Minggu, 17 Agustus 2014

Kembali Menulis

Hal yang sering menjangkiti pikiran saat semua ide untuk menulis itu tiba-tiba menghilang, mungkin itu bukan hal aneh, bahkan dialami oleh setiap penulis, sama seperti pemilik blog ini, menulis kadang menjadi hobinya, namun kala semangat menurun alias futur kepercayaan diri tiba-tiba jari serasa kaku untuk sekedar mengetik keyboard beberapa paragraf kalimat untuk mengisi blog.

            Tetapi yang penting dari itu semua, tidak hanya sekedar kita menulis apa, melainkan apa yang kita tulis dapat memberi efek kebermanfaatan untuk orang lain dengan apa yang kita tulis, mungkin iya bagi pemula, apa saja yang ada diotak jemari tangan langsung menari di keyboard, akan lebih baik lagi ketika seseorang sudah memiliki ciri khas dirinya terutama pemahaman, pemikiran, ilmu, maka itulah yang akan mencerminkan bagaimana kualitas tulisannya. Jadi menulis tidak hanya sekedar menulis, tapi tulisan itu memiliki ruh yang mampu menghipnotis pembaca untuk membuka wawasan, menambah informasi atau maklumat yang masuk pada long term memory otak akan terpanggil saat dibutuhkan.

            Benar saja, apa yang dikatakan oleh michael cricthon sang penulis legendaris di novel “Jurasic Park” ia ungkapakan tentang motivasi menulis “sebuah karya akan memicu inspirasi, teruslah berkarya, jika kamu berhasil. Teruslah berkarya, jika kamu gagal pun, teruslah berkaya, jika engkau tertarik teruslah berkarya, dan jika engkau bosan teruslah berkarya”. Jadi dalam menulis apapun itu sebenenarnya tak memiliki kesia-siaan sedikitpun, ia justru akan menjadi pembiasaan kita menggerakan kemampuan otak untuk berfikir.

            Untuk memompa semangat yang sudah sedikit luntur memang tidak mudah, semua akan dikembalikan pada diri kita, ada kemauan untuk membuat habits atau tidak, penjadwalan yang teratur dan pemaksaan terhadap diri sendiri kadang menjadi hal yang efektif, karena untuk membentuk kebiasaan awalnya memang tak mudah, kita perlu tertatih merangkak dalam mengerjakannya. Tapi kita akan temukan hasil diakhir yang memukau. Mungkin sekedar untuk memotivasi diri sendiri tulisan ini dibuat, untuk melanjutkan estafet kesungguhan penulis untuk menyimpan ilmu dengan mengikatkannya pada lembaran-lembaran paragraf bacaan yang semoga bagi setiap yang membacanya menjadi sebuah “harta” meski itu tak amat berharga ...

            Seorang muslim yang baik ia lah yang mengerti hakikat waktu untuk apa ia hidup. Kemana ia akan melabuhkan akhir dari perjalanan nya didunia ini, tentu ia amat faham bahwa Allah swt, adalah tujuan akhir yang paling menyemangati baginya, surga firdausy adalah dambaan jiwanya, hingga ia tak akan sia-siakan waktu untuk sebuah kemungkaran dan penghianatan waktu yang diberikan oleh Rabb nya. Semoga kita sama-sama belajar bagaimana menghargai waktu, karena ia akan habis jika sudah saat yang ditentukan, mengindahkan waktu dengan menggoreskan ilmu dan segala bentuk perwujudan aktivitas ibadah yang Allah ridhai, waktu akan membunuh jasad mu, tapi ia tak akan mampu memusnahkan ilmu yang engkau wariskan dengan pena ketika ia diteruskan oleh pewaris peradaban agar mengalir lah ia pada jiwa-jiwa yang haus akan tentang Nya, hingga kita benar-benar akan bertemu didalam jannah Nya. Insya Allah..


Kembali renungkan makna surat Al-ashr...

Selasa, 15 April 2014

PSIKOTERAPI DAN KONSELING

               Psikoterapi merupakan salah satu modalitas terapi yang terandalkan dalam tatalaksana pasien psikiatri disamping psikofarmaka dan terapi fisik. Sebetulnya dalam kehidupan sehari-hari, prinsip-prinsip dan beberapa kaidah yang ada dalam psikoterapi ternyata juga digunakan, antara lain dalam konseling, pendidikan dan pengajaran, atau pun  pemasaran.
            Dalam praktek, psikoterapi dilakukan dengan percakapan dan observasi. Percakapan dengan seseorang dapat mengubah pandangan, keyakinan serta perilakunya secara mendalam, dan hal ini sering tidak kita sadari. Beberapa contohnya, antara lain seorang penakut, dapat berubah menjadi berani, atau, dua orang yang saling bermusuhan satu sama lain, kemudian dapat menjadi saling bermaafan, atau, seseorang yang sedih dapat menjadi gembira setelah menjalani percakapan dengan seseorang yang dipercayainya. Bila kita amati contoh-contoh itu, akan timbul pertanyaan, apakah sebenarnya yang telah dilakukan terhadap mereka sehingga dapat terjadi perubahan tersebut?  Pada hakekatnya, yang dilakukan ialah pembujukan atau persuasi. Caranya dapat bermacam-macam, antara lain dengan memberi nasehat, memberi contoh, memberikan pengertian, melakukan otoritas untuk mengajarkan sesuatu, memacu imajinasi, melatih, dsb.  Pembujukan ini dapat efektif asal dilakukan pada saat yang tepat, dengan cara yang tepat, oleh orang yang mempunyai cukup pengalaman.  Pada prinsipnya pembujukan ini terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbagai bidang, dan dapat dilakukan oleh banyak orang.
            Dalam dunia kedokteran, komunikasi antara dokter dengan pasien merupakan hal yang penting oleh karena percakapan atau pembicaraan merupakan hal yang selalu terjadi diantara mereka. Komunikasi berlangsung dari saat perjumpaan pertama, yaitu sewaktu diagnosis belum ditegakkan hingga saat akhir pemberian terapi. Apa pun hasil pengobatan, berhasil atau pun tidak, dokter akan mengkomunikasikannya dengan pasien atau keluarganya; hal itu pun dilakukan melalui pembicaraan. Dalam keseluruhan proses tatalaksana pasien, hubungan dokter-pasien merupakan hal yang penting dan sangat menentukan, dan untuk dapat membentuk dan membina hubungan dokter-pasien  tersebut, seorang dokter dapat mempelajarinya melalui prinsip-prinsip psikoterapi.
            Sejak berabad yang lalu, para ahli telah menyadari bahwa psikoterapi berperan penting pada penyembuhan gangguan-gangguan pikiran dan perasaan, dan dokter berperan penting dalam hal itu (A healer is a person to whom a sufferer tells things; and out of his or her listening, the healer develops the basis for therapeutic interventions. The good listener is the best physician for those who are ill in thought and feeling).  Oleh karena itu dahulu psikoterapi sering disebut sebagai the talking cure. Psikoterapi diterima sebagai ilmu dan ketrampilan tersendiri, sebagai pengembangan lebih lanjut dari prinsip-prinsip the talking cure tersebut, oleh karena terdiri atas teknik-teknik dan metode khusus yang dapat diajarkan dan dipelajari.       
            Mengapa psikoterapi penting dipelajari? Psikoterapi merupakan alat yang dapat membantu dan penting dipelajari khususnya oleh dokter dan para profesional lain yang berperan dalam kesehatan dan kesehatan jiwa, namun perlu pula diingat bahwa teknik dan metodenya yang tertentu dan bermacam-macam tersebut memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat dipelajari dan dipraktekkan dengan baik. Tentunya, dengan hanya membaca buku ajar yang singkat ini tidaklah mungkin mencakup keseluruhan hal mengenai psikoterapi, namun setidaknya prinsip-prinsip dasar psikoterapi dapat dipahami, untuk dapat diaplikasikan dalam praktek sehari-hari, sehingga dapat turut menunjang upaya peningkatan mutu pelayanan kepada pasien.

            Secara non spesifik, psikoterapi dapat menambah efektivitas terapi lain; sebagai suatu yang spesifik atau khusus, sebagaimana telah disebutkan di atas, psikoterapi merupakan rangkaian teknik yang digunakan untuk mengubah perilaku (catatan: teknik merupakan rangkaian tindakan yang dibakukan untuk mendapatkan perubahan tertentu, bukan urutan perubahan alamiah, sehingga harus dilatih untuk mencapai ketrampilan optimal). Dengan psikoterapi, seorang dokter akan dapat memanfaatkan teknik-teknik untuk meningkatkan hasil yang ingin dicapainya. Bila seorang dokter tidak mengerti atau memahaminya, sebetulnya bukan hanya tidak akan menambah efektivitas terapinya, melainkan setidaknya dapat menghindarkan hal-hal yang dapat merugikan pasiennya.  

APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN PSIKOTERAPI ?
            Banyak definisi yang dikemukakan oleh para ahli. Antara lain yaitu bahwa psikoterapi adalah terapi atau pengobatan yang menggunakan cara-cara psikologik, dilakukan oleh seseorang yang terlatih khusus, yang menjalin hubungan kerjasama secara profesional dengan seorang pasien dengan tujuan untuk menghilangkan, mengubah atau menghambat gejala-gejala dan penderitaan akibat penyakit. Definisi yang lain yaitu bahwa psikoterapi adalah cara-cara atau pendekatan yang menggunakan teknik-teknik psikologik untuk menghadapi ketidakserasian atau gangguan mental.
            Psikoterapi disebut sebagai pengobatan, karena merupakan suatu bentuk intervensi, dengan berbagai macam cara dan metode - yang bersifat psikologik - untuk tujuan yang telah disebutkan di atas, sehingga psikoterapi merupakan salah satu bentuk terapi atau pengobatan disamping bentuk-bentuk lainnya dalam ilmu kedokteran jiwa khususnya, dan ilmu kedokteran pada umumnya.  
            Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, talking cures telah digunakan orang sejak berabad yang lalu. Misalnya, Soranus dari Ephesus, seorang dokter pada abad pertama Masehi, menggunakan percakapan atau pembicaraan untuk pasien-pasiennya dan mengubah ide-ide yang irasional dari pasien depresi. Kini, dalam terapi kognitif (salah satu jenis psikoterapi), terapis menelusuri cara berpikir yang irasional pada pasien-pasien depresi dan membimbing mereka agar kemudian dapat mengatasinya sendiri.
            Bermula dari Sigmund Freud, pada akhir abad ke-sembilanbelas, yang memaparkan teori psikoanalisisnya, psikoterapi kian berkembang hingga kini. Teknik dan metode yang dicetuskan oleh Freud dapat dikatakan merupakan dasar dari psikoterapi, yang tampaknya, dalam praktek sehari-hari masih tetap digunakan sebagai dasar, apa pun teori yang dianut atau menjadi landasan atau pegangan bagi seseorang yang melakukan psikoterapi .

JENIS-JENIS PSIKOTERAPI
a. Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, psikoterapi dibedakan atas:
1. Psikoterapi Suportif:
Tujuan:
- Mendukung funksi-funksi ego, atau memperkuat mekanisme defensi yang ada
- Memperluas mekanisme pengendalian yang dimiliki dengan yang baru dan lebih baik.
- Perbaikan ke suatu keadaan keseimbangan yang lebih adaptif.
Cara atau pendekatan: bimbingan, reassurance, katarsis emosional, hipnosis, desensitisasi, eksternalisasi minat, manipulasi lingkungan, terapi kelompok.
2.  Psikoterapi Reedukatif:
Tujuan:
Mengubah pola perilaku dengan meniadakan kebiasaan (habits) tertentu dan membentuk kebiasaan yang lebih menguntungkan.
Cara atau pendekatan: Terapi perilaku, terapi kelompok, terapi keluarga, psikodrama, dll.
3. Psikoterapi Rekonstruktif:
Tujuan :
Dicapainya tilikan (insight) akan konflik-konflik nirsadar, dengan usaha untuk mencapai perubahan luas struktur kepribadian seseorang.
Cara atau pendekatan: Psikoanalisis klasik dan Neo-Freudian (Adler, Jung, Sullivan, Horney, Reich, Fromm, Kohut, dll.), psikoterapi berorientasi psikoanalitik atau dinamik.

Konseling:
            Merupakan proses membantu seseorang untuk belajar menyelesaikan masalah interpersonal, emosional dan memutuskan hal tertentu.
Fokus pada masalah klien atau pasien.
Percakapannya merupakan percakapan dua arah.
Bentuknya  terstruktur, yaitu terdiri atas: menyambut, membahas, membantu menetapkan pilihan, mengingatkan.
Bertujuan membantu klien untuk mengenal dirinya, memahami permasalahannya, melihat peluang dan mencari alternatif penyelesaiannya.
Memerlukan kemampuan melakukan komunikasi interpersonal. Konseling dilakukan dalam suasana yang menjamin rasa aman dan nyaman

Tujuan:
         - Membantu kemampuan klien atau pasien untuk mengambil keputusan yang     bijaksana dan realistik.
         - Menuntun perilaku klien/pasien agar mampu mengemban konsekuensinya
         - Memberikan informasi dan edukasi
Terdapat dua tipe konseling:
a. Pengarahan untuk mengatasi kesulitan pengambilan keputusan
b. Konseling untuk membantu  seseorang  dalam  suatu  pilihan  yang  vital

Terapi interpersonal:
Dilakukan  terhadap  pasien  yang  mengalami  konflik  saat  ini dengan pihak-pihak lain yang bermakna sehingga ia mengalami kesulitan dalam beradaptasi terhadap perubahan-perubahan dalam karier atau peran sosial atau perubahan hidup lainnya. Banyak dilakukan terhadap depresi sedang dan berat.

Intervensi krisis:
Dilakukan terhadap pasien yang sedang mengalami suatu krisis dan memerlukan tindakan segera (catatan: krisis yaitu suatu respons terhadap keadaan bahaya atau penuh risiko dan dirasakan/dihayati sebagai keadaan yang menyakitkan, agar tercapai kembali keadaan seimbang (emotional equilibrium). Dalam terapi ini kita harus secepatnya membina hubungan interpersonal yang adekuat serta mengerti peran psikodinamik dan hubungannya terhadap krisis yang terjadi. Teknik yang dilakukan yaitu reassurance, sugesti, manipulasi lingkungan dan medikasi psikotropik. Kita ajarkan kepada pasien untuk menghindari situasi yang berbahaya untuk mencegah terjadinya kembali krisis di masa yang akan  datang.

SIMPULAN
            Telah diuraikan dasar-dasar psikoterapi secara singkat dan terbatas. Psikoterapi memang merupakan ilmu dan ketrampilan tersendiri yang bermanfaat untuk pasien-pasien  dengan problem kejiwaan khususnya dan problem kesehatan pada umumnya. Ilmu dan ketrampilan ini dapat diajarkan dan dipelajari namun memerlukan waktu yang tidak sedikit, ketekunan serta kepribadian terapis yang juga tidak kalah pentingnya.
            Untuk dokter umum  yang bertugas sebagai ujung tombak dalam sistem pelayanan kesehatan di tanah air, psikoterapi penting untuk dipelajari, walaupun memerlukan waktu yang khusus dan cukup lama untuk mempelajari kembali karena terdiri atas teknik-teknik dan metode tertentu. Oleh karena itu, minimal konseling dan psikoterapi suportif hendaknya dapat dipahami dengan baik. Psikoterapi dapat menambah efektivitas terapi lain; bila serang dokter tidak memahaminya, bukan hanya tidak akan menambah efektivitas terapinya, melainkan setidaknya diharapkan dapat menghindarkan hal-hal yang dapat merugikan pasiennya.
            Dalam melakukan wawancara dalam praktek sehari-hari dengan pasien, beberapa hal yang perlu diingat antara lain bahwa wawancara mengandung makna terapeutik selain untuk pengambilan data dalam upaya penegakan diagnosis. Komunikasi antara dokter-pasien adalah penting. Dalam berhadapan dengan pasien, hendaknya kita senantiasa membina hubungan interpersonal dengan optimal, mengerti dan sadar apa yang kita bicarakan, bagaimana cara penyampaiannya, bilamana, serta dalam konteks apa kita menyampaikan pernyataan atau pertanyaan-pertanyaan kita. Hendaknya kita perlu belajar memantau hal-hal tersebut agar ucapan-ucapan dan sikap kita terhadap pasien sedapat-dapatnya beralasan profesional dan sesedikit mungkin tercampur oleh unsur-unsur yang berasal dari respons emosional subyektif kita.
            Ketrampilan  yang  perlu  dilatih terus-menerus ialah dalam mendengarkan dengan cermat (empathic listening). Dengan mendengar dengan teliti, disertai observasi yang cermat, serta didasari oleh pengetahuan yang memadai tentang psikologi, psikopatologi dan proses-proses kejiwaan, kita akan mendapat gambaran yang tepat dan menyeluruh tentang pasien.
            Setelah melakukan wawancara dengan pasien, hendaknya kita dapat membuat konklusi tentang keadaan mental pasien {seberapa cemas, apakah ia dalam keadaan depresi, bingung (confuse), marah, atau bahkan tidak mengerti harus berbuat apa}; setelah itu tentunya kita harus mengetahui langkah apa yang harus kita perbuat untuk menolongnya.

PUSTAKA ACUAN
1.      Kaplan H.I. & Sadock BJ Psychotherapies, in Comprehensive Textbook of Psychiatry, Chapter 31, Eight Edition, Vol.2, William & Wilkins, Baltimore, 2004,  1767-70.
2.      Gabbard G.O. Individual Psychotherapy, in Psychodynamic Psychiatry Clinical Practice - The DSM - IV Edition, American Psychiatric Press, 2000, 91-5.
3.      Lubis DB & Elvira SD. Penuntun Wawancara Psikodinamik dan Psikoterapi. Balai Penerbit FKUI, 2005: 10-12
4.      Elvira SD. Kumpulan Makalah Psikoterapi, Balai Penerbit FKUI, 2005: 5,7, 9.
5.      Gabbard GO. Long-Term Dynamic Psychotherapy, American Psychiatric Press, 2004, 91-5.
6.      Jackson SW. The Listening Healer in the History of Psychological Healing. Am J of Psychiatry: Dec. 1992
7.      Green B. Psychotherapy, in Problem-based Psychiatry, Churchill Livingstone, Medical Division of Pearson Professional Ltd., 1996, 140-3.
8.      Wolberg L.R. What is Psychotherapy?  in  The Technique os Psychotherapy, Part One, Grune & Stratton, New York, San Fransisco, London,1977,  3-4, 15-6
9.      Lubis D.B. Wawancara  Psikiatrik, dalam Pengantar  Psikiatri  Klinik, Balai  Penerbit  FKUI,  1989, 58-9, 97, 106, 112.
10.  Janis I.L. Problems of Short-term Counseling, in Short-term Counseling, Yale University Press, New Haven and London, 1983, 8-10.
11.  Karasu T.B.  Psychotherapies:  An Overview,  American J. Psychiatry, 134 : 8, 1977,  857- 8.
12.  Weissman M.M. & Markowitz, J.C., Interpersonal Psychotherapy, Current status, Arch. Gen. Psychiatry, 51, 1994, 599 - 601. 
13. Makalah Psikoterapi oleh SYLIVIA D. ELVIRA 14/04/2014

Minggu, 09 Maret 2014

antara setara dan melengkapi

tidak sedikit perempuan yang protes (berarti banyak yaa...) ga terkecuali yang muslimah juga .. hingga akhirnya minta setara dengan yang laki-laki ..

Wanita auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki .. soalnya Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pasti itulah intan permata bandingannya dengan seorang wanita ..

Wanita perlu minta ijin dari suami apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya .... Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada Ibunya 3 kali lebih utama daripada kepada Bapaknya ????!!

Wanita menerima warisan lebih sedikit dari pada lelaki .. tetapi tahukah bahwa harta itu akan menjadi miliknya dan tidak perlu diserahkan kepada suami? Sementara suami apabila menerima warisan ia wajib juga menggunakan hartanya untuk istri dan anak-anaknya ???

Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak .. tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan oleh segala mahluk, malaikat dan seluruh mahluk Allah dimuka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya ..

Diakherat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita, yaitu : Istrinya, Ibunya, Anak Perempuannya dan Saudara Perempuannya. Artinya , bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki, yaitu : suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya. ...

Seorang Wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui pintu mana saja yang disukainya cukup dengan 4 Syarat saja, yaitu : Sholat 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, taat kepada Suaminya dan menjaga Kehormatannya ..

Seorang lelaki wajib berjihad di jalan Allah, sementara bagi wanita jika taat kepada suami serta menunaikan tanggung jawabnya kepada ALLOH SWT, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad di jalan Alloh tanpa perlu mengangkat senjata ..

Masya'Allah… ! demikian sayangnya ALLAH SWT kepada wanita …..

Yakinlah bahwa sebagai Dzat yang Maha Pencipta sudah pasti Allah Maha Tahu akan segala yang diciptakan-Nya sehingga peraturan-Nya adalah yang terbaik bagi manusia ..

wanita itu sudah mulia, semakin mulia dengan ISLAM .. maka harusnya tidak perlu protes menuntut yang lebih, ini pun karunia yan sudah LEBIIIHHH dari cukup ..

TIDAK PERLU ADA KESETARAAN antara Laki-laki dan perempuan.. masing2 sudah ada tugas untuk saling melengkapi.. dan bagi yang suka protes dan masih menggaungkan kesetaraan gender!

ASLI sia-sia, karena itu teori SAMPAH peradaban barat, justru menghinakan perempuan itu sendiri .. maka sungguh bahagianya ia yang muslimah ..

Sabtu, 09 November 2013

Mengendalikan dalam Fungsi management

MATA KULIAH : PSIKOLOGI MANAJEMEN
KODE MATAKULIAH / SKS = IT - 051235 / 2 SKS
MINGGU KE -Delapan :  Mengendalikan dalam Fungsi management

Controlling (Pengawasan)
Pengertian Controlling
Controlling atau pengawasan adalah penemuan dan penerapan  cara dan alat utk menjamin bahwa rencana telah dilaksanakan  sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Tahap-tahap Pengawasan
Tahap-tahap pengawasan terdiri atas:
(1) penentuan standar;
(2) penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan;
(3) pengukuran pelaksanaan kegiatan;
(4) pembanding pelaksanaan dengan standar dan analisa
penyimpangan; dan

(5) pengambilan tindakan koreksi bila diperlukan. 

Tipe-tipe Pengawasan
(1) Feedforward Control dirancang untuk mengantisipasi masalah-masalah dan penyimpangan dari standar tujuan dan memungkinkan koreksi sebelum suatu kegiatan tertentu diselesaikan.
(2) Concurrent Control merupakan proses dalam aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui dulu sebelum suatu kegiatan dilanjutkan atau untuk menjamin ketepatan pelaksanaan suatu kegiatan.
(3) Feedback Control mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah dilaksanakan.

sumber site : http://eprints.uny.ac.id/9870/2/BAB%202%20-%2006209241002.pdf

ACTUATING DALAM MANAGEMENT

MATA KULIAH : PSIKOLOGI MANAJEMEN
KODE MATAKULIAH / SKS = IT - 051235 / 2 SKS
MINGGU KE ENAM-TUJUH : ACTUATING DALAM MANAGEMENT

Pengertian Actuating (Penggerakan)

Fungsi-fungsi manajemen menurut George R. Terry (Disingkat POAC) dalam Mulyono (2008:23), yaitu “planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (penggerakan),controlling (pengendalian)”. Dalam hal ini, George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa,
“Actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.”
Jadi actuating adalah usaha menggerakkan seluruh orang yang terkait, untuk secara bersama-sama melaksanakan program kegiatan sesuai dengan bidang masing-masing dengan cara yang terbaik dan benar.

Actuating merupakan fungsi yang paling fundamental dalam manajemen, karena merupakan pengupayaan berbagai jenis tindakan itu sendiri, agar semua anggota kelompok mulai dari tingkat teratas sampai terbawah, berusaha mencapai sasaran organisasi sesuai rencana yang telah ditetapkan semula, dengan cara terbaik dan benar.

Memang diakui bahwa usaha-usaha perencanaan dan pengorganisasian bersifat vital, tetapi tidak akan ada output konkrit yang akan dihasilkan sampai kita mengimplementasi aktivitas-aktivitas yang diusahakan dan yang diorganisasi.

Untuk maksud itu maka diperlukan tindakan penggerakan (actuating) atau usaha untuk menimbulkan action. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam penggerakan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika :
(1) merasa yakin akan mampu mengerjakan,
(2) yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya,
(3) tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting, atau mendesak,
(4) tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan (5) hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis.

Fungsi dan Peranan Actuating (Penggerakan)
Pertama, adalah melakukan pengarahan (commanding), bimbingan (directing) dan komunikasi (communication).
Dijelaskan pula bahwa pengarahan dan bimbingan adalah kegiatan menciptakan, memelihara, menjaga/mempertahankan dan memajukan organisasi melalui setiap personil, baik secara struktural maupun fungsional, agar langkah operasionalnya tidak keluar dari usaha mencapai tujuan organisasi.

Kedua, penggerakan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya.

Sumber buku :
Mulyono. 2008. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

PENGORGANISASIAN DAN STRUKTUR MANAGEMENT

MATA KULIAH : PSIKOLOGI MANAJEMEN
KODE MATAKULIAH / SKS = IT - 051235 / 2 SKS
Minggu ke- Lima : Pengorganisasia dan struktur manageman

PENGORGANISASIAN  DAN STRUKTUR ORGANISASI
Pengorganisasian (organizing) adalah suatu proses  mengatur SDM dan sumber daya lainnya dalam  menjalankan strategi perusahaan untuk mencapai  tujuan organisasi. Pengorganisasian akan menghasilkan struktur formal organisasi. Aspek utama penyusunan struktur organisasi:
1. Departementalisasi: pengelompokan kegiatan  kerja organisasi agar kegiatan yang sejenis dan  saling berhubungan dapat dikerjakan bersama
2.  Pembagian kerja: pemerincian tugas agar setiap individu dalam organisasi bertanggung jawab dalam  pelaksanaan sekumpulan kegiatan tertentu

STRUKTUR ORGANISASI
Struktur organisasi (organization structure)  adalah struktur yang menggambarkan sistem  tugas, hubungan pelaporan dan komunikasi  antar individu dan kelompok dalam organisasi.
1. Struktur formal adalah struktur resmi organisasi  yang menggambarkan fungsi yang diharapkan  dalam organisasi
2. Struktur informal atau “struktur bayangan”  adalah struktur tidak resmi -namun memegang  peran penting- yang mengatur hubungan antar anggota organisasi.

Jenis-jenis Struktur Organisasi
a.      Struktur Fungsional
b.      Struktur Divisional
c.       Struktur Matriks

Struktur Fungsional
Struktur fungsional mengelompokan fungsi-fungsi yang sama atau kegiatan yang sejenis untuk membentuk suatu kegiatan organisasi. Individu yang memiliki keahlian yang sama dikelompokan bersama.
Struktur fungsional terdiri dari fugsi-fungsi utama organisasi yaitu : produksi , pemasaran, keuangan, dan personalia/SDM.

Kelebihan Struktur Fungsional diantaranya :
1.      Menciptakan efisiensi melalui spesialisasi
2.      Memusatkan keahlian organisasi
3.      Memudahkan manajer dalam melakukan
4.      monitoring dan mengevaluasi kinerja karyawan
5.      Memerlukan koordinasi internal yang minimum
6.      Meminimumkan duplikasi personalia dan peralatan dari segi biaya
7.      Sesuai untuk lingkungan yang stabil

Kelemahan Struktur Fungsional :
1.      Menimbulkan kesulitan dalam komunikasi dan konflik antar fungsi
2.      Menyebabkan kemacetan pelaksanaan tugas yang sifatnya berurutan
3.      Memberikan respon yang lebih lambat terhadap perubahan
4.      Anggota fungsi hanya berfokus pada kepentingan tugas-tugasnya sehingga cenderung berpandangan sempit dan dapat merugikan organisasi secara keseluruhan

Struktur Divisional
1.      Dengan struktur fungsional, organisasi  membentuk divisi-divisi semi otonom, dimana setiap divisi merancang, memproduksi dan memasarkan produknya sendiri.
2.      Masing-masing divisi mengembangkan strategi tingkat unit bisnis dan memiliki fungsi produksi, pemasaran, akuntansi dan fungsi lainnya.
3.      Manajer fungsi melapor pada manajer divisi yang kemudian melapor pada manajer korporat.
4.      Pembagian divisi pada umumnya dilakukan atas dasar produk, geografis, dan pasar/pelanggan.

Beberapa kelebihan struktur divisional adalah :
1.      Lebih mudah dalam mengelolanya karena memecah organisasi menjadi divisi yang lebih kecil
2.      Memungkinkan pembuatan keputusan strategis yang lebih luas dan konsentrasi penuh pada tugas-tugas
3.      Tempat latihan yang baik bagi para manager strategik
4.      Manager dapat memilih struktur (produk, geografis, pasar) yang paling sesuai divisinya
5.      Sesuai untuk lingkungan yang cepat berubah, tanggapan yang cepat pada perubahan karena adanya kordinasi dan wewenang pada tingkat yang sesuai.

Beberapa kelemahan Struktur Divisional
1.      Memungkinkan berkembangnya persaingan disfungsional antar sumber daya organisasi dan konflik antara tugas-tugas & prioritas-prioritas.
2.      Kepentingan divisi mungkin ditempatkan di atas kepentingan organisasi secara keseluruhan
3.      Kebijakan divisi tidak konsisten dengan kebijakan  divisi lain maupun dengan kebijakan organisasi.
4.      Timbulnya masalah dalam alokasi sumber daya dan distribusi biaya-biaya perusahaan