jika kami menggodanya karena para perempuan pun memamerkannya ..” inilah balasan kebanyakan para laki-laki yang tak mau disalahkan pula. Jadi siapa salah dan yang tersalah??



            Sungguh ironis ketika arus feminisme dan kesetaraan gender kiat merebak kepelosok negeri ini yang mayoritas penduduknya adalah muslim, tentu perempuan nya seharusnya berkepribadian dan memiliki pola pikir islami, namun sungguh sayang ketika arus modernisme, globalisme, perkembangan zaman yang kian melaju kebudayaan barat yang saat ini menjadi dominan menjadi acuan pola pikir masyarakat kita saat ini, ingin rasanya mengelus dada ketika melihat realitas yang sesungguhnya. 
Sungguh masyarakat kita menyerap budaya asing tanpa filter, ibarat makanan yang masuk kedalam mulut tanpa dilihat jenisnya, tanpa dikunyah, tapi langsung ditelan, bukannya menyehatkan tetapi malah membuat sakit karena yang dimakan ternyata mengandung racun, masha Allah.

            Sesungguhnya didalam Islam, wanita memiliki kedududukan tersendiri, demikian hal nya laki-laki. Masing-masing dari keduanya telah ada fitrah dan sunatullah yang tak bisa dipungkiri dan memang itulah ketetapannya dari sang khalik yaitu Allah yang Esa. Bagaimana mungkin manusia yang serab lemah mencoba untuk merubah hakikat dirinya, tentu sangat mustahil dan tidak akan pernah bisa.
            Naluri jinsi, keinginan seksual untuk melestarikan keturunan inilah yang ada pada setiap manusia, wajar manusia memiliki nafsu syahwat karena memang ini bagian dari naluri yang Allah ciptakan, hanya saja Islam mengatur bagaimana hal ini harus tersalurkan, Islam tidak mengentikan naluri ini tapi Islam mengarahkan pada sasaran yang tepat dan benar, yaitu hanya kepada yang telah halal yaitu istri/suami mereka.

            Ketika ada kasus pelecehan seksual yang saat ini berkembang pesat bahkan kita dengar dimana-mana, hampir disetiap belahan dunia terjadi pelecehan seksual terhadap kaum perempuan, akan sangat wajar hal ini terjadi karena tak ada kontrol dari negara yang menangani secara tepat, ditambah dengan terbukanya peluang oleh kaum wanita sendiri yang ingin bebas berekspresi, jangan sepenuhnya salahkan laki-laki, karena wanita yang menggugah syahwat laki-laki terlebih dahulu, tentu mudah sekali untuk laki-laki yang lemah iman nya, tidak mungkin ini dihentikan dengan salah satu pihak laki-laki saja dengan menahan syahwatnya sekuat mungkin sedangkan setiap hari mereka disuguhkan dengan pemandangan indah tubuh-tubuh kaum perempuan yang sengaja memamerkan auratnya, mereka bangga karena ingin dipandang indah, sungguh ironis tak ingin dilecehkan namun memberi peluang untuk direndahkan. Naudzubillah.

            Ketika penggagas kesetaraan gender makin menggila dengan idenya, inilah saat nya para kaum perempuan menyadari, bahwa mereka sedag dieksploitasi secara pelan-pelan namun membinasakan, para perempuan yang berakidah Islam tentu harus memahami bagaimana islam memuliakannya, menjaganya dengan hijab. Ketika seorang muslimah faham dengan agamanya tentu ini akan menjadi jaminan awal ia akan dimuliakan oleh islam. Tinggalkanlah pemikiran barat yang menghasilkan peradaban sampah. Peradaban yang tak memiliki kemuliaan sama sekali. Peradaban yang tak mampu memanusiakan manusia.

            Sungguh, engkau wanita muslimah engkau adalah permata bagi ummat di dalam agamamu ketika engkau menggenggam erat aqidah mu, membuang jauh-jauh segala bentuk pemikiran yang berasal dari selain Islam, islam memuliakan mu dengan hijab. Islam memuliakan mu dengan aturannya yang shohih dan diridhoi. Bukan aturan feminisme sampah yang pantas untuk dibuang keluar bumi.

            Islam memiliki solusi tersendiri untuk mengatasi pelecehan seksual dan tindakan keji lainnya yang menghinakan, untuk wanita ia kenakan hijab serta menundukan pandangan. Demikian pula untuk laki-laki, Allah perintahkan untuk masing-masing menjaga kehormatan dan kesucia diri nya. Sehingga tak bisa saling menyalahkan satu sama lain karena setiap laki-laki dan perempuan memiliki fitrah dan hakikatnya tersendiri. Dan Allah maha tahu apa yang Ia ciptakan, dan Ia anugerahkan aturan yang mulia dan benar..

            Sungguh apa yang telah ditetapkan oleh Allah adalah sebenar-benarnya ketapan dan bukan suatu yang menjerumuskan.

wallahua'lam ..

Minggu, 14 Oktober 2012

Dampak Internet Terhadap Perkembangan Psikogis Anak



Didalam perkembangan teknologi yang semakin maju dan luas, dimana ilmu pengetahuan akan penjadi pondasi utama sebagai perubahan bangsa. Salah satu nya adalah teknologi yang semakin pesatnya ditambah dengan arus globalisasi yang makin berkembang biak.
Perkembangan teknologi salah satunya internet. Dengan datang nya teknologi internet yang menunjang kemudahan hidup manusia semuanya berubah secara signifikan maupun instan. Sebagai contoh misalnya dengan adanya teknologi internet gaya hidup menjadi berubah seperti pemesanan tiket bioskop yang semakin mudah dipesan dengan memasuki situs yang relevan. Dengan demikian secara tidak langsung ataupun tidak maka konsep hiburan pun berubah dari zaman dulu, ke zaman modern saat ini yang semakin berkembang.
Sisi positif, Internet telah secara signifikan mengubah gaya hidup kita dalam beberapa cara. Berbagai macam saluran tersedia di Internet. Internet memiliki saluran pada Lowongan Kerja, Pribadi, Perpustakaan, Perjalanan, Seni, komputasi, Gaya hidup, Belanja, Musik, Rakyat, Uang, Games, berita Olahraga apa pun di dunia ini dapat diakses melalui internet saat ini.
Tetapi bukan hanya mendatangkan efek positif, Internet juga ternyata memiliki efek negatif kepada pengguna nya terutama bagi anak-anak. Peran Internet dalam mempromosikan berita atau gambar vulgar telah merusak tradisi dan nilai-nilai positif, dan itu sangat menyedihkan.
Lebih dari 35 juta anak berusia antara 5 dan 17 tahun saat ini memiliki akses internet, dan akses ini sering tanpa pengawasan. 1 dari 5 siswa sekolah menengah, siswa SMP dan SMA telah bertemu secara langsung dengan seseorang yang mereka kenal secara online dan tidak kenal sebelumnya, dan jumlah ini terus bertambah.  Mengingat banyak kejahatan yang terjadi karena penggunaan Internet yang tidak tepat yaitu penculikan, perampokan dan banyak hal negatif lain yang terjadi tentu hal ini sangat mengkhawatirkan dan orang tua perlu sadar akan hal ini.
Statistik industri menunjukkan hampir 1 dari 3 anak yang online memiliki keterampilan teknis untuk menghindari sistem penyaringan, dan hampir 2 dari 3 anak mengaku menggunakan Internet dengan cara yang tidak aman atau tidak semestinya.
Mendidik anak-anak tentang bahaya yang mengintai pada saat online, dan memantau kegiatan mereka merupakan komponen penting untuk meminimalkan risiko hubungan yang tidak tepat atau konten berbahaya yang diperoleh Anak saat online.
Sangat diperlukan peran orang tua dalam melihat hali ini, diantaranya karena internet memiliki dampak baik secara langsung atau tidak langsung terhadap kondisi psikologis anak.
Untuk mengurangi efek negatif yang mungkin akan terjadi, orang tua harus menjadi teman bagi anak-anak mereka dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan mereka. Mendorong anak untuk melakukan kegiatan outdoor dan permainan tim dalam pengaturan alam, bersusah payah untuk mengajar anak keterampilan sosial dan membantu mereka dalam berkomunikasi, agar mereka bisa mencurahkan isi hati mereka ke orang tua tanpa rasa takut. Hal tersebut penting karena anak-anak yang sudah terlanjur menyukai Internet biasanya kurang tertarik untuk membaca dan belajar mereka lebih tertarik duduk di sofa dengan Internet dan berbagai macam hal yang terdapat di Internet seperti game online, social media, internet messaging.
Jika orangtua mendeteksi perubahan dalam sikap anak saat atau setelah mereka online, yang paling penting adalah berbicara dengan ana, tentang ancaman yang mungkin mereka hadapi di Internet. Dengan menetapkan batas waktu online, pedoman untuk penggunaan Internet, dan menjelaskan bahwa sebagai orangtua berhak untuk memantau kegiatan mereka setiap saat, dan beri anak-anak  pengertian hal tersebut akan membuat internet lebih aman dan lebih menyenangkan serta mengurangi resiko yang bisa saja terjadi kepada mereka.

Sumber : http://artikelkesehatanwanita.com/waspadai-dampak-internet-pada-anak.html