Sabtu, 30 Januari 2016

Fitrah seksualitas (1)


Ditubuh umat islam sekarang sudah ada GII (Gay Islam Indonesia), mereka ingin mendapat legitimasi dari negara, dengan mengatasnamakan ormas agar mendapat simpati dari masyarakat umum.. dan  nyatanya tidak sedikit psikolog saat ini banyak yang lesbi dan gay, LGBT menjadi normal dan sudah dianggap normal (lihat DSM III), *DSM merupakan singkatan dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, yang berfungsi sebagai klasifikasi standar gangguan mental dalam bidang ilmu psikologi klinis.

Mengapa bisa hilang dari DSM III? Mereka yang berkelainan melakukan penyusupan begitu mendalam sehingga bisa menembus DSM III, dan merombaknya. Banyak diantara kita berbicara tentang Gay, namun tidak dipungkiri bahwa ternyata kaum Lesbi lebih banyak, mengapa mereka tidak mencuat kepermukaan? karena mereka bersembunyi.. artinya mereka yang Lesbi tersembunyi karena mendoubel menjadi biseksual, diantaranya dengan suami ataupun dengan perempuan yang lain. Dan mereka para Lesbian ini memiliki kecemburuan yang sangat over, kecemburuan para Lesbi sungguh luar biasa. Seperti kita mengambil contoh kasus M*rn* kemarin, yang mengalami keracunan kopi, nyatanya dia adalah seorang lesbi dan dibunuh oleh teman sesama lesbinya karena faktor kecemburuan.

Allah telah menciptakan setiap makhluk berpasang-pasangan (yaitu laki-laki dan perempuan), artinya tidak ada alternatif lain dan melakukan penyimpangan, jikapun argumen  gay dan lesbi terjadi karena secara genetik maka itu tetap disebut penyimpangan,

Mengapa Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan (laki-laki dan perempuan?)  agar terjadinya keseimbangan, bahkan laki2 yang tidak punya maskulinitas maka itu sebenarnya akan berbahaya, laki-laki  harus tetap memiliki sisi maskulinitas, dan feminitas bagi kaum perempuan, inilah hikmah mengapa bagi laki-laki dan perempuan harus berlainan agar terjadi keseimbangan kehidupan.

Ketika Anak laki-laki cenderung dekat dengan ayahnya dan sebaliknya, itu tersebab agar anak laki-laki mendapat sel maskulinitas dari ayah nya, juga anak perempuan yang dekat dengan ibunya agar mendapat sisi feminitas dari ibunya..

Banyak argumen yang menjelaskan Lesbi dan Gay terjadi karena genetik, Jelas itu tidak ada, hal tersebut bisa disanggah dan dibantah, mengapa ketika mereka berkeluarga tidak memiliki keturunan? Oleh sebab nya alasan karena genetik adalah alasan yang mengada-ada, karena faktor gen pasti pada akhirnya akan musnah karena tidak akan berketurunan...

Pada awal pertama kali Allah SWT menciptakan manusia, manusia diciptakan sendiri, bukan berpasangan lantas Kemudian Allah memberi pasangan (keberadaan pasangan inilah yang menjadi wajib dan mutlak adanya, sehingga pada akhirnya Allah memberi keturunan laki-laki dan perempuan yang banyak dalam rangka agar terjadi saling kontras, seperti layaknya  siang dan malam, pada akhirnya terjadilah keseimbangan itu agar saling menutupi, laki-laki dan perempuan demikian dengan suami dan juga istri).

Olehnya laki-laki dan perempuan itu kontras, Laki-laki membutuhkan perempuan dan sebaliknya agar terjadi ketergantungan, yaitu interdependent. kadangpun laki-laki sampai tidak bisa memahami perempuan, saking terlalu absurdnya. meski harus jujur kadang perempuan pun masih tidak bisa memahami diri sendiri, itulah mengapa wanita selalu ingin dimengerti.. akan tetapi untuk sebagian laki-laki menyatan bahwa, perempuan itu bukan untuk dimengerti tetapi untuk dicintai (^_^)

Setiap manusia berpasangan :
-          Qs 36 : 36
-          Untuk keseimbangan
-          Untuk perkembangbiakan
-          Law of closeness and contrast
-          Saling ketergantungan

-          Pembagian kerja
laki-laki bekerja seperti ini, dan perempuan bekerja seperti itu dan karenanya pembagian kerja itu harus ada, tidak semua dilakukan oleh laki-laki dan tidak semua dilakukan oleh perempuan. Saat ini banyak terjadi keluarga yang broken akibat pembagian peran yang tidak jelas, antara ayah dan ibu,  juga suami dan istri.

-          Kesadaran dan keterbatasan
Ketika pasangan suami dan istri atau laki-laki dan perempuan saling menyadari bahwa mereka memiliki keterbatasan akan lebih mudah dalam harmonisasi sama halnya dengan alam semesta ini, ada langit dan bumi, ada api, air, dan udara. ketika diharmonikan maka akan menjadi satu sinergi yang luar biasa. Api untuk memasak air, dan seterusnya.

-          Conflict and harmony
Dengan adanya kontras dan keharmonisasian inilah yang menjadi sebab keseimbangan kehidupan. Masing-masing berjalan di posisinya.


To be continue.. 

Minggu, 17 Januari 2016

Konstruksi Rumah Tangga

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah, suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.(QS. 33 : 21)

Kita semua tahu, bahwa Rasulullah adalah role model terbaik seorang manusia yang Allah ciptakan di muka bumi ini, sebagai tauladan dan cahaya untuk menuntun mata yang gelap dan dipenuhi belukar dalam menjalani kehidupan sebagai fase kehidupan akhirat selanjutnya.

Akan tetapi kebanyakan kita, telah salah kaprah dalam mengambil role model ini, kita lebih suka dengan yang terkesan modern, kita lebih segan kepada manusia-manusia yang menciptakan teori baru dengan dasar ilmiah yang terkesan dikuatkan namun sebenarnya rapuh. Kita terlalu latah ingin dianggap maju hingga kita (kaum muslimin) lupa bahwa kita tetap bisa menjadikan Rasulullah sebagai “pijaran” yang tetap relevan dan tak habis dimakan oleh zaman segala apa yang Ia bawa.

Termasuk dalam kehilangan identitas pendidikan karakter anak, dalam hal ini parenting yang dilakukan oleh orang tua pada anak nya, pendidikan karakter yang tak jelas pijakannya, akan menghasilkan pemahaman yang absurd pula pada anak. Bahkan anak bisa tak memiliki identitas yang jelas tentang dirinya sendiri. Para orang tua yang “gagal” dalam pendidikan anak akan melahirkan satu keluarga yang broken home turun temurun, masing-masing anak merasa kehilangan role model dalam tiap kehidupannya, pijakan nya menjadi rapuh dalam kehidupan, bahkan akan terus mengalami ketegangan psikologis yang berkelanjutan, kehilangan arah dan urakan. Jika ini sudah terjadi membangkitkan bangunan keluarga yang sakinah pada akhirnya akan sangat memberatkan dan butuh waktu menahun, karena yang harus disembuhkan dan di rekosntruksi ulang bukan hanya pemikiran dan pemahaman, melainkan sisi psikologis yang harus kembali sehat.

Tidak dipungkiri para orang tua kita telah banyak melupakan atau bahkan tidak tahu, bagaimana proses pendidikan karakter Islam itu menjadi hal yang sangat urgent, kita kalah dengan gerusan arus globalisasi atas nama modernisme, bahkan orangtua kita memiliki banyak alasan mengapa pendidikan dalam keluarga menjadi rapuh diantaranya adalah karena, tiadanya pemahaman yang benar tentang pendidikan keluarga, ketidaksiapan menjadi orang tua, olehnya hal-hal yang menjadi tanggung jawab orang tua menjadi terabaikan dan tereduksi hanya karena kesadaran yang tidak dirasakan oleh orang tua kita.

Dasar pemahaman yang benar tentang parenting oleh orang tua sangat dibutuhkan, diantara salah satunya mengajarkan adab pada anak, dengan Rasulullah sebagai role modelnya. Keterlibatan ayah dalam proses pendidikan keluarga. Iya seorang ibu memang menjadi ummu warabtul bait, yaitu madrasah bagi si buah hati namun jangan dilalaikan peran ayah menjadi kepala sekolahnya.. yang mengambil keputusan dan mengarahkan kemana nahkoda keluarga akan dilabuhkan..

Setiap orang yang akan membangun peradaban dalam artian berkeluarga, harus memiliki visi misi yang jelas, konsep keluarga seperti apa yang akan dibangun? Bangunan dan model keluarga seperti apa yang diinginkan? Sehingga cita-cita sebuah keluarga itu menjadi jelas, terarah dan tidak mudah goyah ketika dipertengahan jalan ada guncangan, karena akan mengingat kembali komitmen sejak awal berumah tangga, tidak lain karena sebagai jalan Ibadah memperoleh surga dan pengharapan ridho Allah sepenuhnya. Pun akhirnya akan berimplikasi menjadi keluarga yang sehat dan harmonis, termasuk dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya sebagai amanah.

Olehnya dalam membangun konsep keluarga yang akan dibangun maka masing-masing orang tua harus amat memahami, sang ayah sebagai arsitek nya, seorang Ibu adalah insyinyur sipilnya sedangkan guru dan sekolah merupakan kontraktor, dan lingkungan sebagai tukang bangunan nya, semua lini ini harus bekerja sama, teratur  dan terstruktur, saling memahami dimana job desk nya. Tidak boleh saling bertukar peran, karena akan kacau dan bisa saja bangunan nya runtuh bahkan tidak jadi sama sekali.


Wallaha’lam bishawab...

Jumat, 25 September 2015

Bersikap adil terhadap SSA (same sex atraction)

Isu LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) sedang sering dibahas akhir-akhir ini. Kehebohan dimulai dengan berlangsungnya resepsi pernikahan sesama jenis di Bali pada 17 September 2015 lalu. Hampir semua media sosial mengupload photo dan saling me-reshare berita tentang itu, dunia maya seolah ramai dan disibukan dengan banyak hujatan, cacian, bahkan dukungan pro dan konta, bertabrakan satu sama lain. 

Tentu dalam kajian beberapa kalangan masalah LGBT akan terus menjadi pro dan kontra tergantung cara pandang kita, kita memakai worldview apa dalam melihat fenomena LGBT ini, sebagai seorang muslim tentu hal ini menjadi haram mutlak, dan ketika memberi dukungan boleh dipertanyakan seberapa benar keimanan kita? Sudah lurus kah?

Mungkin kajian dan bahasan terkait LGBT sudah cukup banyak, namun bagaimana cara menyikapi seseorang yang terkena penyakit LGBT ini? Sebelumnya, kita harus benar-benar mengerti apa LGBT ini. Untuk seseorang yang mengkampanyekan pemikiran LGBT yang dipengaruhi sekali oleh arus feminis dan HAM tentu kita harus bersikap amat keras, justru harus berlawanan, dan menyatakan perang pemikiran. Jangan sampai virus ini menyebar ke orang-orang awam yang sebelumnya tak memahami bagaimana hukumnya, namun bagaimana bersikap dengan seseorang yang sudah terlanjur terkena LGBT ini?

Tentu sikap kita harus sedikit lunak, bahkan kita harus mencoba merangkulnya agar kembali pada jalan yang benar, jalan yang lurus, jalan keimanan yang telah Allah garis kan..

Setiap insan pasti memiliki orientasi seksual, orientasi seksual adalah keinginan mendasar dari individu untuk memenuhi kebutuhan akan cinta, akan berhubungan dengan kedekatan, kelekatan serta rasa intim, dan kian berkembang hingga ada ikatan diantara dua insan sebagai fitrah yang Allah berikan, (Gharizah Na’u).

Orientasi seksual sebenarnya tidak hanya sekedar ketertarikan seks secara jasmani namun juga menjangkau hubungan batin, hanya saja didalam masyarakat, hal ini terjadi penyempitan makna sehingga ketika mendengar orientasi seksual, maka ia yang berarti ketertarikan secara biologis.

Same sex atraction, ketertarikan sesama jenis sebenarnya adalah sebuah penyakit, penyakit yang menggangu keadaan jiwa seseorang, akan tetapi ketika kaum LGBT ini sudah mengedepankan hawa nafsu, maka segudang alasan dan penelitian yang tidak terbukti kebenarannya hingga sekarang menjadi tameng, sebagian mereka menganggap ini adalah karena faktor genetik, atau faktor bawaan maupun alasan lain.

Kita harus tahu, LGBT berbeda dengan same sex atraction. LGBT sudah menjadi identitas dan ada pengakuan dari individu tersebut, seperti “ya saya menyukai sesama jenis, dan saya seorang gay” akan berbeda dengan orang yang orientasi seksualnya SSA (same sex atraction). Karena, individu yang SSA belum tentu ia seorang LGBT. Ia pun tak ingin dirinya menjadi seorang LGBT. Ada penolakan dan kesadaran bahwa apa yang ada pada dirinya adalah sebuah penyakit, dan ia menyanggah secara sadar bahwa ia tak normal. Akan tetapi, seseorang yang LGBT sudah pasti SSA.

Ketika berhadapan dengan seorang yang memiliki SSA, haruslah menggunakan pendekatan personal, menyadarkan dengan hati dan berhati-hati berbeda dengan seseorang yang sudah benar-benar LGBT.

Orang-orang yang SSA adalah orang-orang yang perlu kita rangkul, yang perlu kita ajak dan ayomi, melindungi dan bersahabat dengan mereka, mengajak mereka agar kembali sesuai fitrahnya. Kadang sikap kita yang keliru kepada mereka adalah diskriminasi yang tak berkesudahan, menjauhi bahkan ada yang merasa jijik.

Mungkin bagi kalangan awam ketika belum terbiasa melihat dunia mereka secara dekat akan muntah dan ilfeel bahkan hilang selera makan, akan tetapi perlu kita pahami betul bahwa mereka sedang sakit, mereka sedang tidak sehat dan amat butuh bantuan, maka padanglah dengan rasa iba dan tumbuhkan sikap empati untuk mengulurkan tangan pertolongan dengan ikhlas, membawa mereka, menggandeng mereka menjadi sahabat bukan melaknat.

Seperti pada umumnya, mengobati memerlukan waktu bahkan tidak sedikit, berminggu bahkan bertahun, bisa jadi akan bertahun-tahun. Sakit fisik saja memerlukan waktu yang panjang bagaimana dengan penyakit kejiwaan, tentu akan menelan banyak kesabaran dan ikhiyar yang tiada berbilang. Oleh karena itu, mengobati sesorang yang SSA tidaklah mudah, perlu terapi yang berkelanjutan, karena jiwa yang sakit maka obatnya adalah dimulai dari hati, hati yang bersih dan nalar yang sehat dan pemahaman yang benar, hal ini lah yang perlu ditanamkan kepada mereka yang SSA.

Tugas dan PR kita bukan menjauhi tetapi mendekati, membuka ruang agar mereka bernafas dari penyakitnya, kita yang normal (hetero) maka bersyukurlah, karena dikaruniai jiwa yang sehat terhadap orientasi seksual kita.


Seseorang yang SSA juga manusia, sebagian dari mereka pun ingin sembuh maka sikap kita pun harus adil, tetap berbuat baik terus mengulurkan pertolongan, karena kita sesama manusia, maka perlu memanusiakan manusia… (jangan baca humanistik ya :D) Wallahua’lam bishawab..

Rabu, 16 September 2015

Ya Rabb, aku milik-Mu.. jangan kembalikan diriku kepadaku ...

Kau pernah merasa dihatimu berdebar keras, deburannya bahkan melebihi bunyi rel kereta yang berada hanya 10 centi dari depan wajahmu, menggemuruh parah dan kau merasa panik serasa nyawamu akan kandas saat itu juga.. bahkan hatimu lebih kacau balau seperti sambaran ombak tsunami yang dengan entengnya meluluhlantahkan tiap daratan dan tetumbuhan yang sedang bersemi hijau rindang..?

Atau lebih menggemparkan dari gempa yang membelah dua pulau menjadi bersebrangan amat jauh? Kau terkapar kerontang, kering dan sesak dalam bernafas.. kau seperti haus akan oksigen dan seperti membutuhkan ambulan segera..

Kau sendiri tak bisa menjamin bahwa hatimu juga memiliki kefuturan, kau juga tak pernah bisa menjamin bahwa iman mu akan terus meninggi tumbuh merona keangkasa, bahkan kau tak juga miliki jaminan bahwa keyakinan mu terus bersemi seperti di musim-musim yang indah seperti disurga...

Kau juga bisa kehilangan arah, saat kau tak memberi vitamin dan obat pada jiwa mu yang kering akan spiritulitas mendekat kepada Nya.. bahkan kau bisa kehilangan diri mu sendiri, kau benar-benar akan merasakan pahitnya patah hati, patah hati yang tak sekedar perasaan mu tak tersampaikan kepada seseorang, lebih rapuh dari seorang yang cintanya tak pernah dilihat meski memendamnya sudah bertahun,

disana.. saat kau telah kehilangan cinta yang sebenar-benarnya cinta... jelas kau akan segera merengek, meminta belas kasih, meminta ampun, atas kedurjanaan diri, atas kekhilafan diri yang tiada henti .. atas laku keji dan hinanya lisan dan gerak yang sering tak sejalan, kau amat menyesal..
pada akhirnya pengakuan diri bahwa kau memang lemah, kau seorang hamba yang memiliki tugas untuk menghamba, kepada yang telah menciptakan mu,

kau adalah seorang hamba, yang hatinya harus selalu kuat, mengisi iman sebagai amunisi meningkatkan nya ketaqwaan, kau adalah seorang hamba, yang mata dan hati tak elok nya berpihak pada dunia juga seisinya, bahkan kau harus mampu kendalikan cinta pada sesama, agar cinta pada Rabb mu tak dapat disangga dari yang memang selain Nya..

berjanjilah bahwa kau tak akan patah hati lagi, berjanjilah bahwa kau memiliki hati yang amat kuat, berjanjilah bahwa kau tak akan merasa gersang rapuh hanya karena kau akan kehilangan dan melepaskan..

karena bagi Nya, selalu ada ganjaran bagi yang ia bersabar atas kefanaan dunia ini yang bahkan tak lebih berharga dari seoongok sayap nyamuk yang terbang kesana-kemari.. dunia ini begitu tak ada arti.


Ya Rabb, aku milik-Mu.. jangan kembalikan diriku kepadaku ...

Selasa, 01 September 2015

MENGALIRNYA PAHAM LGBT

Gempuran untuk melemahan kaum muslim dunia saat ini tak bisa dipungkiri dari berbagai lini, arus pemikiran yang menyesatkan hingga contoh perilaku yang tiada adab (biadab) makin nampak jelas berseliweran dihadapan kita, ilmu yang salah dan hilangnya adab dalam diri seorang muslim menjadi pemicu rusaknya peradaban dan ringkihnya kekuatan kaum muslimin yang seharusnya kokoh, salah satu hal yang menjadi masalah dunia muslim saat ini adalah tidak terbendungnya opini publik terkait LGBT (Lesbi, gay, biseksual dan transgender) arus pemikiran dari para pejuang kesetaraan gender dari kalangan penggiat HAM (hak asasi manusia) dan kalangan liberal ini semakin mengkhawatirkan saja.

Kaum muslim saat ini seperti dikembalikan pada zaman jahiliyah tiada cahaya Islam didalamnya, bahkan kaum liberal ekstrim terutama yang amat memperjuangkan kebebasan ini nyatanya benar-benar kebablasan dalam mengokohkan pemahamannya, hingga dipaksakan kepada siapapun, terutama kaum muslimin di dunia. tentu kalangan liberal ini sudah melakukan upaya penafsiran ulang terhadap ayat-ayat Al-qur’an yang mengecam praktik homoseksual yang dilakukan kaum luth, akan tetapi upaya mereka sangat sulit diterima akal sehat, karena begitu jelas maknanya. Tafsiran yang dilakukan oleh kalangan liberal ini jelas membentur tembok logika karena selama ribuan tahun praktik kejahatan homoseksual tidak pernah dibenarkan oleh agama Yahudi, Kristen, ataupun Islam. Selama itu pula manusia tetap manusia, hubungan sesama jenis sungguh menyimpang dari fitrah manusia, sebagai manusia. Pasangan manusia adalah manusia, pasangan hewan adalah hewan, seperti ayam jantan dengan ayam betina, begitu juga manusia maka  laki-laki dengan perempuan, inilah adab.

Di Indonesia sendiri, arus pemikiran LGBT terbawa pelan-pelan dari barat namun pasti, salah satu negara yang baru saja melegalkan pernikahan sesama jenis ini adalah Amerika serikat, negara yang banyak diklaim sebagai negara adidaya, negara yang amat menjunjung tinggi kebebasan, pernikahan sesama jenis dinegara ini sudah disahkan hampir diseluruh negara bagian dan dengan bangganya mendeklarasikan dan mengumumkan pada seluruh dunia, bahwa ini adalah sebuah kebebasan atas nama hak asasi manusia, mengalirlah opini publik ini di Indonesia, di Indonesia sendiri awal nya pemikiran LGBT masih awam para pelaku suka sesama jenis nampak masih malu-malu dan merasa takut, namun karena opini publik dan derasnya kekuatan yang militan dari para penggiat kesetaraan gender ini, munculah kekuatan besar hingga blak-blakan para homoseks dan lesbian menunjukan dirinya.

Pada tahun 2004, jurnal justisia yang diterbitkan oleh sejumlah mahasiswa fakultas syariah salah satu Universitas Islam disemarang, sudah secara terbuka menulis laporan utama dengan judul “ Indahnya kawin sesama jenis” , redaksi jurnal ini dengan tegas menulis ; “ hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai suatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun untuk melarang perkawinan sejenis sebab Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil dan kebablasan. Jika Tuhan dulu mengutus Luth untuk menumpas kaum homo karena mungkin bisa menggagalkan proyek Tuhan dalam penciptaan manusia (karena waktu itu manusia masih sedikit), maka sekarang Tuhan perlu mengutus “Nabi” untuk membolehkan kawin sejenis supaya sedikit mengurangi proyek Tuhan tersebut. Itu kalau Tuhan masih peduli dengan alam-Nya bagi kami jalan terus kaum homeseks. Anda dijalan yang benar”

Pernyataan yang sungguh memaksakan dan memperkosa ayat-ayat Allah, menafsirkan sekehendak akal dan tak menimbang dengan kacamata syariat yang benar. Logika dangkal yang dipakai kalangan liberal ini memang terlihat manis namun jelas menjerumuskan manusia, jika kita berpaham seperti ini maka jelas dimasa depan manusia justru akan musnah, para kalangan liberal ini seolah ingin melawan kehendak Allah sebagai pencipta mahkluk untuk beribadah hanya kepada-Nya.

Merembaknya pemikiran sesat terkait LGBT telah melanda banyak di negeri-negri yang berpenduduk muslim, bahkan semula homofobia (ketakutan berlebihan yang terus menerus dan tidak rasional terhadap lesbian dan gay) yang  dikatakan sebagai mental illnes, nampaknya sudah tak akan berlaku lagi, seperti yang dilakukan oleh pasangan psikolog gay Marshal dan hunter, mereka memberikan pedoman bagaimana para aktivis homoseksual memberikan propaganda untuk mengubah opini publik agar homoseksual dipandang normal. Tidak lagi sebagai “mental illnes” tetapi dipandang “sehat” dengan itu masyarakat akan menerima perilaku mereka sampai mendapatkan hak khusus , tunjangan dan hak istimewa.

Puncak keberhasilan kampanye LGBT adalah ketika berhasil dikeluarkannya homoseksual dari DSM (Diagnostic of statistic manual of mental disorder) DSM-1 yang disusun pada tahun 1952 oleh APA (American psyciatric assosiation) dan pada edisi kedua pada tahun 1968, masih memasukan homoseksual sebagai penyimpangan seksual. Homoseksua pertama kali dikeluarkan pada 15 agustus 1973, yang kemudian diganti dengan istilah Ego-distonic homosexuality pada DSM-III dukungan terhadap DSM semakin mengauat ketika pada 17 mei 1990, WHO mencabut kata “Homoseksualitas” dari International classification of deases (ICD) pada tahun 1994 APA mengeluarkan lagi DSM-IV yang akhirnya direvisi kembali menjadi DSM-IVTR (tex revision) pada tahun 2000, yang seluruhnya tidak ditemukan sama sekali homoseksualitas sebagai kelainan seksual.

Jika pada DSM-I dan DSM-II homoseksual masih dianggap sebagai “mental disorder” (gangguan kejiwaan) yang didukung oleh 90% anggota APA, maka pada DSM-IV  keadaan menjadi timpang dan amat tebalik ketika hanya tersisa 10% anggota APA yang mendukung homoseksual sebagai sebuah penyimpangan. dengan melakukan normalisasi homoseksual oleh berbagai kalangan maka penerimaan kelompok homoseksual oleh masyarakat bergerak menjadi kearah positif. Dunia menjadi terbawa kedalam dua opini kelompok homoseksual dan anti homoseksual atau kerap disebut dengan homophobia, mereka berlindung dibalik isu HAM maka kelompok yang menentang homoseksual diberikan stigma sebagai penindas HAM.


Jika kelompok homoseksual sudah dianggap normal, maka tak pelak lagi jika pada akhirnya homophobia akan dimasukan pada daftar penyakit “mental illnes” atau gangguan jiwa, bukan hanya homophobia saja yang dianggap sebagai penyakit jiwa tetapi juga “Bigotry” atau fanatik, termasuk terhadap agama yang dianggap sebagai salah satu faktor penyebab homophobia, akan diusahakan masuk juga dalam daftar kelainan jiwa. Hal inilah yang sedang diperjuangkan dan diupayakan oleh para psikolog liberal dan para penggiat HAM.

01 September 2015
referensi bacaan : "LGBT di Indonesia": Dr. Adian Husaini, INSIST, 2015

Sabtu, 11 Juli 2015

HAGEMONI MAKNA "GENDER"

Oleh : Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil*

tuhan dalam gender

Ketika makna suatu kata berganti dan berubah dari makna aslinya, maka boleh jadi karena adanya intrusi pandangan hidup asing (intrusion of worldview). Dapat pula disebabkan oleh pergeseran nilai dalam budaya pemegang makna itu.

Di Barat telah terjadi perubahan makna “gender” dari makna aslinya. Semua maknanya difahami umum sebagai jenis kelamin: maskulin dan feminim. Makna itu dalam webster’s New World Dictionary, New York: 1984, berubah menjadi perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku. Di sini bedanya bukan kelamin lagi, tapi sudah menjadi tingkah laku.

Dalam Encyclopedia of Women Studies, vol I, Helen Tierney mengartikan Gender bukan lagi perbedaan tingkah laku, tapi sudah menjadi suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (dinstinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang di masyarakat.

Sepakat dengan Helen Hilary M Lips, di tahun 1993 menulis, Sex and Gender: An Introduction. Di situ, Helen mengartikan gender menjadi harapan-harapan budaya (cultural expectation) terhadap laki-laki dan perempuan. Di sini realitas laki-laki dan perempuan sebagai obyek sudah hampir tidak penting.

Akhirnya “gender” resmi berbeda tajam dari kata sex. Sex digunakan secara umum untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis, atau jenis kelamin. Maka sex meliputi perbedaan komposisi hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan sifat-sifat biologis lainnya. Gender digunakan untuk mengkaji asfek sisial, budaya, psikologis, dan asfek-asfek nonbiologis lainnya. (Linda L Lindsaey, Gender Roles: A Sociological Perspective, New Jersy, Prientice Hall, hal. 28).

Belum cukup dengan makna baru itu, Lindsey mengubah defenisinya. Gender yang telah menjadi suatu konsep itu menjelma lagi menjadi teori “Kajian Gender” (Gender Studies). Kajian gender adalah kajian yang berkaitan dengan ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang sebagai laki-laki atau perempuan, di sini, apa itu laki-laki sudah tergantung kepada ketetapan masyarakat. Menambahkan konsep ini, Elaine Showlater (ed), dalam karyanya, Speaking of Gender menyatakan bahwa gender bukan hanya pembedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari konsep sosial budayanya. Ia menekankan sebagai konsep analisis yang dapat digunakan untuk menjelaskan sesuatu. (Alaine Showlater [ed], Speaking of Gender, New York & London: Rouytledge, 1989, hal. 3).

Tren mengubah makna memang kerja orang-orang postmodern. Mulanya mereka sadar akan kemajemukan realitas, lalu ragu jika manusia mampu memahami realitas itu. Karena itu mereka hilangkan makna dan kebenaran universal. Makna segala sesuatu bisa dipasang copot bagaikan cincin pada jemari; dihilangkan konteknya; diputus hubungannya dengan makna lain. Jadi orang postmo itu sebenarnya tahu kebenaran, tapi bagi mereka, kebenaran kemudian itu akan berubah maknaya. Begitu pulalah dengan kasus makna kata gender.

Sejatinya, setiap kata mengandung makna, setiap makna mengandung konsep. Serangkaian atau jalinan konsep suatu dalam peradaban dapat membentuk suatu pandangan hidup atau worldview. Jika makna-makna dari konsep kunci dari peradaban atau worldview lain, maka peradaban itu akan didominasi oleh peradaban lain.


Kini, segelintir cendekiawan muslim telah mengubah konsep kunci dalam Islam. Demi menjustifikasi konsep gender, jumlah hak waris laki-laki dan wanita harus sama; karena kesetaraan gender fiqih dianggap maskulin; karena gender pula hadist-hadits tentang wanita yang negatif dianggap misoginis; untuk membela kesetaraan gender peranan suami dikalahkan oleh isteri atau disamakan. Jika ini terus terjadi maka masa hegemoni terhadap pemikiran umat semakin dahsyat.

*Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A. Ed, M. Phil, lahir di Gontor, 13 September 1958,. Saat ini menjadi pimpinan Redaksi Majalah ISLAMIA dan direktur Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS),

Ramadhan ; Manifestasi rekonstruksi diri

Apa kabar ramadhan tahun ini? Iyakah bermekaran kuncup-kuncup nya menelurkan banyak mutiara perbaikan? Ataukah ianya mengalami kemerosotan karena gumpalan –gumpalan titik hitam maksiat yang tiap hari dilakukan dalam bilangan waktu? Semoga tidak  kawan.. moga berseminya amalan semakin menambah keikhlasan dalam mencapai ridho Allah semata, niatan yang lurus dan jernih atas dasar lillah karena melihat surga dimasa depan, inilah visi misi orang yang cerdas, karena pandangan nya mampu menembus yang “ghaib”, mata batin nya tertuju pada rumah yang abadi disana, di surga firdaus surga tertinggi nya orang-orang mukmin....

Apa kabar iman hari ini? Iyakah semakin berbau wangi ataukah berbau tak sedap seperti halnya air kotor dicomberan karena titik-titik riya dan ujub menutupinya? Ataukah meranum indah bak meronanya mawar di pagi hari dengan merah nya yang begitu bercahaya dipelupuk mata hati? Moga makin tumbuh rindang iman yang didasari atas aqidah yang tiada goyah dan berbelok didalam nya... moga keitiqomahan dalam tauhid menuntun pada yang abadi disana, lagi-lagi surga menjadi tujuan yang paling menyemangati...

Jikapun boleh jujur, ada banyak hal yang seakan terkikis akhir-akhir ini, fenomena yang kita rasa sudah tak asing lagi, ketika makna ramadhan pelan-pelan “menghilang” dari peredaran masyarakat kita saat ini, seakan tak ada lagi gendang takbir ditiap subuh dan waktu kumandang adzan menggema suara ceria sambutan ramadhan... seakan pelan-pelan memudar takbiran pada surau-surau kecil dipelosok desa, ramainya anak-anak memakai koko berlarian dengan obor tiap subuh dan magrib menjelang.. mengapa “ruh” gemerlap bahagia ramadhan tak seindah dulu... tak pelak lagi antrian di mall dan jalan raya lebih padat merayap ketimbang masjid dan langgar.. suara pujian lagu-lagu mengalahkan shallawat  yang memecah telinga... “Ruh” ramadhan telah hilang? Iyakah kita tak menyambut dan mengakhirnya dengan bahagia haru dan sedih atas kepergiannya??

Tidakkah kita merindui ramadhan yang amat syahdu itu, bulannya dinanti merana hati kala ia pergi, inginya ramadhan tiap hari karena pahala menanti didalam nya mengalir tanpa putus henti...

Betapa bahagianya jiwa saat tetap berkonsisten pada cahaya ramadhan, mengerti bahwa ramadhan bulannya perbaikan, bulannya berseminya iman, bulan dimana keberkahan berlipat timbangan... ya Rabbi, jadikan ramadhan ini menjadi ramadhan terbaik dari yang lalu, agar kami tak rasa pilu ketika ia segera berlalu...

Menjadikan ramadhan ajang rekonstruksi diri, menginsyafi segala iman yang compang-camping penuh duri, pembersihan jiwa hingga mencapai puncak insan kamil..


Rabbana atina fiyydunyaa hasanah,,, wa filakhirati hasanah waqina a’dza bannar ...