Sabtu, 01 November 2014

Lawrence Kohlberg, Penggagas Pendidikan Karakter Yang Mati Bunuh Diri

            “Lihat negara Barat, kotanya Indah, masyarakatnya disiplin, transportasi berjalan lancar, beda dengan negara-negara muslim. Jadi mana yang lebih Islami, Barat atau kita?”

            Ucapan diatas dikatakan salah seorang guru kepada muridnya beberapa waktu lalu. Berdiri di depan kelas, ia secara bersemangat membandingkan pola kehidupan masyarakat Barat dan Timur (baca: Islam) yang terlihat begitu kontras. Untuk menguatkan apa yang dilihatnya, sang guru pun memutar slide foto pasca pengembaraanya ke Amerika, lalu bertanya kepada para muridnya, “Bersih mana dengan Jakarta?”

            Nama Lawrence Kohlberg mulai melambung di tengah-tengah masyarakat setelah gagasan Pendidikan Karakter meledak di pasaran edukasi. Dalam konsep itu, Kohlberg menekankan rasa kejujuran, tanggungjawab, dan kepercayaan diri bagi siswa untuk mengatasi masalah.

            Pendidikan Karakter pun mengundang decak kagum kalangan guru, pendidik, dan orangtua. Mereka melihat inilah format edukasi yang dicari-cari. Namun masalahnya Pendidikan Karakter memang tidak mengenal Tuhan. Apa yang ada di pendidikan Karakter belum tentu satu kata dengan agama. Meski keduanya sama-sama menekankan kebaikan. Dalam pendidikan karakter anak berbuat jujur atas dasar humanisme, beda dengan Islam yang memang kita tergerak karena perintah Allah. Maka itu kebaikan dalam pendidikan Karakter tidak ada hubungannya dengan agama, seperti kebersihan yang dicontohkan guru tadi.

            Namun sapa nyana itikad Kohlberg untuk mengajarkan moralitas kepada masyarakat, justru dikhianati oleh dirinya sendiri. Kisahnya sebagai agen zionisme rupanya tidak cukup untuk melihat sisi amoral dari tokoh Yahudi ini. Tidak hanya menyetujui penjajahan Yahudi ke Tanah Palestina, namun akhir hidup Kohlberg sangat mengenaskan. Ia mati bunuh diri karena tidak mampu mengatasi depresi yang telah melilitnya belasan tahun. Ya orang itu, orang yang mengajarkan moral kepada anak-anak kita dan dipuja oleh guru-guru kita.

Kisah Kematian Kohlberg
            Kenyataan naas yang mendera Kohlberg ini berawal dari kerja akademisnya awal tahun 70-an. Pasca pulang dari Israel, Teoritikus Tahapan Perkembangan Moral ini mengunjungi Punta Gorda, Belize, sebuah Negara di bagian Amerika Tengah. Disana Kohlberg menghabiskan waktu 10 hari untuk melakukan riset. Ini berlangsung pada akhir bulan desember 1971 dan awal Januari 1972.

Selama penelitiannya itu, Kohlberg tidak sadar telah terinfeksi sebuah parasit bernama Giardia Lamblia. Parasit ini terkenal sebagai salah satu parasit ganas yang menyerang 200 juta penduduk bumi di seluruh dunia. Meski kecil, Giardia Lamblia ini dapat memicu demam tinggi pada tubuh manusia.

            Menurut Garz Detlef dalam bukunya, Lawrence Kohlberg: An Introduction, penyakit mengerikan Kohlberg berhasil didiagnosa dokter pada Mei tahun 1973. Profesor Pendidikan di Harvard University itu kemudian harus menerima suatu kondisi, dimana rasa sakit, ketidakberdayaan, hingga pada tahap depresi melanda kehidupannya selama 16 tahun sebagai efek dari Virus yang ditancapkan sang parasit. Untuk meredakan penyakitnya, Kohlberg pun kemudian dirawat pada sebuah rumah sakit di Cape Pod, Massachusetts.          

            Perawatan intensif Rumah Sakit rupanya tidak membawa Kohlberg pada kesembuhan. Kondisi yang tak jua kunjung membaik, membuat kondisi kesehatan Kohlberg menurun, baik secara fisik maupun mental. Inisiator pendidikan karakter ini pun diliputi rasa putus asa. Entah, apa yang diajarkannya selama ini tidak tercermin dalam perilakunya. Kohlberg sama sekali tidak fight dan mencoba bertahan. Sebaliknya pikiran Kohlberg justru terbersit untuk mengakhiri hidupnya. Ya bunuh diri, sebuah moralitas rendah yang justru selama ini ia lawan dengan semangat pendidikan karakternya.

            Pada 19 Januari 1987, ia meminta cuti satu hari dari Rumah Sakit Massachusetts tempat ia dirawat. Tanp diketahui pihak RS, Kohlberg lalu pergi dengan mobilnya ke pantai. Konon Kohlberg sudah resah.

            Mulai saat itu, kabar kaburnya Kohlberg mencuat di media massa. Banyak orang mencarinya namun tidak berhasil. Namun siapa sangka, ditengah pencariannya, Kohlberg justru mengunjungi Boston Harbor. Di samudera Atantik itu ia mengakhiri hidupnya secara tragis: menyeburkan diri ke dalam samudera laut hingga membuatnya tewas secara mengenaskan.

            Sampai ia meninggal, polisi pun belum jua menemukan jasad Kohlberg. Dalam laporan The New York Times, polisi hanya menemukan mobil Kohlberg terparkir di perumahan Jalan Winthrop pada tanggal 21 Januari.

            Jasad Kohlberg baru betul-betul ditemukan pada April 1987. Tepat pukul jam 12:30 siang, seorang polisi negara bagian patroli menemukan jenazah Kohlberg sekitar 1.000 meter di selatan di mana ia diyakini telah menyeburkan diri ke dalam air. Hasil pemeriksa medis negara mengatakan bahwa otopsi menunjukkan tenggelam adalah penyebab kematian Kohlberg.


            Inikah azab Allah yang diberikan kepada Kohlberg, aktivis Yahudi yang membantu bangsanya untuk menjajah Palestina? Tokoh yang banyak berbicara moral dan karakter versi humanisme itu, tapi malah membunuh dirinya sendiri. Lalu buat apa kita ikuti? Allahua'lam.

repost from ust muhammad pizaro novelan tauhidi

Jumat, 31 Oktober 2014

Jati diri Islam Indonesia yang direduksi oleh Orientalis

     Tidak bisa dipungkiri, Sejarah adalah salah satu sebuah jalan perbaikan ketika ingin membangun kembali peradaban, sejarah yang benar tanpa kebohongan merupakan pelajaran amat berharga bagi insan yang hidup tidak pada zamannya, tidak hanya itu, sejarah menjadi bukti paling mendasar mengungkap kebenaran secara runtut dan pasti, namun ketika sejarah dibelokan dan dimanipulasi maka, skenario jalan hidup manusia bisa berubah tergantung oleh “kepentingan” siapa sejarah itu diperuntukan. Saat ini, benar-benar menjadi rahasia umum, bahwa sejarah bangsa indonesia telah terbelokan dan sengaja didistorsi untuk sebuah kepentingan dan agenda besar, hal yang menjadi topik menarik adalah pengkaburan Islam dalam perannya sebagai jati diri bangsa indonesia.

            Begitu banyak sekali upaya dan cara-cara picik musuh umat Islam, dalam mengaburkakan nilai-nilai Islam dinusantara, terutama dalam pengkaburan sejarah dan memanipulasinya dengan cara mendustai alur cerita sejarah sebenarnya, melalui lembaga pendidikan dengan kurikulum nya, menjadi cara jitu dalam mereduksi sejarah sebenarnya. Dan memang terbukti melewati buku-buku sejarah dari pelajaran sekolah, anak-anak indonesia menjadi gagal dalam memahami sejarah indonesia secara benar, nampak sekali dalam pemahaman tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia atas peran para ulama-ulama Islam, serta dari peran ulama Islam lah dakwah Islam tersebar keseluruh penjuru Nusantara dan nilai-nilai Islam menjadi Identitas bangsa Indonesia, salah satunya dengan cara akulturasi budaya, yang sebelumnya hindu-budha bercokol dipulau jawa.

Namun kenyataan ini berhasil dikaburkan oleh para musuh Islam, tentu mereka yang tidak menginginkan Islam menyebar dalam benak masyarakat Indonesia, terutama menggunakan mereka para orientalis barat sebagai sosok yang memiliki peran sangat penting, tokoh-tokoh orientalis inilah yang berhasil membelokan sejarah bangsa Indonesia menjadi sebuah episode yang kabur dan tidak runtut secara benar, bahkan cerita dipalsukan, dengan cara memojokan Islam itu sendiri, melalui karya-karya orientalis ini.

            Bahkan dalam pandangan Thomas Stamford Rafless, seorang orientalis dari perancis mengatakan bahwa Islam yang disebarluaskan pada masa Walisongo dianggap sebagai ajaran asing. Sekalipun ia mengakui bahwa saat ia bertugas di kepulauan Melayu dan Jawa, Islam merupakan agama yang dianut mayoritas rakyat di kawasan ini, namun Raffles tidak melihatnya sebagai fenomena kultural yang harus digali. Ia justru semakin yakin dengan pengaruh mistik Hindu-Budha pada penguasa-penguasa Muslim.

Ia menafsirkan berbagai praktik kultural yang dilakukan oleh penguasa-penguasa Muslim sama seperti penguasa-penguasa Hindu sebelumnya. Penggambaran kekuasaan raja-raja Islam yang penuh mistik seperti keris bertuah, benda-benda pusaka, dan semisalnya melekat sepanjang tulisannya di The History of Java. Penggambarannya ini mengukuhkan kesan tidak berpengaruhnya ajaran-ajaran Islam yang ia sebut sebagai Mohamedanism ini kepada perilaku kultural masyarakat dan penguasa-penguasa Muslim.

            Tidak jauh berbeda dengan Snouck Hurgronje, orientalis yang memiliki pengaruh sangat kuat dan tokoh yang diperhitungkan dari belanda berpendapat, sistem Islam telah menjadi sangat kaku dan tidak mampu lagi menyesuaikan diri dengan abad baru. Snouck melakukan langkah-langkah untuk membebaskan kaum Muslimin dari agama mereka. Menurutnya, hanya melalui organisasi pendidikan yang berskala luas atas dasar yang universal dan netral secara agamis, pemerintah kolonial dapat ‘membebaskan’ atau melepaskan Muslimin dari agama mereka. “Pengasuhan dan pendidikan adalah cara untuk mencapai tujuan tersebut. Bahkan, di negeri-negeri berbudaya Islam yang jauh lebih tua dibanding kepulauan Nusantara, kita menyaksikan mereka bekerja dengan efektif untuk membebaskan umat Muhammad dari kebiasaan lama yang telah lama membelenggunya.

            Ungkapan atas penelitian para orientalis dari barat jelas memang salah kaprah, nampak bahwa agenda terselubung menjadi tujuan mereka, yaitu Memojokan dan menjelekan Islam itu sendiri, melalui sejarah. Namun fakta yang tak bisa dibantah adalah peninggalan dan bukti sejarah atas karya-karya ulama terdahulu menjadi salah satu bukti, bahwa nilai Islam tiada yang salah, serta Islam justru mampu menyatukan wilayah Nusantara menjadi satu kesatuan yang kuat dan kokoh, melalui kerajaan-kerajaan Islam yang diberdirikan oleh walisanga di Nusantara.

Mengutip ungkapan cendekiawan muslim SMN AL-Attas Islam datang ke kepulauan Melayu-Indonesia membawa semangat religius yang amat intelektual dan rasionalistis, sehingga mudah masuk ke dalam pikiran rakyat. Ini menyebabkan kebangkitan rasionalisme dan intelektualisme yang tidak dinyatakan dalam masa-masa pra-Islam. Timbulnya rasionalisme dan intelektualisme ini dapat dipandang sebagai semangat yang kuat yang menggerakkan proses revolusi dalam pandangan dunia Melayu- Indonesia, dan mengelakkannya dari dunia mitologi yang rontok. Semangat rasionalisme dan intelektualisme ini bukan saja di kalangan istana dan keraton, bahkan juga merebak di kalangan rakyat jelata. Banyak risalah tentang falsafah dan metafisika khusus ditulis bagi keperluan umum.

            Nyatanya dapat disimpulkan bahwa, dengan Islam lah Nusantara menjadi satu, dengan nilai-nilai Islam pula terbukti masyarakat Indonesia menjadi semakin beradab, seperti ciri khas Islam datang ke Nusantara untuk sebuah semangat religiusitas dan intelektual seperti yang diungkap Al-attas, jadi tiada diragukan bahwa jati diri bangsa Indonesia adalah Islam, karena saat berdirinya negara ini adalah sebab sokongan terbesar para pejuang Islam atas dasar Jihad fisabilillah.


Walahua’lam..

Sabtu, 18 Oktober 2014

Masyarakat "Barat" Tak Layak Dicontoh

Jika dilihat secara jeli, tak dapat dimunafikan secara material negara-negara barat adalah negara yang luar biasa. Memiliki kemajuan dalam berbagai hal seperti teknologi informasi juga dalam segi perekonomian. Namun disatu sisi tidak pula bisa dipungkiri sebagian besar mereka mengidap penyakit kronis secara psikologis, moral yang sedemikian parah rusaknya, dari mulai pergaulan bebas, seks yang begitu liar sampai pada tindak kriminalitas yang semakin tinggi menjulang. Kekerasan dalam rumah tangga, alkohol narkoba, depresi hingga strees tingkat tinggi dialami oleh mayoritas masyarakatnya. Tentu saja penyakit akut ini telah dialami sejak lama bahkan hingga saat ini semakin menggebu ...

Tidak layak negeri-negeri Muslim mengagumi apalagi meniru masyarakatnya.

            Bisa dikatakan masyarakat kapitalis barat sedang menderita sakit kronis. Kenapa? Masyarakat barat kapitalis, sekuler, juga liberal mayoritas masyarakatnya benar-benar sedang tenggelam dalam lautan masalah sosial dan moral. Hal ini bisa disebabkan oleh nilai dan sistem hukum. “Negara2 kasus eksploitasi dan kekerasan seksual terhadap perempuan. Di AS satu orang wanita diperkosa setiap 2 menit, dipukuli setiap 15 detik, dan 13 wanita dibunuh oleh mitra mereka setiap harinya. Di inggris satu orang wanita diperkosa atau penghadapi upaya pemerkosaan setiap 10 menit. Diseluruh eropa satu dari empat wanita menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Negara-negara barat juga tengah menderita perilaku hilangnya rasa hormat, perilaku anti sosial dan kurang nya tanggung jawab terhadap orang lain” (Dr. Nazreen nawaz, central media perwakilan, Hizbut Tahrir).

            Mungkin Begitu frontal hal ini ketika disambungkan dengan kesalahan pada sistem, namun itulah fakta yang bisa dilhiat oleh mata yang cerdas dan jeli dalam menilai realitas. Tidak bisa dimunafikan akibat implementasi dari sistem liberal kapitalis yang diusung oleh barat. Maka benar-benar memporak-porandakan keadaan negara dari yang semestinya. Sistem ini yang jelas memihak pada kesenangan maksimum individu dari masyarakat sebagai tujuan utama. Maka wajar ketika diskriminasi menjadi sesuatu yang “biasa” terjadi.  Sistem yang diterapkan menggunakan standar baik dan buruknya disesuaikan dengan keinginan manusia itu sendiri. Didalam sistem ini kepentingan ekonomi adalah menjadi pijakan dasar sebagai pemuasan individu sebagai konsekuensinya maka terkikis nya rasa tanggung jawab terhadap orang lain, sibuk dengan diri sendiri hingga hal ini menimbulkan pola pikir yang begitu berbahaya “lakukan apapun, kepada siapapun, untuk tujuan apapun”.

Menjadi kan diri sebagai individu yang “materalistik dan konsumeristik” hingga hal ini mencapai puncak tertinggi nya yaitu kejahatan kepada masyarakat hingga akibat nya pengabaian terhadap anak2, orang tua lanjut usia sampai pada hak-hak tetangga yang merupakan bagian dari masyarakat. Disamping itu materi dan uang sebagai acuan dasar untuk menilai segala hal menjadikan para perempuan dengan mudah nya dieksploitasi dan direndahkan martabatnya. Sampai tak memiliki kemuliaan sebagai wanita. Tubuh nya menjadi ajang hiburan, tontonan dalam industri kecantikan dan seks. Hal ini lah yang menyebabkan turunnya nilai dalam masyarakat atas dasar konstribusi kekerasan terhadap perempuan.

Bagaimana barat memecahkan masalah seperti ini?

            Dalam memandang masalah ini negara-negara barat gagal dalam memahami dan mengetahui akar permasalahan yang mendasar, yang menjadi sebab dari bobroknya masyarakat yang semakin hari semakin merajalela. Selama negara-negara barat masih menggunakan sistem sekularisasi, maka begitu mustahilnya kasus-kasus diatas mampu terselesaikan hingga bersih. Jurang dalam yang menghancurkan masyarakat mereka, adalah hasil dari ideologi yang mereka besarkan sendiri, dalam penyelesainnya selalu saja pragmatis dan tambal sulam terhadap masalah. Solusi parsial yang membentuk masalah baru dalam kehidupan selanjutnya, sebagai contoh ketika aksi kejahatan merajalela maka hanya memberi kamera CCTV dijalan dan di segala sudut, agar pelakunya tertangkap, bahkan ketika dihukum, hukumannya pun tak setimpal. sama hal nya seperti mengajarkan pendidikan seks bahkan memasukan dalam kurikulum sebagai solusi maraknya pergaulan dan seks bebas yang terjadi dalam dunia remaja. Hal seperti inilah yang diberikan oleh liberal kapitalis.

Peran dan konstribusi muslim di barat dalam menanggapi masalah ini.

            Tidak sedikit masyarakat muslim dibarat yang berusaha dengan ghiroh nya untuk mampu memberikan konstribusi perubahan terhadap masyarakat yang sekuler, muslim yang terlibat dalam diskusi dengan masyarakat ditingkat grass root, dikampus, atau bahkan didalam suatu lembaga yang mengkaji secara serius dalam perubahan untuk meningkatkan kesadaran akan kegagalan dalam cara hidup yang sekuler. Para muslim disana pun sampai pada tahap memberikan argumentatif cerdas, menawarkan solusi yang akan menyeluruh tersistemik, sistem terbaik yang ada di seluruh penjuru dunia. Ketika ideologi islam menjadi model untuk mampu menyelesaikan masalah kenegaraan seperti politik, hukum, perekonomian, serta masalah sosial lainnya. Dengan menanamkan nilai-nilai keislaman dan berjuang untuk menghapus pemahaman-pemahaman yang diluar kaidah islam yang sebenarnya pun masih ada dalam kalangan muslim dibarat. Sekalipun hal tersebut mampu membatu beberapa orang namun, perlu ekstra kerja keras agar mampu  melawan arus kebangkrutan sosial yang sudah tersistem.

Bagaimana Islam menjadi solusi?

            Islam adalah sesempurna nya agama, yang memiliki segala solusi untuk permasalahan ummat. Didalam Islam tujuan hidup adalah menggapai Ridho Allah, bukan terbatas kepada kepuasan individu dalam mencapai materi. Maka dari itulah standar untuk segala perbuatan manusia bukan azaz manfaat, atau bahkan kepentingan pribadi. Melainkan ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariat, dengan halal haram yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Dengan inilah yang nantinya akan membentuk prinsip pertanggung jawaban dihadapan Allah kelak, karena Allah lah yang memiliki otoritas tertinggi bagi hamba Nya.

            Dengan jelas Islam menolak kebebasan, karena pada hakikatnya manusia harus terikat pada aturan. Bukan pada kebebasan yang merajalela hingga pada akhirnya menghancurkan manusia itu sendiri. Islam mendorong manusia agar taat pada syariat untuk kebaikan. Dengan menghindari kebebasan seperti narkoba, seks bebas, penindasan, diskriminasi, dan lain sebagainya, sangat jauh berbeda dengan nilai-nilai ukum sekuler yang penuh dengan kecacatan, pemberian solusi tambal sulam yang tak jelas, bahkan ideologi sekular pun memahami hakikat individu dengan kebebasan. Islam secara jelas memaparkan hakikat diri manusia, sehingga manusia memiliki tujuan hidup jelas dan mulia. Dengan standar yang telah ditentukan oleh syariat. Manusia mampu memecahkan masalah yang terjadi dalam kehidupannya.

            Akhirnya dari sistem islam inilah lahir manifestasi keimanan manusia secara global. Manusia mampu menjalani hidupnya dengan damai dan tenang karena atas dasar keimanan mereka. Dari pengetahuan manusia mampu memecahkan persoalan hidup dengan cara yang lebih baik.

            Ketika islam dijadikan sebuah tatanan atau sistem dalam suatu negara maka terpenuhilah segala kebutuhan manusia, dari mulai pengaplikasian keimanan mereka secara kaffah sampai pada penjagaan aqidah, karena hal ini terbantu oleh kekuasaan sang khalifah. Islam akan semakin menjadi rahmatan lilalamin, menjadi peradaban gemilang yang memuliakan manusia, dengan aman, beradab, harmonis serta sehat.

*Tulisan tahun 2012 lalu, sewaktu masih ikut aktif mengkaji di Hizbut Tahrir dengan teman-teman, memang sii masih agak blunder dan penuh dengan judment,,, yaa namanya juga belajar hehehe ^_^

Jumat, 17 Oktober 2014

Sistem Informasi Psikologi

Psikologi       
 
            Pada masa dewasa ini, perkembangan ilmu psikologi semakin luas dan melebarkan diri. Titik fokus muncul nya ilmu psikologi pada masa dulu rupanya telah mengalami pergesaran pembahasan, psikologi yang dulu berfokus pada ilmu jiwa, telah merembak pembahasannya hingga masalah perilaku manusia dengan hubungannya pada lingkungan hingga pada kondisi sosial manusia tersebut, bahkan sampai saat ini Ilmu psikologi menjadi ilmu yang berdiri sendiri namun masih ada hubungannya dan tetap berkolerasi dengan disiplin ilmu lain, seperti filsafat, antropologi, sosial, politik, dan budaya serta ilmu lain yang dibahas secara aspek psikologis tema tersebut.

            Ilmu psikologi memang bagian dari ilmu pengetahuan, untuk pada masa sekarang ilmu psikologi telah melalui banyak perjalanan panjang, bahkan sebelum bapak Wundt, tokoh psikologi yang mendirikan laboratorium nya pada tahun 1879, di Jerman. yang disebut sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu. Hingga pandangan tentang manusia dapat ditelusuri hingga zaman yunani kuno. Sejak zaman Aristoteles pun disiplin ilmu psikologi sudah mulai dikenal sebagai ilmu jiwa, yaitu ilmu untuk kekuatan hidup (Leven Beginsel). Aristoteles memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang mempelajari gejala – gejala kehidupan. Jiwa adalah unsur kehidupan (Anima), karena itu tiap – tiap makhluk hidup mempunyai jiwa. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelektual di Eropa (Barat) dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di benua Amerika.

Sistem Informasi

            Jika kita ingin menjabarkan tentang sistem informasi, maka perlu diketahui sistem adalah elemen-elemen yang saling berhubungan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, sedangkan Informasi adalah sekumpulan data yang diolah untuk mendapatkan hasil bagi pengguna. Maka dapat disimpulkan sistem informasi merupakan sekumpulan elemen untuk mengolah data yang berguna bagi pengguna untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

            Secara teori, penerapan sebuah Sistem Informasi memang tidak harus menggunakan komputer dalam kegiatannya. Tetapi pada prakteknya tidak mungkin sistem informasi yang sangat kompleks itu dapat berjalan dengan baik jika tanpa adanya komputer. Sistem Informasi yang akurat dan efektif, dalam kenyataannya selalu berhubungan dengan istilah “computer-based” atau pengolahan informasi yang berbasis pada komputer.

Bagaimana Sistem Informasi berhubungan dengan Ilmu Psikologi?

            Ketika suatu sistem terintegrasi dengan baik dan mampu menyediakan banyak manfaat bagi pengguna, terutama untuk mendukung sistem operasi manusia, managemen dalam organisasi, dan sebagainya,dalam tatanan kehidupan nyata, sistem informasi menjadi erat kaitannya dengan psikologi pada saat penggunaan pemanfaatnya sebagai contoh, penggunaan tes psikologi secara virtual, dan berbagai macam alat tes psikologi yang menggunakan teknik komputerisasi. Seperti hal nya tes psikologi papikostik, yang menggunakan teknik komputerisasi, hal ini jelas secara langsung mempengaruhi ilmu psikologi itu sendiri yang memiliki kaitan erat dengan sistem informasi.

            Selain itu contoh lainnya adalah makin banyak nya perusahaan-perusahaan yang menggunakan software tentang alat tes agar terjadi efisiensi waktu dalam penyeleksian calon tenaga kerja, adapula contoh lainnya mungkin dengan sistem konseling online yang sekarang ini banyak beredar dan banyak hadir di situs jejaring sosial. Hal-hal diatas merupakan sebagian contoh penggunaan sistem informasi dalam bidang psikologi saat ini. Dimana, ilmu psikologi juga berkembang berkat adanya perkembangan yang sangat pesat dari ilmu komputer itu sendiri.


            Tidak dipungkiri, memang secara disiplin ilmu yang berdiri sendiri antara sistem informasi dan psikologi memiliki kajian objek dan aspek yang berbeda, akan tetapi dalam beberapa hal teknologi informasi itu, mampu membantu disipin ilmu psikologi sebagai penunjang dalam upaya pengembangan ilmu psikologi itu sendiri, hal inilah mengindikasikan ada kaitan erat antara Sistem informasi dengan ilmu psikologi.

*Tulisan ini dibuat sebagai TUGAS mata Kuliah SoftSkill Sistem Informasi Psikologi

Sabtu, 13 September 2014

“Ghazwul Fikri, sebuah cara melepaskan Al-qur’an dari kaum muslim”

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sedangkan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Ia-lah yang telah mengutus Rosul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas semua agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”. (At Taubah 32-33)

            Arus globalisasi yang semakin menunjukan kebebasan nya dimasa dewasa ini, benar-benar telah membawa perubahan amat besar, perubahan yang tak lazim untuk manusia. Terutama mereka kaum muslimin. Kebebasan yang dielukan nyatanya membius sebagian masyarakat kita hingga terberdaya oleh iming-iming kenikmatan syahwat dunia. Lupa bahwa pada fitrahnya manusia adalah mahluk terikat dengan hukum, manusia membutuhkan aturan dalam setiap gerak agar menjadi terarah.

            Begitu gamblang dimata kita, bahwa kerusakan dalam tatanan sosial masyarakat nyata adanya, pergaulan bebas, yang menggiring para pemuda untuk melakukan aktivitas seks bebas, kenakalan remaja, pembunuhan dan pelecehan, seolah menjadi pemandangan hal biasa yang harus tertelan pahit-pahit. Tak hanya itu serangan kerusakan ini juga masuk dalam ranah pemikiran dan aqidah kaum muslimin, kekeliruan dalam memahami Islam, serta meringkihnya moralitas semakin memperparah keadaan. maka wajarlah sehingga semakin tergilaslah roda keimanan kaum muslimin dengan fenomena yang makin marak, sepanjang bilangan hari.

            Tidak dinafikan upaya ini adalah berkat berhasilnya andil ghazwul fikri (perang pemikiran) yang begitu gencar menyerbu kaum muslimin, para penggiat sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) menampilkan wajah asli mereka dengan mengusung tema kebebasan, mencecoki ummat dengan berbagai macam pemikiran yang merusak aqidah dan kebenaran itu sendiri.

            Belum lama ini, isu yang ditampilkan oleh salah satu perguruan tinggi Islam negri, oleh fakultas ushuludin dengan “Tuhan Membusuk” nya telah berhasil menyita perhatian publik bahwa perang pemikiran ini benar-benar terjadi, kebebasan berfikir yang telah melampaui batas membuat mereka tak menyadari bahwa mereka berdiri diatas kesalahan, tidak memahami secara benar wahyu Allah menjadi pemicu utama, kerancuan dan kekeliruan dalam ilmu dan adab sehingga menggiring sikap mereka pada kefuturan iman, bergaya layaknya intelektual seolah kritis dalam memberikan opini pada masyarakat umum, namun nyata nya hal ini adalah upaya pendistorsian makna kebenaran Islam.

            Hal ini nampak wajar bagi mereka, karena tujuan mereka adalah menghancurkan dan menindih kebenaran Islam dengan kebatilan, melalui gazhwul fikri ini lah mereka masuk dalam ranah akademik, mengambil celah untuk merusak melalui pemikiran dikalangan mahasiswa.

            Tidak hanya itu saja hal serupa juga terjadi pada isu terbaru seorang mahasiswa Perguruan tinggi negri dari fakultas hukum, yang mengajukan legalisasi pernikahan beda agama, meminta agar negara segera mengesahkan secara hukum pernikahan beda Agama, tentu saja hal ini adalah sebuah isu yang selama ini dianggap sensitif dikalangan masyarakat. Karena jelas, isu seperti ini amat bertentangan dengan kultur dan budaya masyarakat kita yang mayoritas beragama Islam, akan nampak sesuatu yang aneh dan salah jika hal ini benar diwujudkan, namun justru hal ini tidak terlihat aneh bagi mereka penggiat kebebasan karena cara berfikir mereka yang membentuk nya.

            Memang tidak pandang bulu, perang pemikiran yang terjadi saat ini benar-benar akan menggerogoti ketaqwaan seorang muslim jika tak ditampis dengan hal yang serupa, artinya kaum muslim harus ekstra berjuang menampik arus pemikiran yang kontras dengan akidah Islam itu sendiri. Karena musuh-musuh Allah akan lakukan berbagai macam cara untuk menumbangkan Islam agar Islam benar-benar ditinggalkan oleh pemeluknya.

            Maha benar Allah dengan Firman Nya : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

            Tidak kaget tentunya kita ummat muslim dengan banyak nya serangan dari  para musuh-musuh Allah, karena memang sudah jelas Islam adalah sebuah Ideologi yang tak mudah untuk dihancurkan, benteng pertahanan ummat Islam tidak akan hancur jika hanya sekedar melalui perang fisik dan penjajahan, melainkan musuh-musuh Allah mengetahui cara jitu untuk merusak ummat Islam dari dalam, yaitu ketika Al-qur’an jauh dari dada kaum muslimin, maka saat itulah hancurnya ummat Islam diseluruh dunia. Dan upaya itu sudah ditempuh oleh para musuh Allah melalui ghazwul fikri.

            Maka seharusnya bagi kita, adalah sebuah kewajiban kita untuk menjaga agama Allah sebagai bentuk pembuktian iman kita pada Nya, ummat islam memiliki banyak pekerjaan mulia untuk tetap mempertahankan eksistensi Islam dimuka bumi ini.

            “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron :104)


wallahua'lam bishowab...

*seri penulisan essai kuliah "Sekolah Pemikiran Islam" #IndonesiaTanpaJIL

Minggu, 17 Agustus 2014

Pluralisme Agama - Sebuah Dogma yang dipaksakan

Istilah “Pluralisme” yang sekarang tak asing lagi terdengar ditelinga kita, nampak amat menggiurkan bak angin segar yang berada pada gemuruhnya panas dan debu yang bertabrakan, nyatanya istilah itu amat dibanggakan dan diagungkan oleh sekelompok masyarakat kita penggiat kebebasan, dan kesalahan dalam memahami toleransi menyikapi perbedaan.

            Pengertian pluralisme begitu menohok dan ditelan mentah-mentah tanpa saring melalui ilmu oleh sebagian orang muslim yang tergiur oleh pemikiran barat, seakan-akan yang berasal dari barat adalah sebuah cermin peradaban yang amat sempurna lagi cantik. Yang menjadi hangat dalam perbincangan para kaum yang mengaku sangat toleran adalah tentang pluralisme agama. Dimana ia merupakan sebuah jalan tengah sebagai pengakuan menuju Tuhan yang satu, namun jalan yang ditempuh penuh inovasi dan berbeda.

            Mengacu pada Pluralisme Agama, yang dikemukaan oleh DR. Adian Husaini “Pluralisme Agama” (Religius pluralism) adalah sebuah istilah khusus dalam kajian agama-agama. Sebagai terminologi khusus, istilah ini tidak dapat dimaknai sembarangan,  misalnya disamakan dengan istilah makna “toleransi”, “saling menghormati” (mutual respect), dan sebagainya. Sebagai paham (isme) yang membahas cara pandang terhadap agama-agama yang ada, istilah “pluralisme agama” telah menjadi pembahasan panjang dikalangan para ilmuan dan studi agama-agama (religius studies). Dan memang meskipun ada sejumlah definisi yang bersifat sosiologis, tetapi yang menjadi perhatian para peneliti dan tokoh agama adalah pluralisme yang meletakan kebenaran agama-agama sebagai kebenaran relatif dan sebagian pemeluk pluralisme mendukung akan paham sikretisasi agama.

            Bahaya yang amat mengakar dari pemahaman ini ketika sudah menjangkiti pemikiran seorang muslim adalah mengasumsikan bahwa semua agama didunia ini sama, tidak heran jika nantinya ia akan berfikir Jalan menuju Tuhan meski berbeda-beda namun ia tetap sah dan benar, ia akan mengatakan bahwa Agama adalah persepsi manusia yang relatif terhadap Tuhan yang mutlak, artinya bagi setiap orang amat dilarang mengklaim atau menganggap Agama nya lah yang paling benar dari Agama lain. Atau menganggap Agama yang dianutnya adalah agama yang benar. Bahkan Charles Kimball mengatakan agama yang jahat (evil) adalah agama yang mengklaim kebenaran secara mutlak atas agamanya sendiri.

            Paham pluralisme agama, ternyata ia tidak hanya menyerbu pemikiran ia yang mengaku muslim saja, bahkan seorang tokoh yahudi Franz Rosenweig, menyatakan bahwa “agama yang benar adalah yahudi dan kristen, Islam hanyalah suatu tiruan dari agama kristen dan yahudi”. Amat jelas terbaca bahwa tokoh yahudi tersebut menganggap agama itu satu, hanya terpecah menjadi banyak jalan. Paham pluralisme agama juga ditolak mentah-mentah oleh gereja katolik, dalam katolik “Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantar keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalui Yesus”.

            Pada era yang serba modernisasi ini, perkembangan pemikiran amat melesat jauh layaknya Plurasime agama yang begitu dahsyat nya menjurus ke sela-sela masyarakat kristen dan barat hal ini disebabkan setidaknya oleh beberapa hal seperti, bentuk traumatik sejarah oleh gereja pada masa pertengahan serta ditambah dengan adanya konflik antara khatolik dan protestan pada masa itu, selain itu nampak pula adanya problema teologis kristen dan pada teks bibel yang bermasalah. Sehingga ketika Geraja benar-benar berkuasa dimasa pertengahan para tokoh gereja telah banyak membuat kekeliruan dan kekerasan yang akhirnya semakin memicu konflik kekerasan lantas menimbulkan trauma masyarakat barat terhadap klaim atas kebenaran pada agama tertentu.
            Problema yang teramat kompleks ini, ternyata diadopsi secara mentah oleh masyarakat muslim yang taramat “silau” dan bangga atas peradaban barat yang maju, sehingga terjadi kekeliruan dalam cara pandang dan mengikuti langkah-langkah yang salah. Yang perlu kita cermati adalah paham pluralisme agama merupakan sebuah proyek sitematik dan global yang membutuhkan anggaran dana begitu amat besar. Di Indonesia sendiri pemahaman ini amat berkemabang secara pesat, karena tidak dipungkiri bahwa aliran dana dari lembaga-lembaga masyarakat barat memang menyokong dan mendukung dalam penyebaran pemahaman ini.

            Didalam Islam sendiri, amat jelas terdefiniskan makna tauhid itu, Allah berfirman dalam QS. Ali-Imran : 85 “ Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia diakhirat termasuk orang-orang yang rugi”
            Allah swt, juga berfirman “sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam” (QS.Ali-Imran:19). Begitu gamblangnya Allah menjelaskan ayatnya, yang lantas disusul pula dalam sabda Rasulullah bahwa “Islam adalah bahwasanya engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah...” (HR. Muslim)

            Dalam konsep agama Islam mustahil sekali untuk menyatakan bahwa semua isme (paham) atau agama adalah benar dan merupakan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan, sebab pada faktanya ada perbedaan mendasar antara mengakui dan menerima keberagaman beragama dengan mengakui kebenaran semua agama. Sebagai seorang muslim yang Allah karuniakan akal tentu kita harus memilah secara cerdas mana sebuah pemikiran yang batil dan layak dibuang dan mana yang benar sesuai koridor hukum syara, jangan sampai karena “bangga” nya kita kepada kemajuan barat lantas iman mudah sekali tergadai dan terjual atas nama kemaslahatan yang disebut “toleransi”.

Wallahua’lam bishowab ..



Kembali Menulis

Hal yang sering menjangkiti pikiran saat semua ide untuk menulis itu tiba-tiba menghilang, mungkin itu bukan hal aneh, bahkan dialami oleh setiap penulis, sama seperti pemilik blog ini, menulis kadang menjadi hobinya, namun kala semangat menurun alias futur kepercayaan diri tiba-tiba jari serasa kaku untuk sekedar mengetik keyboard beberapa paragraf kalimat untuk mengisi blog.

            Tetapi yang penting dari itu semua, tidak hanya sekedar kita menulis apa, melainkan apa yang kita tulis dapat memberi efek kebermanfaatan untuk orang lain dengan apa yang kita tulis, mungkin iya bagi pemula, apa saja yang ada diotak jemari tangan langsung menari di keyboard, akan lebih baik lagi ketika seseorang sudah memiliki ciri khas dirinya terutama pemahaman, pemikiran, ilmu, maka itulah yang akan mencerminkan bagaimana kualitas tulisannya. Jadi menulis tidak hanya sekedar menulis, tapi tulisan itu memiliki ruh yang mampu menghipnotis pembaca untuk membuka wawasan, menambah informasi atau maklumat yang masuk pada long term memory otak akan terpanggil saat dibutuhkan.

            Benar saja, apa yang dikatakan oleh michael cricthon sang penulis legendaris di novel “Jurasic Park” ia ungkapakan tentang motivasi menulis “sebuah karya akan memicu inspirasi, teruslah berkarya, jika kamu berhasil. Teruslah berkarya, jika kamu gagal pun, teruslah berkaya, jika engkau tertarik teruslah berkarya, dan jika engkau bosan teruslah berkarya”. Jadi dalam menulis apapun itu sebenenarnya tak memiliki kesia-siaan sedikitpun, ia justru akan menjadi pembiasaan kita menggerakan kemampuan otak untuk berfikir.

            Untuk memompa semangat yang sudah sedikit luntur memang tidak mudah, semua akan dikembalikan pada diri kita, ada kemauan untuk membuat habits atau tidak, penjadwalan yang teratur dan pemaksaan terhadap diri sendiri kadang menjadi hal yang efektif, karena untuk membentuk kebiasaan awalnya memang tak mudah, kita perlu tertatih merangkak dalam mengerjakannya. Tapi kita akan temukan hasil diakhir yang memukau. Mungkin sekedar untuk memotivasi diri sendiri tulisan ini dibuat, untuk melanjutkan estafet kesungguhan penulis untuk menyimpan ilmu dengan mengikatkannya pada lembaran-lembaran paragraf bacaan yang semoga bagi setiap yang membacanya menjadi sebuah “harta” meski itu tak amat berharga ...

            Seorang muslim yang baik ia lah yang mengerti hakikat waktu untuk apa ia hidup. Kemana ia akan melabuhkan akhir dari perjalanan nya didunia ini, tentu ia amat faham bahwa Allah swt, adalah tujuan akhir yang paling menyemangati baginya, surga firdausy adalah dambaan jiwanya, hingga ia tak akan sia-siakan waktu untuk sebuah kemungkaran dan penghianatan waktu yang diberikan oleh Rabb nya. Semoga kita sama-sama belajar bagaimana menghargai waktu, karena ia akan habis jika sudah saat yang ditentukan, mengindahkan waktu dengan menggoreskan ilmu dan segala bentuk perwujudan aktivitas ibadah yang Allah ridhai, waktu akan membunuh jasad mu, tapi ia tak akan mampu memusnahkan ilmu yang engkau wariskan dengan pena ketika ia diteruskan oleh pewaris peradaban agar mengalir lah ia pada jiwa-jiwa yang haus akan tentang Nya, hingga kita benar-benar akan bertemu didalam jannah Nya. Insya Allah..


Kembali renungkan makna surat Al-ashr...